Revitalisasi Kota Tua Jakarta: Menghidupkan Kembali Napas Sejarah dan Kemanusiaan
Rabu, 22 Oktober 2025 | 13:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara
Di bawah langit Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, Kota Tua masih berdiri gagah meski cat di dindingnya mulai pudar. Revitalisasi Kawasan Bersejarah akan kembali digerakkan, bukan sekadar untuk mempercantik wajahnya, tetapi untuk menghidupkan lagi jiwanya.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, memiliki pandangan tentang masa depan Kota Tua. Ia membayangkan Alun-Alun Fatahillah bukan hanya menjadi tempat wisata semata, melainkan ruang publik yang inklusif dan hidup.
“Saya membayangkan alun-Alun Fatahillah tidak hanya dipenuhi wisatawan, tetapi juga pendongeng, musisi, dan tawa anak-anak. Ini akan menjadi semangat kota yang hidup, tempat di mana keberagaman, kreativitas, dan ketangguhan Jakarta tumbuh bersama,” ujar Veronica Tan.
BACA JUGA
Integrasi Pecinan Glodok-Kota Tua Jakarta, Destinasi Wisata Budaya Baru di Jantung Ibu Kota
Mengapa Kota Tua Jakarta Semakin Ramai? Ini Strategi Pengelolaan yang Jadi Kunci
Kota Tua Dipadati Ribuan Pengunjung: Berwisata Sambil Belajar Sejarah Masa Kolonial di Jantung Jakarta
Revitalisasi ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, MRT Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan lain.
Sebuah upaya bersama yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengembalian makna kemanusiaan yang telah lama melekat pada kawasan ini.
“Memulihkan jiwa Kota Tua bukan hanya mengecat ulang dinding atau memperbaiki atap, tetapi bagaimana kita menghubungkan kembali sejarah dengan kemanusiaan, membangunkan makna, dan membuat tempat ini bernapas kembali,” lanjutnya.
Bagi Veronica, Kota Tua Jakarta bukan sekadar tempat dengan bangunan tua dan kisah kolonial.
Lebih dari itu, kawasan ini adalah ruang hidup yang dapat menumbuhkan kreativitas dan kebahagiaan warganya.
Ia berharap Kota Tua bisa menjadi ruang yang ramah bagi semua mulai dari seniman jalanan hingga anak-anak yang berlari di bawah cahaya sore.
“Saya berharap nantinya Kawasan Kota Tua bisa difungsikan bukan hanya sebagai pusat mobilitas atau Destinasi Wisata, tetapi juga wadah tumbuhnya kreativitas dan kebahagiaan sebagai ruang hidup yang ramah bagi masyarakat, seniman, dan anak-anak,” harapnya.
Kenangan masa lalu juga masih melekat kuat dalam benak Veronica. Sekitar satu dekade lalu, ia ikut terlibat dalam Proyek Kota Tua bersama komunitas budaya, tokoh masyarakat, dan para pelaku seni yang memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian kawasan ini.
Kini, semangat itu ingin ia hidupkan kembali dengan cara yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.
“Selama hampir 500 tahun, kawasan ini menyimpan sejarah panjang yang menjadi bagian dari jati diri bangsa. Tugas kita adalah mewariskan semangatnya kepada anak-anak kita, agar mereka tumbuh dengan kebanggaan terhadap sejarah dan budayanya,” katanya.
Dengan visi perpaduan sejarah, kemanusiaan, dan masa depan, Revitalisasi Kota Tua Jakarta tak hanya soal membenahi gedung-gedung lama. Ini adalah tentang menghidupkan kembali denyut kehidupan, menjadikannya tempat di mana masa lalu dan masa depan saling berpelukan dalam harmoni yang baru.(Antara)










