ID EN

Bedah Taktik Inggris vs Argentina: Mengapa Spanyol Mampu Menjinakkan Prancis

Rabu, 15 Juli 2026 | 19:59

Penulis: Rojes Saragih

Sentul, Bogor - Spanyol menjadi tim pertama yang memastikan tempat di final Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Prancis 2-0 di semifinal. Namun kemenangan itu tidak hanya ditentukan oleh dua gol yang dicetak Mikel Oyarzabal melalui titik penalti dan Pedro Porro pada babak kedua. 

Lebih dari itu, La Roja memperlihatkan bagaimana organisasi permainan, penguasaan ruang, dan disiplin taktik mampu meredam kekuatan individu di panggung sepak bola tertinggi dunia.

Sepanjang pertandingan, Spanyol mengendalikan ritme permainan dan nyaris tidak memberi kesempatan kepada Prancis untuk mengembangkan identitas sepak bolanya. Lini depan yang dihuni Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise dibuat kehilangan ruang sehingga gagal menciptakan ancaman berarti. 

Hasilnya, Spanyol mencatat clean sheet keenam dari tujuh pertandingan sepanjang turnamen sekaligus mengukuhkan diri sebagai tim dengan pertahanan paling solid di Piala Dunia 2026.

Keberhasilan ini dibangun dari dominasi di lini tengah. Rodri kembali memainkan peran sebagai pusat distribusi bola sekaligus pengatur tempo permainan, sementara Dani Olmo berulang kali menemukan ruang di half-space untuk menghubungkan lini tengah dan lini depan. 

Ketika kehilangan bola, para pemain Spanyol langsung melakukan counter-press, membuat Prancis hampir tidak pernah mampu melancarkan transisi cepat yang selama ini menjadi kekuatan utama tim asuhan Didier Deschamps.

Yang tak kalah menarik, Spanyol tidak memilih menjaga Mbappe secara individual. Mereka justru memutus jalur distribusi bola sejak fase build-up, memaksa kapten Prancis itu menerima bola jauh dari area berbahaya. 

Pendekatan itu membuat kualitas individu Prancis kehilangan pengaruh, sementara struktur permainan Spanyol tetap terjaga selama 90 menit.

Analisis mengenai keberhasilan Spanyol menjadi salah satu topik utama Podcast ITSMe yang menghadirkan pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Yusuf Kurniawan (Bung Yuke). 

Dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor, keduanya membedah bagaimana keseimbangan antara penguasaan bola, pressing kolektif, dan disiplin posisi menjadikan Spanyol sebagai tim paling komplet di turnamen ini.

Perhatian berikutnya tertuju pada semifinal kedua yang mempertemukan Inggris dan Argentina, laga yang akan menentukan lawan Spanyol di partai puncak. 

Pertandingan ini diperkirakan menjadi benturan dua pendekatan sepak bola modern. Inggris racikan Thomas Tuchel mengandalkan pressing tinggi, intensitas tanpa bola, dan transisi vertikal yang cepat. 

Sebaliknya, Argentina lebih mengutamakan kontrol tempo permainan melalui Lionel Messi, dengan dukungan mobilitas Julián Álvarez dan kombinasi antarlini yang menjadi ciri khas Lionel Scaloni.

Karena itu, duel ini diyakini tidak hanya ditentukan oleh aksi Lionel Messi atau Jude Bellingham. Kunci pertandingan justru berada di lini tengah, terutama dalam perebutan Zona 14 di depan kotak penalti, area yang menjadi sumber lahirnya peluang paling berbahaya dalam sepak bola modern. 

Tim yang mampu memenangkan duel transisi, mengendalikan ruang, dan memaksakan ritme permainannya diperkirakan akan menyusul Spanyol ke final Piala Dunia 2026.