Piala Dunia 2026 menghadirkan wajah baru dalam persaingan menuju fase gugur. Menjelang berakhirnya fase grup, tidak semua tim harus menjadi juara atau runner-up grup untuk tetap bertahan. Berkat format 48 peserta, delapan tim peringkat ketiga terbaik juga berhak melaju ke babak 32 besar, membuat setiap pertandingan menyimpan arti yang jauh lebih besar.
Dalam pembahasan podcast ITSMe, Korea Selatan, Swiss, Kanada, Jerman, Prancis, dan Norwegia menjadi representasi dari beragam skenario yang dihadapi peserta Piala Dunia. Ada tim yang melaju mulus sejak awal, ada yang tetap lolos meski sempat terpeleset, ada pula yang masih harus berjuang hingga laga terakhir atau menunggu hasil pertandingan dari grup lain.
Swiss memperlihatkan bagaimana konsistensi menjadi kunci. Tampil stabil sepanjang fase grup, mereka menutup persaingan sebagai juara Grup B dengan tujuh poin setelah mengalahkan Kanada 2-1 pada pertandingan terakhir. Posisi tersebut memastikan Swiss lolos tanpa harus bergantung pada perhitungan klasemen tim peringkat ketiga.
BACA JUGA
Piala Dunia 2026 Kejar Rekor Baru, dari Stadion Raksasa hingga Fenomena Sepatu Pink
Piala Dunia 2026: Belanda dan Spanyol Kejar Tiga Poin, Jerman Waspadai Ancaman Pantai Gading
Ujian Awal Favorit Juara Piala Dunia 2026: Prancis Hadapi Senegal, Argentina Ditantang Aljazair
Kanada menempuh jalur berbeda. Meski kalah dari Swiss di laga penutup, enam poin yang dikumpulkan cukup mengantar tuan rumah finis sebagai runner-up Grup B dan mengamankan tiket otomatis ke babak 32 besar. Hasil itu menunjukkan bahwa finis satu tingkat lebih tinggi di klasemen masih menjadi jalur paling aman menuju fase gugur.
Jerman juga memberi gambaran bahwa perjalanan menuju babak 32 besar tidak selalu berjalan sempurna. Kekalahan 1-2 dari Ekuador pada pertandingan terakhir Grup E tidak menggagalkan langkah Die Mannschaft karena mereka tetap mempertahankan posisi juara grup berkat keunggulan selisih gol.
Sebaliknya, kemenangan tersebut membuka peluang Ekuador melaju melalui jalur peringkat ketiga terbaik, memperlihatkan bagaimana setiap poin dan selisih gol menjadi sangat berharga dalam format baru Piala Dunia.
Sementara itu, persaingan di Grup I masih menyisakan ketegangan. Prancis dan Norwegia sama-sama mengoleksi enam poin menjelang laga terakhir. Perebutan posisi puncak grup bukan hanya soal prestise, tetapi juga menentukan jalur yang akan ditempuh menuju babak 32 besar dan potensi lawan yang dihadapi pada fase gugur.
Di sisi lain, Korea Selatan menjadi contoh tim yang harus menunggu peluang terakhir. Wakil Asia itu mengakhiri fase grup di posisi ketiga Grup A dengan tiga poin dan selisih gol minus satu. Peluang mereka bertahan di Piala Dunia tidak lagi bergantung pada hasil sendiri, melainkan pada klasemen delapan peringkat ketiga terbaik yang mempertemukan tim-tim dari grup berbeda dalam persaingan tidak langsung.
Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana format baru Piala Dunia 2026 menghadirkan beragam jalan menuju fase gugur. Ada yang melaju sebagai juara grup, ada yang mengamankan tiket lewat posisi runner-up, ada yang harus menjaga keunggulan selisih gol, dan ada pula yang menggantungkan harapan pada klasemen peringkat ketiga.
Dinamika serupa juga terjadi di grup-grup lain, menegaskan bahwa setiap pertandingan kini memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Artikel ini merupakan rangkuman pembahasan podcast ITSMe bersama pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Erwin Fitriansyah. Podcast yang dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor ini membahas berbagai skenario yang dihadapi negara-negara peserta dalam perjalanan menuju babak 32 besar Piala Dunia 2026.










