ID EN

Integrasi Pecinan Glodok-Kota Tua Jakarta, Destinasi Wisata Budaya Baru di Jantung Ibu Kota

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:45

Penulis: Arif S

Kawasan Wisata Pecinan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat
Kawasan wisata Pecinan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat.
Sumber: Antara/Risky Syukur

Pecinan Glodok, Jakarta Barat, menyimpan lapisan sejarah yang hidup yang diwariskan lintas generasi. Kini, Kawasan Bersejarah di Tamansari itu bersiap diposisikan sebagai bagian dari satu lanskap wisata lebih luas bersama Kota Tua Jakarta.

Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menilai, kekayaan budaya dan warisan yang dimiliki Pecinan Glodok menjadikannya layak diintegrasikan dengan Kota Tua di bawah satu payung wisata. 

Integrasi ini dirancang untuk merangkai narasi sejarah Jakarta secara utuh, dari masa kolonial hingga jejak komunitas Tionghoa yang telah lama menjadi bagian penting kota ini.

"Wisata Pecinan Glodok akan menjadi satu kesatuan dengan Kota Tua karena di sini ada aspek budaya dan heritage (warisan) yang akan dibangun oleh Pemerintah DKI Jakarta melalui dinas terkait, yaitu Dinas Parekraf dan Dinas Kebudayaan," ujar Iin, Rabu 22 Januari 2026. 

Bagi pelancong, Glodok menawarkan pengalaman lebih dari sekadar kunjungan singkat. Kawasan ini menghadirkan detail-detail kecil, mulai dari toko pernak-pernik, suvenir khas, hingga kuliner yang menjadi magnet bagi penjelajah rasa.

"Banyak sekali pernak-pernik dan suvenir agar masyarakat di luar Pecinan Glodok juga bisa hadir di sini, bahkan dari seluruh DKI Jakarta maupun luar Jakarta. Ini adalah tempat yang sangat oke, kaya warisan, dan bisa menjadi tempat edukasi, literasi budaya," kata Iin.

Integrasi Pecinan Glodok dan Kota Tua diproyeksikan membawa dampak positif bagi pertumbuhan kedua kawasan. 

Dengan berada dalam satu jalur wisata, pengunjung dapat menyusuri sejarah Jakarta secara berkesinambungan, dari bangunan kolonial hingga pusat budaya Tionghoa yang masih aktif hingga kini.

Menurut Iin, mengintegrasikan Pecinan Glodok dengan Kota Tua di bawah satu payung wisata mendatangkan dampak yang baik bagi pertumbuhan kedua kawasan.

"Nanti secara konseptualnya (konsep integrasi) dari dinas terkait yang akan menyampaikan hal ini. Kami akan memastikan bahwa wisata di Kota Tua dan Pecinan Glodok akan membuat masyarakat merasa lebih nyaman dan tawaran wisatanya lebih bagus lagi," kata Iin.

Namun, perjalanan menuju kawasan wisata terpadu ini tidak lepas dari tantangan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyoroti parkir liar sebagai salah satu persoalan utama yang perlu ditangani agar integrasi dapat berjalan optimal.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan, salah satu tantangan yang kini perlu diatasi untuk melancarkan agenda integrasi itu adalah parkir liar.

Menurut Bang Doel, sapaan Rano Karno, penataan kawasan yang baik, termasuk penghapusan parkir liar, akan membuka potensi besar Pecinan Glodok sebagai magnet wisata baru, bahkan berpeluang melampaui popularitas destinasi regional.

Meski demikian, Rano menegaskan transformasi kawasan harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Fokus awal pemerintah akan diarahkan pada revitalisasi Kota Tua sebagai fondasi integrasi berkelanjutan.

Setiap hari, sekitar 2,5 juta orang melintasi kawasan Kota Tua melalui berbagai moda Transportasi Publik, mulai dari Transjakarta, MRT, hingga Kereta Api Listrik. 

Arus besar ini menjadi peluang bagi Pecinan Glodok untuk berperan lebih luas dalam Ekosistem Wisata Jakarta.

Dengan penataan lebih rapi, Glodok diproyeksikan menjadi destinasi penginapan strategis bagi wisatawan yang menjelajahi Kota Tua. 

Keberadaan hostel dan penginapan di kawasan Pecinan Glodok dinilai sejalan dengan visi integrasi, memperkuat kawasan ini sebagai gerbang Pengalaman Budaya dan sejarah Jakarta yang lebih mendalam.