ID EN

Menelusuri Destinasi Green Tourism Bontang: Masa Depan Pariwisata di Balik Hilirisasi Industri

Minggu, 31 Mei 2026 | 21:00

Penulis: Rojes Saragih

Destinasi Wisata Edupark di Kota Bontang
Destinasi Wisata Edupark di Kota Bontang, Kalimantan Timur
Sumber: Antara/DPMPTSP Bontang

Bontang - Hutan mangrove di Bontang Kuala kini berdiri dengan wajah baru. Jembatan kayu yang meliuk di atas air menghubungkan menara pandang dengan galeri Konservasi, menawarkan alur perjalanan yang tenang di tengah rimbunnya ekosistem pesisir.

Di sana, suara debur ombak tipis berpadu dengan aktivitas eco-café yang dikelola dengan pendekatan ramah lingkungan. Suasana ini menjadi cerminan dari keseriusan Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, dalam mengolah potensi alam menjadi Destinasi Wisata yang tertata, sekaligus bagian dari upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026 di kisaran 4,2 hingga 4,5 persen melalui Investasi Hijau.

Selain sektor Pariwisata, Pemerintah Kota Bontang juga tengah menggenjot hilirisasi industri perkebunan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Peluang Investasi Hijau yang terus dikampanyekan mencakup pengembangan taman edukasi, vila terapung di atas laut, hingga hilirisasi industri kelapa sawit yang berfokus pada produk turunan bernilai tambah tinggi, seperti fatty amine dan fatty acid.

Transformasi ini pun terasa hingga ke perairan biru Pulau Beras Basah, di mana pasir putihnya menjadi ikon keindahan yang kini dilengkapi dengan fasilitas family beach park berbasis energi surya. Begitu pula di Pulau Tihi-Tihi, di mana Marine EduPark menyuguhkan ruang bagi wisatawan untuk menyelam di sela-sela konservasi Terumbu Karang yang dikelola bersama oleh masyarakat setempat.

Pengembangan destinasi dan sektor industri ini merupakan implementasi dari visi besar Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) 2025-2035. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspianur, menegaskan bahwa langkah ini diambil agar Bontang bertransformasi menjadi destinasi Wisata Hijau dan inklusif. Menurut Aspianur, kebijakan ini sekaligus menjadi upaya nyata dalam mengurangi emisi karbon di wilayah tersebut.

Optimisme terhadap arah pembangunan ini tercermin dari capaian investasi di triwulan pertama 2026 yang menyentuh angka Rp796,78 miliar, atau setara dengan 23,25 persen dari target tahunan. Dari total realisasi tersebut, sebesar Rp707,31 miliar atau 88,77 persen disokong oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN), sementara sisanya sebesar Rp89,46 miliar atau 11,23 persen merupakan penanaman modal asing (PMA).

Dengan target total investasi sebesar Rp3,42 triliun untuk tahun ini—sebuah peningkatan 11,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp3,08 triliun—Muhammad Aspianur kepada ANTARA mengaku optimistis target tersebut akan terealisasi. Kota ini kini tengah membangun narasi ekonomi baru, bergerak menuju keseimbangan antara hilirisasi industri dan pengembangan pariwisata yang mampu menjadi magnet utama di Kalimantan Timur.

Langkah berani Bontang ini bukan sekadar mengejar angka investasi, melainkan upaya mengukir identitas baru bagi masa depan kota. Dengan menyelaraskan napas industri yang progresif dan kelembutan pesona alam, Bontang sedang memosisikan diri sebagai model transformasi wilayah yang tangguh di Kalimantan Timur—tempat di mana kemajuan ekonomi dan kelestarian lingkungan tumbuh berkelindan menjadi daya tarik yang berdaya saing.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!