Piala AFF 2026: Ketika Garuda Tak Lagi Menjadi Penantang

Jumat, 24 Juli 2026 | 13:36

Penulis: Rojes Saragih

Sentul, Bogor - Piala AFF 2026 akhirnya dimulai. Sepuluh negara kembali bersaing memperebutkan supremasi sepak bola Asia Tenggara dalam turnamen yang kini resmi bernama ASEAN Championship.

Namun, yang berubah kali ini bukan hanya nama turnamen atau jadwal pertandingan. Yang paling berbeda adalah posisi Indonesia.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa edisi terakhir, Tim Garuda memasuki Piala AFF dengan ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Sejumlah media di kawasan bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu kandidat terkuat untuk mengangkat trofi. 

Status itu lahir dari meningkatnya kualitas skuad, regenerasi pemain, hingga proyek besar yang kini dibangun di bawah pelatih John Herdman.

Masalahnya, menjadi favorit sering kali lebih sulit daripada menjadi penantang.

Herdman tampaknya memahami hal itu. Karena itulah ia berulang kali menegaskan bahwa Piala AFF bukan garis akhir perjalanan Timnas Indonesia. Turnamen ini adalah bagian dari proyek yang lebih besar: membangun tim yang mampu bersaing di level Asia dan membuka jalan menuju Piala Dunia.

Menjelang laga perdana melawan Kamboja di Stadion Pakansari, Herdman memang belum mengumumkan daftar pemain kepada publik. Namun, ia telah mengerucutkan pilihannya menjadi 26 pemain dan menilai perkembangan chemistry serta identitas permainan tim terus menunjukkan kemajuan.

Sementara Indonesia masih menyimpan kartu, para pesaing justru datang dengan kesiapan penuh.

Vietnam, sang juara bertahan, sudah mengumumkan 25 pemain yang akan mempertahankan gelarnya. Kim Sang-sik tetap mengandalkan perpaduan pemain berpengalaman dan amunisi naturalisasi, mengirim pesan bahwa Vietnam belum siap melepaskan mahkota sepak bola Asia Tenggara.

Thailand pun tidak ingin kehilangan panggung. Negara tersukses dalam sejarah Piala AFF itu menegaskan target mereka tetap sama: menjadi juara. Pengalaman, tradisi, dan mental juara membuat Thailand tetap menjadi tolok ukur yang harus dilewati setiap tim yang ingin menjadi penguasa baru kawasan.

Peta persaingan pun berubah. Indonesia datang dengan kualitas skuad yang terus meningkat. Vietnam membawa status juara bertahan. Thailand mempertahankan identitas sebagai raja Asia Tenggara. Tiga kekuatan ini akan memasuki turnamen dengan beban yang berbeda, tetapi tujuan yang sama.

Bagi Indonesia, tekanan terbesar justru datang dari ekspektasi.

Publik tidak lagi sekadar berharap Garuda tampil kompetitif. Yang ditunggu sekarang adalah trofi. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa Piala AFF bukan hanya soal kualitas pemain. 

Turnamen yang berlangsung singkat ini menuntut konsistensi, kedalaman skuad, kemampuan beradaptasi, dan mental menghadapi tekanan di setiap pertandingan.

Lalu, benarkah Indonesia layak menyandang status favorit? Mampukah proyek John Herdman melewati ujian pertamanya? Seberapa besar ancaman Vietnam dan Thailand dalam perebutan gelar?

Semua pertanyaan itu akan dibahas lebih dalam dalam Podcast ITSMe bersama dua presenter ITSMe, Raisha dan Gilang Respaty, yang menghadirkan pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo dan Erwin Fitriansyah langsung dari Studio ITSMe, Sentul, Bogor. 

Sebuah diskusi yang tidak hanya membahas peluang juara, tetapi juga arah baru sepak bola Indonesia di tengah semakin ketatnya persaingan Asia Tenggara.