InJourney Pacu Ekspansi Hotel, Dari 39 ke 106 Properti dalam Dua Tahun
Selasa, 20 Januari 2026 | 12:05
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Putu Indah Savitri
Di tengah upaya memperkuat ekosistem Pariwisata nasional, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney menyiapkan langkah besar dalam Pengelolaan Hotel di Indonesia. Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata ini berencana meningkatkan jumlah hotel yang dikelola secara signifikan, dari 39 hotel menjadi 106 hotel pada 2026.
“Hotel, sekarang ini kami kelola 39, tapi tahun ini akan konsolidasi ke 106 hotel,” ujar Direktur Utama InJourney Maya Watono dalam Press Conference bertajuk “4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia” yang digelar di Jakarta, Senin.
Rencana ekspansi ini bukan sekadar soal angka, melainkan bagian dari konsolidasi besar melalui aksi korporasi. Maya menjelaskan proses tersebut masih dibahas bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara selaku pemegang saham InJourney.
BACA JUGA
NTB Siap Jadi Magnet Wisata 2026, Kunjungan Ditargetkan Naik
Festival Musik Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Daya Tarik Wisata Baru Indonesia
Wisata Indonesia 2025 Meledak, Pergerakan Wisman dan Wisatawan Lokal Tembus Rekor
Meski detail konsolidasi belum diungkap sepenuhnya, Maya menegaskan arah utama InJourney adalah mengembalikan setiap lini usaha pada kekuatan intinya.
Pendekatan ini diyakini akan menciptakan fondasi Bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Jadi, semua kami kembalikan sesuai dengan core business. Tujuannya supaya kami juga fokus terhadap bisnis dan melakukan business model yang fundamental dan berkelanjutan ke depan,” ucap Maya.
Dalam konteks pariwisata, strategi ini membuka peluang lahirnya jaringan hotel yang dikelola dengan standar profesional, sekaligus terintegrasi dengan destinasi dan infrastruktur aviasi.
InJourney ingin memastikan hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi bagian dari Pengalaman Perjalanan utuh.
Ambisi tersebut juga dibarengi dengan visi jangka panjang untuk memperkuat BUMN pariwisata agar mampu bersaing di tingkat global. Maya menekankan pentingnya fondasi yang kokoh sebagai syarat utama keberlanjutan.
“Kami harus membangun fondasi yang kuat agar BUMN di bawah InJourney bisa menjadi perusahaan yang kuat, sustainable, dan bisa berkompetisi dengan global benchmark lainnya,” kata Maya.
Salah satu wujud konkret dari visi tersebut adalah transformasi Grand Hotel De Djokja, hotel warisan bersejarah di jantung Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta.
InJourney berencana meluncurkan hasil transformasi hotel ini sebagai ikon Wisata Baru pada 2026.
Hotel yang berdiri sejak 1911 ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi perjalanan sejarah bangsa. Jenderal Sudirman, menurut Maya, pernah menjadikan hotel tersebut sebagai markasnya.
“Ini adalah usaha kami, InJourney, untuk melestarikan Budaya Indonesia. Kami ingin mengembalikan De Djokja ini seperti tahun 1911,” kata Maya.
Dengan rencana pengelolaan 106 hotel dan revitalisasi hotel warisan, InJourney menempatkan diri bukan hanya sebagai operator bisnis pariwisata, tetapi juga penjaga narasi budaya dan sejarah Indonesia.(Antara)










