Sentul, Bogor - Semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Inggris dan Argentina dipastikan menjadi salah satu laga paling dinanti di turnamen ini. Namun, jika menilik perjalanan kedua tim di babak perempat final, keduanya datang dengan modal yang berbeda.
Argentina terlihat semakin matang sebagai sebuah tim, sementara Inggris masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah meski berhasil mengamankan tiket ke empat besar.
Analisis mengenai duel dua raksasa sepak bola dunia ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam Podcast ITSMe bersama pengamat sepak bola Ronny Pangemanan dan Kesit Budi Handoyo.
BACA JUGA
Prancis, Spanyol, Argentina, Inggris Favorit Semifinal, Norwegia Jadi Ancaman
Norwegia vs Inggris: Three Lions Lebih Dijagokan ke Semifinal Piala Dunia 2026
Lionel Messi Gagal Dua Penalti Beruntun di Piala Dunia 2026, Argentina Perlu Algojo Baru?
Dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor, diskusi berkembang dari hasil pertandingan perempat final hingga membaca peluang kedua tim menjelang semifinal.
Inggris melaju ke semifinal setelah mengalahkan Norwegia 2-1 melalui babak perpanjangan waktu. Jude Bellingham menjadi pembeda lewat dua gol yang memastikan langkah The Three Lions.
Namun kemenangan itu tidak sepenuhnya menghadirkan rasa puas. Pelatih Thomas Tuchel justru mengakui timnya sedikit dinaungi keberuntungan dan menilai anak asuhnya beberapa kali kehilangan kontrol permainan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Inggris masih belum menemukan konsistensi yang dibutuhkan untuk menghadapi laga sebesar semifinal.
Sepanjang pertandingan, Norwegia mampu memberi tekanan yang membuat Inggris tidak leluasa mengembangkan permainan. Kualitas individu para pemain Inggris memang mampu mengubah jalannya pertandingan, tetapi secara kolektif mereka belum selalu mampu mengendalikan tempo dan ritme permainan selama 120 menit.
Di sisi lain, Argentina juga dipaksa bekerja keras sebelum menundukkan Swiss 3-1 pada babak tambahan. Swiss tampil disiplin dan berhasil membuat lini serang Argentina frustrasi dalam waktu yang lama.
Namun, di tengah tekanan itulah pengalaman tim asuhan Lionel Scaloni terlihat. Argentina tetap sabar menjaga organisasi permainan hingga akhirnya Julián Álvarez memecah kebuntuan, disusul gol Lautaro Martínez yang memastikan kemenangan. Lionel Messi kembali memainkan peran penting sebagai pengatur ritme permainan dan motor serangan tim.
Jika dibandingkan, perjalanan kedua tim menuju semifinal memperlihatkan karakter yang berbeda. Inggris lebih sering mengandalkan kemampuan individu para pemainnya untuk menyelesaikan situasi sulit.
Sebaliknya, Argentina memperlihatkan kekuatan kolektif, ketenangan, dan kesabaran dalam membaca momentum pertandingan. Mereka tidak selalu tampil dominan, tetapi mampu memanfaatkan peluang ketika lawan mulai kehilangan konsentrasi.
Karena itu, semifinal nanti bukan sekadar mempertemukan Lionel Messi dengan Jude Bellingham atau Harry Kane. Laga ini juga menjadi pertarungan dua pendekatan berbeda di bangku cadangan.
Thomas Tuchel dikenal berani mengubah ritme permainan melalui intensitas dan pressing, sedangkan Lionel Scaloni lebih mengutamakan keseimbangan, kesabaran, dan kemampuan tim membaca jalannya pertandingan.
Rivalitas panjang Inggris dan Argentina memang akan kembali menjadi latar yang menarik. Namun, pertandingan kali ini lebih layak dilihat sebagai adu kualitas dua generasi pemain yang berbeda.
Jika Inggris ingin melangkah ke final, mereka harus mampu menjawab keraguan mengenai konsistensi permainan. Sementara itu, Argentina datang dengan modal yang tidak kalah penting dalam turnamen singkat seperti Piala Dunia, yakni pengalaman menghadapi tekanan dan keyakinan. Mereka selalu mampu menemukan jalan keluar ketika pertandingan memasuki momen paling menentukan.










