ID EN

Menpora Jelaskan Alasan Timnas Indonesia Belum Lolos ke Piala Dunia 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 10:59

Penulis: Arif S

Penyerang timnas Indonesia Ole Romeny
Arsip - Penyerang timnas Indonesia Ole Romeny.
Sumber: Antara Foto/Fauzan

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait belum berhasilnya Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026. Menurut Erick, pernyataan tersebut bukan sekadar menyoroti sepak bola, melainkan menjadi pengingat pentingnya pembangunan olahraga nasional melalui pembinaan berkesinambungan.

Keresahan Presiden Prabowo sebelumnya disampaikan saat peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, 9 Juli. Dalam kesempatan itu, Presiden menyinggung harapannya agar Indonesia mampu bersaing lebih baik di panggung olahraga dunia, termasuk di ajang Piala Dunia.

Erick menilai pesan Presiden merupakan bentuk perhatian serius terhadap kemajuan olahraga Indonesia sekaligus dorongan agar seluruh cabang olahraga memiliki sistem pembinaan yang lebih kuat.

"Bapak Presiden (Prabowo Subianto) secara simbolik pasti maksud dan tujuannya tidak hanya sepak bola, tetapi seluruh olahraga yang memberikan kontribusi yang luar biasa untuk citra dan kehormatan bangsa," ujar Erick Thohir.

Menurut Menpora, Presiden memahami prestasi internasional tidak dapat diraih melalui program instan. Dibutuhkan proses panjang, pembinaan konsisten, serta dukungan anggaran berkelanjutan agar atlet mampu bersaing di level dunia.

Erick menegaskan keberhasilan sebuah negara di ajang olahraga internasional selalu diawali dengan pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang dipersiapkan sejak jauh hari.

"Intinya tidak ada program keolahragaan jangka pendek, itu kan kira-kira yang beliau (Presiden Prabowo Subiantio) sampaikan gitu. Dan alhamdulillah beliau juga menyebutkan Pak Menkeu, nah kan jadi sesuai gitu," katanya merujuk pada pentingnya dukungan anggaran untuk memenuhi kebutuhan pemusatan latihan jangka panjang.

Pernyataan itu sekaligus menjadi penjelasan mengapa Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menembus level tertinggi sepak bola dunia. Menurut Erick, pembangunan prestasi tidak hanya bergantung pada hasil pertandingan, tetapi juga sistem pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa pendekatan serupa juga diterapkan dalam persiapan atlet untuk berbagai ajang internasional lainnya, mulai dari SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade.

"Tidak mungkin persiapan Olimpiade 2032 baru disiapkan 2031, enggak mungkin. Tahun depan SEA Games, enggak ada pelatnas tahun ini, enggak mungkin. Asian Games tinggal September, tidak mungkin pelatnas berhenti harus jalan," katanya.

Erick memastikan Kementerian Pemuda dan Olahraga akan terus mendorong pelaksanaan pelatnas jangka panjang agar atlet Indonesia memiliki cukup waktu untuk berkembang dan mampu mengharumkan nama bangsa di berbagai kompetisi internasional.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!