Uzbekistan Bidik Indonesia Sebagai Pasar Wisata dengan Penerbangan Langsung
Rabu, 8 April 2026 | 12:04
Penulis: Arif S

Sumber: Antara Foto/Asri Mayang Sari
Gubernur Wilayah Samarkand, Adiz Boboev menekankan pentingnya kerja sama pariwisata Indonesia-Uzbekistan, sebuah langkah yang berpotensi mengubah peta Perjalanan Wisata Asia. Fokusnya mengerucut pada satu titik penting, penerbangan langsung.
Bagi Samarkand, kota bersejarah ikon Jalur Sutra, konektivitas udara bukan sekadar akses, tetapi pintu menuju lonjakan Kunjungan Wisatawan dan peluang ekonomi lebih luas.
Adiz Boboev menegaskan arah kebijakan tersebut dalam kunjungan delegasinya ke Jakarta.
BACA JUGA
Wisata Uzbekistan: Menyusuri Keindahan Kota Bersejarah Jalur Sutra
Menyusuri Spiritualitas dan Budaya di Prambanan Shiva Festival 2026
Menyusuri Jejak Situs Megalitikum 8.000 Tahun di Gunung Padang
“Di antara seluruh agenda yang dibahas, pembukaan penerbangan langsung atau direct flight menjadi salah satu prioritas utama delegasi Samarkand,” ujarnya dalam sambutannya pada Indonesia-Uzbekistan Partnership Forum: Presentation of Samarkand Province di Jakarta, Selasa.
Pernyataan itu menandai keseriusan Uzbekistan dalam membangun jembatan baru dengan Indonesia.
Jalur udara langsung diyakini mampu memangkas jarak geografis, sekaligus membuka peluang eksplorasi destinasi yang sebelumnya terasa jauh.
Dalam pandangan pemerintah Samarkand, Indonesia bukan sekadar pasar wisata, melainkan mitra strategis karena memiliki kedekatan nilai.
Kesamaan budaya dan agama menjadi fondasi yang memperkuat keyakinan, kerja sama ini dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Dalam upaya memperkuat hubungan bilateral, Samarkand menilai penting untuk menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak, khususnya di sektor pariwisata dan bisnis,” katanya.
Ambisi tersebut tidak berhenti pada konektivitas. Samarkand juga diproyeksikan sebagai salah satu destinasi utama wisata di Asia, termasuk bagi Wisatawan Indonesia.
Untuk mencapai tujuan itu, pembentukan kelompok kerja bersama menjadi salah satu langkah strategis.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memetakan potensi serta membuka peluang kerja sama lintas sektor yang lebih konkret dan terarah.
Indonesia Jadi Rujukan Wisata Halal
Di sisi lain, Uzbekistan melihat Indonesia sebagai rujukan dalam pengembangan wisata halal.
Pengalaman Indonesia dalam mengelola Destinasi Ramah Muslim menjadi nilai tambah yang ingin diadopsi, sekaligus memperkuat daya tarik bagi wisatawan global.
“Diharapkan pula adanya kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia, khususnya dalam Pengelolaan Hotel serta pengembangan infrastruktur pariwisata. Kedua pihak juga didorong untuk meningkatkan kolaborasi dalam mempromosikan potensi wisata masing-masing,” katanya.
Lebih dari sekadar destinasi, Samarkand diposisikan sebagai gerbang utama pariwisata Uzbekistan.
Kota ini bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga salah satu simpul penting dalam sejarah peradaban dunia Islam yang terus menarik minat wisatawan.
Forum yang digelar di Jakarta itu juga membuka ruang bagi kerja sama lebih luas.
Peluang investasi hingga penandatanganan nota kesepahaman di sektor ekonomi dan pendidikan menjadi sinyal, hubungan kedua negara bergerak ke arah lebih dalam.
Kehadiran agen perjalanan dan maskapai dalam forum tersebut turut mempertegas arah kerja sama ini.
Pariwisata tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang melibatkan berbagai sektor pendukung.










