ID EN

Revitalisasi Baru Siap Ubah Wajah Wisata Sejarah Kota Tua Jakarta 

Kamis, 7 Mei 2026 | 10:45

Penulis: Arif S

Halaman Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat
Halaman Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
Sumber: Antara Foto/Fanny Octavianus

Kawasan Kota Tua Jakarta kembali bersiap menata wajahnya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai babak revitalisasi terbaru untuk mempercantik kawasan wisata heritage, sekaligus  memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada akar sejarah dan budaya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno disebut akan berkantor di kawasan tersebut selama proses revitalisasi. Kehadiran orang nomor dua di Jakarta itu dipandang sebagai simbol keseriusan pemerintah dalam menghidupkan kembali ruang publik bersejarah yang selama puluhan tahun menjadi wajah pariwisata ibu kota.

"Kami akan revitalisasi (Kota Tua). Harapannya, benchmark-nya ke Kota Lama Semarang. Rencananya, Wagub akan bekerja di sana dan membangun Kota Tua lebih baik lagi," ujar Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Denny Aputra di Jakarta.

Dengan luas sekitar 334 hektare, kawasan Kota Tua bukan ruang asing bagi proyek pembaruan. Sejak revitalisasi pertama pada 1971-1977, kawasan ini telah berkali-kali dipoles untuk menjaga denyut sejarahnya tetap hidup di tengah modernisasi Jakarta.

Tahap awal revitalisasi meliputi kawasan ikonik seperti Taman Fatahillah, Kali Besar, Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik, Gedung Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari hingga gugus Pulau Onrust. Gelombang berikutnya berlangsung pada 2004-2006 dengan peresmian Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Pada 2013, revitalisasi kembali menyasar Gedung Kantor Pos Fatahillah dan sejumlah bangunan milik BUMN. Sementara pada 2016-2018, fokus diarahkan ke Lokbin Taman Kota Intan dan Kali Besar sisi selatan. Tahap kelima yang berlangsung pada 2022 mencakup penataan Stasiun Beos beserta area park and ride.

Kini, pemerintah menyiapkan pola pengembangan baru dengan membagi kawasan Kota Tua menjadi tiga zona, yaitu zona inti, zona pengembangan dan zona penunjang. 

Pendekatan itu diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara konservasi bangunan bersejarah dan kebutuhan wisata modern.

Sebelumnya, Rano mengungkapkan tujuannya berkantor di Kota Tua untuk mengawasi langsung proses revitalisasi kawasan tersebut. Ia juga mengaku telah membentuk kelompok kerja (Pokja) agar koordinasi revitalisasi berjalan lebih efektif.

Di tengah rencana besar itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menaruh perhatian khusus pada pembangunan area parkir dan penataan pedagang kaki lima (PKL). Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pengalaman wisata yang lebih nyaman bagi pengunjung.

Revitalisasi ini juga diarahkan untuk menjadikan Kota Tua sebagai Destinasi Wisata lebih ramah bagi masyarakat menengah, terutama dengan dukungan akses Transportasi Publik seperti KRL dan MRT. 

Di masa depan, Kawasan Bersejarah ini diproyeksikan bukan hanya menjadi ruang nostalgia, tetapi juga pusat aktivitas urban yang hidup, mudah dijangkau dan tetap memelihara memori kolektif Jakarta.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!