ID EN

Diserbu 6.200 Pengunjung Sehari, Museum Tsunami Aceh Jadi Magnet Wisata Edukasi

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:00

Penulis: Respaty Gilang

Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh.
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Jika berkunjung ke Banda Aceh, ada satu destinasi yang hampir selalu masuk daftar wajib para pelancong, yakni Museum Tsunami Aceh. Tidak hanya menjadi ikon wisata sejarah di Tanah Rencong, museum ini juga menghadirkan pengalaman mendalam yang menggabungkan edukasi, refleksi, dan nilai kemanusiaan.

Saat masa libur panjang, antusiasme wisatawan terhadap destinasi ini kembali terlihat. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia hingga Wisatawan Mancanegara memadati Museum Tsunami Aceh untuk menyaksikan berbagai koleksi yang mengabadikan salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern Indonesia, yakni tsunami Aceh 2004.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Tsunami Aceh, M Syahputra Azwar, mengatakan bahwa museum langsung dipenuhi pengunjung pada hari pertama pembukaan setelah masa libur Hari Raya.

Data pengelola menunjukkan jumlah pengunjung pada Sabtu, 30 Mei 2026, mencapai 6.201 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.724 merupakan pengunjung dewasa, 1.356 anak-anak, serta 121 Wisatawan Asing.

Tingginya angka kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Museum Tsunami Aceh tidak hanya menjadi tempat mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu Destinasi Wisata edukasi unggulan di Indonesia.

Di dalam museum, pengunjung dapat menjelajahi beragam koleksi yang berkaitan dengan peristiwa tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Mulai dari foto dokumentasi, rekaman video, artefak, hingga ruang-ruang interaktif yang dirancang untuk membawa pengunjung memahami dahsyatnya bencana yang pernah melanda Aceh.

"Pertunjukan ini bertujuan memberikan gambaran peristiwa tragis tsunami lampau sebagai media pembelajaran di masa yang akan datang, serta memberikan edukasi mendalam mengenai dampak dahsyat dan upaya pemulihan yang telah dilakukan setelahnya," katanya.

Selain menjadi tempat belajar mengenai sejarah bencana, museum yang dirancang oleh arsitek ternama Indonesia ini juga dikenal memiliki arsitektur unik dan sarat makna. Beberapa area seperti lorong tsunami dan ruang memorial menjadi titik yang paling sering menarik perhatian wisatawan karena mampu menghadirkan suasana emosional yang mendalam.

Salah satu pengunjung, Cut Irma, mengaku sengaja datang bersama keluarga untuk memperkenalkan sejarah tsunami Aceh kepada anak-anaknya.

Menurutnya, kunjungan ke museum menjadi cara yang efektif untuk memberikan pemahaman mengenai peristiwa penting yang pernah terjadi di daerah tersebut.

Ia menjelaskan saat berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, anak-anak terlihat sangat antusias menyaksikan seluruh koleksi foto dan video yang dipamerkan dalam museum tersebut.

Pengalaman serupa juga dirasakan Abrar, wisatawan asal Aceh Selatan, yang memanfaatkan momen libur Hari Raya untuk berwisata bersama keluarga ke Banda Aceh.

"Kami ke sini dalam rangka liburan bersama keluarga yang kami isi dengan berkunjung ke Museum Tsunami Aceh dan paling khusus ke Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh."

Bagi para traveler, mengunjungi Museum Tsunami Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman menjadi kombinasi perjalanan yang menarik. Keduanya bukan hanya ikon wisata Banda Aceh, tetapi juga simbol ketangguhan masyarakat Aceh dalam bangkit setelah tragedi besar yang mengguncang dunia lebih dari dua dekade lalu.

Melalui pengalaman yang ditawarkan, Museum Tsunami Aceh mengingatkan bahwa Perjalanan Wisata tidak selalu soal menikmati pemandangan indah. Ada kalanya sebuah destinasi mengajak pengunjung untuk belajar, merenung, sekaligus menghargai nilai kemanusiaan yang lahir dari sebuah peristiwa bersejarah.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!