Alam Indah Tak Cukup? Ini Penyebab Tren Kunjungan Wisatawan ke Bantul 2025 Turun
Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:43
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Hery Sidik
Bentang alam pesisir selatan, hamparan sawah pedesaan, hingga kawasan perbukitan menjadi magnet utama pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sepanjang 2025, destinasi berbasis alam tetap menjadi tujuan favorit Wisatawan Domestik, meskipun sektor ini harus berhadapan langsung dengan tantangan iklim.
Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bantul mencatat 1.848.776 wisatawan berkunjung ke berbagai Destinasi Wisata daerah ini sepanjang tahun lalu. Pendapatan dari kunjungan itu sebesar Rp26,7 miliar.
Jumlah itu dihimpun dari seluruh Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) wisata, baik di kawasan pantai selatan maupun objek wisata alam lain yang menerapkan tiket masuk.
BACA JUGA
Kemenpar Bidik Wisatawan Makau, Ini Strategi Promosi Indonesia di Asia Timur
Kunjungan Turis Meningkat, Pariwisata Penopang Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi
Revolusi Wisata Udara: Perjalanan Internasional Tanpa Dokumen Fisik Segera Terwujud
Namun, dari sisi pendapatan, sektor pariwisata belum mampu mencapai target yang ditetapkan pemerintah daerah.
"Pendapatan pariwisata 2025 hanya terealisasi 54,6 persen dari target sebesar Rp49 miliar," ujar Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dispar Bantul Markus Purnomo Adi di Bantul, Sabtu 3 Desember 2026.
Secara musiman, Kunjungan Wisatawan menunjukkan pola fluktuatif. Bulan yang bertepatan dengan masa liburan tetap menjadi periode paling ramai.
Misalnya, selama Desember jumlah kunjungan 183.788 orang dengan pendapatan Rp2,6 miliar. Pada bulan itu, jumlah kunjungan momen liburan dari 20-31 Desember sebanyak 116.361 orang dengan pendapatan Rp1,6 miliar.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Tren Pariwisata Bantul justru mengalami penurunan cukup signifikan.
Sebagai perbandingan, selama Januari-Desember 2024 jumlah kunjungan 2,3 juta orang dengan pendapatan Rp30,6 miliar. Jadi, tahun 2025 turun sekitar 28 persen dari tahun 2024.
Kepala Dispar Bantul Saryadi menjelaskan faktor cuaca menjadi penentu utama dinamika tersebut. Sebagian besar objek wisata Bantul berbasis alam terbuka, sehingga sangat bergantung pada kondisi iklim.
"Tahun ini (2025) secara akumulasi tren kunjungan wisatawan ke Bantul turun dari tahun kemarin, karena wisata kita di Bantul itu kan mayoritas wisata alam, sehingga sangat sensitif terhadap cuaca," katanya.
Puncak musim hujan bertepatan dengan libur panjang akhir tahun menjadi salah satu faktor yang menahan laju kunjungan.(Antara)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!