ID EN

Desa Osing Kemiren Masuk Jaringan Wisata Dunia Versi UN Tourism

Selasa, 21 Oktober 2025 | 07:47

Penulis: Respaty Gilang

Desa Kamitren
Desa Kamitren.
Sumber: RRI

Di kaki Gunung Ijen, terselip sebuah desa yang seolah berhenti di waktu lampau, namun kini justru melesat ke masa depan. Desa Wisata Adat Osing Kemiren di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, resmi masuk dalam Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025) dari United Nations Tourism, badan pariwisata di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Prestasi ini bukan sekadar penghargaan, tapi pengakuan dunia terhadap kekuatan budaya lokal yang hidup dan beradaptasi di tengah modernitas.

Kabar membanggakan ini disambut penuh rasa syukur oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

“Prestasi ini adalah buah dari semangat gotong royong, dan komitmen kuat masyarakat Banyuwangi, khususnya warga Kemiren dalam melestarikan budaya serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan,” ujar Ipuk di Banyuwangi, Minggu, 19 Oktober 2025.

Menurut Ipuk, keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pariwisata tak melulu soal destinasi modern dan teknologi canggih. 

“Desa Kemiren menunjukkan bahwa desa dengan akar budaya yang kuat bisa maju dan mendunia tanpa kehilangan jati dirinya, dan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memperkuat ekosistem pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis budaya,” tambahnya.

Kemiren: Di Mana Tradisi Osing Tak Pernah Padam

Kemiren adalah jantungnya suku Osing, penduduk asli Banyuwangi yang dikenal sebagai “wong Blambangan”. Di sini, tradisi bukan sekadar ritual tahunan, tapi napas kehidupan. Rumah-rumah kayu dengan arsitektur khas, irama gamelan, hingga aroma kopi khas Kemiren jadi bagian dari keseharian yang memikat wisatawan.

Salah satu daya tarik utama desa ini adalah Ritual Tumpeng Sewu, tradisi syukuran masyarakat yang digelar setiap bulan Suro. Ribuan tumpeng tersaji di sepanjang jalan desa bukan sekadar pesta makan, tapi juga simbol doa, kebersamaan, dan keberkahan.

Selain itu, Kemiren juga punya Festival Ngopi Sepuluh Ewu, di mana setiap pengunjung bisa menyeruput kopi di seribu cangkir sambil bercengkerama dengan warga. Bukan kafe hipster, tapi atmosfer hangat yang membuat siapa pun merasa seperti pulang.

Dari Desa Tradisi ke Jejaring Dunia

Pengakuan dari UN Tourism ini diumumkan dalam Best Tourism Villages by UN Tourism 2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting di Huzhou, Cina, pada 17 Oktober 2025. Ajang tersebut diikuti lebih dari 270 desa wisata dari 65 negara, dan hanya 72 desa yang akhirnya terpilih setelah melalui seleksi ketat oleh dewan ahli independen.

Penilaian meliputi berbagai aspek, mulai dari pelestarian sumber daya alam dan budaya, keberlanjutan ekonomi, integrasi rantai nilai lokal, hingga tata kelola dan keamanan wisatawan.

Masuknya Kemiren ke dalam jaringan ini menandai langkah penting: desa yang berakar kuat pada tradisi kini menjadi bagian dari gerakan global untuk rural tourism yang berkelanjutan dan berdaya saing internasional.

Menjaga Akar, Menyapa Dunia

Salah satu kekuatan Kemiren terletak pada cara warganya menjaga keseimbangan antara modernisasi dan tradisi. Mereka tidak menolak perubahan, tapi menyesuaikannya dengan nilai-nilai lokal. Homestay di Kemiren kini makin banyak diminati wisatawan mancanegara, namun desain dan cara pengelolaannya tetap mencerminkan semangat Osing yang ramah dan bersahaja.

Inilah yang membuat Kemiren bukan sekadar destinasi, tapi cerita hidup tentang bagaimana budaya bisa tetap relevan tanpa kehilangan esensinya. Sebuah pesan kuat bagi generasi muda Indonesia: global bukan berarti kehilangan lokalitas.

Dengan pengakuan dari UN Tourism, Kemiren kini sejajar dengan desa-desa ikonik lain di dunia yang berhasil memadukan heritage alam, dan komunitas dalam harmoni yang langka.