Dampak Konflik AS-Iran, Ini Daftar Maskapai yang Masih Terbang di Timur Tengah
Minggu, 8 Maret 2026 | 13:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali berdampak besar pada dunia penerbangan internasional. Sejak wilayah udara kawasan tersebut ditutup akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari, banyak maskapai global terpaksa mengubah strategi operasional mereka.
Bagi para traveler, kondisi ini membuat sejumlah rute populer menuju Timur Tengah dan Eropa mengalami perubahan drastis. Mulai dari pembatalan penerbangan, pengurangan jadwal, hingga penerbangan khusus untuk membantu penumpang yang terjebak di berbagai bandara.
Dilansir dari Arab Times News, Sabtu, 7 Maret 2026, berikut informasi singkat tentang Maskapai Penerbangan mana yang masih beroperasi dan ke mana mereka beroperasi.
BACA JUGA
Konflik AS-Iran Memanas, Cristiano Ronaldo Dikabarkan Pindahkan Jet Pribadi ke Madrid
Airspace Timur Tengah Ditutup, Sejumlah Penerbangan dari Soetta Tertunda
Singapura Perketat Gerbang Kedatangan, Aturan Baru Penumpang Pesawat Berlaku 2026
Qatar Airways Fokus pada Penerbangan Repatriasi
Salah satu maskapai besar yang terdampak adalah Qatar Airways. Maskapai ini menghentikan sementara penerbangan reguler dari Doha.
Namun, mereka tetap mengoperasikan sejumlah penerbangan khusus dari kota lain untuk membantu penumpang yang terdampak pembatasan wilayah udara.
Dikutip dari Aljazeera, Qatar Airways menyatakan bahwa mereka akan mengoperasikan penerbangan repatriasi pada 7 Maret, berangkat dari Bandara Internasional Hamad ke bandara-bandara berikut: London (LHR), Paris (CDG), Madrid (MAD), Roma (FCO), Frankfurt (FRA).
Maskapai tersebut juga menegaskan bahwa penumpang dengan kondisi khusus akan mendapatkan prioritas.
Mereka menambahkan bahwa prioritas akan diberikan kepada penumpang yang terlantar bersama keluarga, penumpang lanjut usia, dan mereka yang memiliki kebutuhan perjalanan medis dan kemanusiaan yang mendesak.
Bagi traveler yang sedang berada di Timur Tengah, penerbangan repatriasi seperti ini sering menjadi jalur utama untuk kembali ke negara asal saat terjadi krisis penerbangan.
Emirates Masih Terbang dengan Rute Aman
Sementara itu, Emirates masih mempertahankan sejumlah penerbangan terbatas dari Dubai dan Abu Dhabi.
Maskapai ini menggunakan koridor udara aman milik Uni Emirat Arab, yaitu jalur penerbangan khusus yang telah disetujui agar pesawat dapat tetap beroperasi tanpa melintasi area konflik.
Emirates menyebut operasional mereka saat ini berjalan dengan jadwal terbatas sambil menunggu kondisi wilayah udara kembali stabil. Meski begitu, maskapai ini masih mampu mengangkut sekitar 30.000 penumpang dari Dubai hanya dalam satu hari.
Pada hari Sabtu, maskapai tersebut mengatakan akan memiliki 106 penerbangan pulang pergi harian yang beroperasi ke 83 tujuan, mendekati 60 persen dari jaringan penuhnya, dengan harapan kembali ke 100 persen.
Etihad Airways Jalankan Jadwal Terbatas
Maskapai nasional Uni Emirat Arab lainnya, Etihad Airways, juga tetap mengoperasikan sejumlah penerbangan dengan kapasitas terbatas.
Beberapa rute masih berangkat dari Abu Dhabi dan Dubai, tetapi jadwalnya telah dikurangi untuk menyesuaikan kondisi Keamanan Penerbangan di kawasan Timur Tengah.
Maskapai Israel Fokus Mengangkut Penumpang
Beberapa maskapai Israel juga mulai mengoperasikan penerbangan khusus menuju Tel Aviv.
El Al Israel Airlines berencana untuk mengoperasikan sembilan penerbangan ke Tel Aviv pada hari Kamis. Penerbangan ini akan berangkat dari beberapa kota di Eropa, termasuk Athena, Milan, Jenewa, Munich, dan Paris.
Sementara itu, Israir juga menjadwalkan lima penerbangan menuju Tel Aviv dari beberapa kota seperti Roma, Berlin, Athena, Batumi, dan Rovaniemi.
Maskapai Arkia juga merencanakan satu penerbangan dari Roma ke Tel Aviv, dengan kemungkinan menambah penerbangan lain jika situasi memungkinkan.
Beberapa Maskapai Global Pilih Membatalkan Rute
Tidak semua maskapai memutuskan tetap terbang. Beberapa maskapai besar memilih menunda atau membatalkan penerbangan demi keselamatan.
Turkish Airlines telah membatalkan beberapa penerbangan ke dan dari banyak negara Timur Tengah. Ini termasuk Bahrain, Iran, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Suriah, dan Uni Emirat Arab. Penerbangan ke kota Dammam dan Riyadh di Arab Saudi juga telah dibatalkan.
Air France juga mengambil langkah serupa dengan menangguhkan penerbangan menuju beberapa kota penting di kawasan tersebut.
Air France telah menangguhkan penerbangan ke Dubai dan Riyadh hingga 6 Maret. Maskapai ini juga mengatakan tidak akan ada penerbangan ke Tel Aviv dan Beirut hingga setidaknya 8 Maret.
Air India dan Kuwait Airways Cari Jalur Alternatif
Beberapa maskapai lain mencoba mencari solusi agar penumpang tetap bisa melakukan perjalanan.
Air India berencana mengoperasikan satu penerbangan pada hari Kamis di rute Mumbai-Dubai-New Delhi. Maskapai penerbangan akan menggunakan pesawat yang lebih besar agar lebih banyak penumpang yang terjebak dapat melakukan perjalanan pada penerbangan pulang.
Sementara itu, Kuwait Airways mulai mengalihkan penumpang yang telah memesan tiket melalui kota lain.
Kuwait Airways telah mulai mengalihkan warga negara yang telah melakukan pemesanan sebelumnya melalui Jeddah, Arab Saudi.
Traveler Diminta Selalu Cek Jadwal Terbaru
Dalam situasi seperti ini, perubahan jadwal bisa terjadi sewaktu-waktu. Banyak maskapai masih terus mengevaluasi kondisi keamanan di wilayah udara Timur Tengah.
Karena itu, traveler yang memiliki rencana perjalanan melalui kawasan tersebut disarankan untuk selalu mengecek informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.
Langkah ini penting untuk menghindari pembatalan mendadak atau perubahan Rute Penerbangan yang bisa berdampak pada itinerary perjalanan.










