Libur Sekolah 2027, Pengelola Destinasi Wisata Diminta Siap Hadapi Lonjakan Wisatawan
Selasa, 9 Juni 2026 | 17:17
Penulis: Arif S

Sumber: Kemenpar
Masa libur sekolah selalu menjadi salah satu periode paling sibuk bagi sektor pariwisata Indonesia. Seiring meningkatnya pergerakan Wisatawan Nusantara, diperkirakan terjadi pada pertengahan Juni hingga Juli 2027, pengelola destinasi wisata diminta untuk mempersiapkan diri secara maksimal agar dapat memberikan pengalaman berlibur yang aman, nyaman, dan berkesan bagi para pengunjung.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan momentum libur sekolah merupakan salah satu periode penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama menjaga kualitas layanan destinasi wisata di berbagai daerah.
"Kami berharap seluruh pemangku kepentingan pariwisata dapat terus berkolaborasi menghadirkan destinasi yang aman, nyaman, dan berkualitas sehingga wisatawan dapat menikmati liburan dengan tenang serta membawa kesan positif terhadap pariwisata Indonesia," ujarnya.
BACA JUGA
Lima Negara Mendominasi Arus Wisata ke Indonesia Sepanjang 2025
Kemenpar Bidik Wisatawan Makau, Ini Strategi Promosi Indonesia di Asia Timur
Revolusi Wisata Udara: Perjalanan Internasional Tanpa Dokumen Fisik Segera Terwujud
Pernyataan tersebut disampaikan Ni Luh saat meninjau Waterbom Bali pada Jumat 5 Juni. Dalam kunjungannya, ia menekankan lonjakan wisatawan saat libur sekolah harus diantisipasi dengan kesiapan matang dari pengelola destinasi.
Menurutnya, pemerintah ingin memastikan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan wisatawan menjadi prioritas utama ketika jumlah pengunjung meningkat secara signifikan.
Karena itu, seluruh pengelola destinasi wisata diminta memastikan berbagai sarana dan prasarana pendukung dapat berfungsi dengan baik selama musim liburan berlangsung.
Ni Luh menjelaskan masa libur sekolah bukan hanya menjadi kesempatan untuk meningkatkan jumlah Kunjungan Wisatawan, tetapi juga momentum untuk menunjukkan kualitas pengelolaan Destinasi Wisata Indonesia.
Ia menilai kesiapan destinasi harus mencakup berbagai aspek penting, mulai dari manajemen pengunjung, mitigasi risiko, penerapan standar keselamatan, pengelolaan sampah, hingga kesiapan sumber daya manusia yang melayani wisatawan.
Dengan pengelolaan yang baik, wisatawan dapat menikmati pengalaman liburan yang menyenangkan sekaligus merasa aman selama berada di destinasi tujuan.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Pariwisata telah menyiapkan berbagai program pelatihan bagi pelaku usaha pariwisata. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi dalam mengelola aktivitas wisata dengan risiko tinggi.
Pelatihan tersebut mencakup berbagai sektor wisata petualangan seperti wisata gunung, wisata perairan, arung jeram, hingga snorkeling yang membutuhkan standar keselamatan yang ketat.
Selain itu, Kementerian Pariwisata juga telah menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang menjadi pedoman dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Standar tersebut mengatur berbagai aspek pelayanan, mulai dari tahap perencanaan perjalanan hingga wisatawan kembali dari destinasi yang mereka kunjungi.
"Dokumen ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk industri pariwisata, untuk memastikan kesiapan destinasi dalam memenuhi aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan wisatawan," jelasnya.
Sementara itu, pihak pengelola Waterbom Bali mengaku telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi potensi lonjakan pengunjung selama musim liburan sekolah.
CEO Waterbom Bali Sayan Gulino mengatakan seluruh fasilitas dan sarana pendukung telah dipersiapkan agar tetap dapat melayani wisatawan secara optimal meskipun jumlah pengunjung meningkat.
"Dengan manajemen kapasitas yang baik, pengunjung tidak perlu mengantre terlalu lama, ketersediaan loker tetap memadai, serta kebersihan toilet dan fasilitas umum tetap terjaga," pungkasnya.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!