ID EN

Permata Terlupakan, Tambora Diperjuangkan Jadi UNESCO Global Geopark

Jumat, 15 Mei 2026 | 09:48

Penulis: Arif S

Pendaki menikmati matahari terbit di atas puncak Gunung Tambora
Pendaki menikmati matahari terbit di atas puncak Gunung Tambora di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Sumber: Antara/Ady Ardiansah

Langkah besar sedang ditempuh Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mengangkat Gunung Tambora ke panggung dunia sebagai UNESCO Global Geopark. Di balik upaya ini, pemerintah daerah menempatkan Konservasi Lingkungan bukan sebagai pelengkap, melainkan fondasi utama pembangunan kawasan Wisata Berkelanjutan.

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menegaskan salah satu fokus penting adalah perlindungan kawasan Teluk Saleh, yang berperan sebagai penyangga utama ekosistem dan biodiversitas Geopark Tambora. Kawasan laut ini juga dikenal sebagai habitat penting hiu paus yang menjadi daya tarik ekowisata.

"Kami sudah memiliki pengalaman bagaimana mengelola geopark sebagai pusat Konservasi Lingkungan, pelestarian geologi, dan Pemberdayaan Masyarakat," ujar Iqbal di Mataram, Kamis.

Upaya menuju pengakuan UNESCO tidak hanya berhenti di level lokal. Pemerintah NTB telah mempresentasikan pengajuan Geopark Tambora di hadapan panelis UNESCO secara daring pada Rabu 13 Mei, menandai langkah penting dalam proses panjang menuju status UNESCO Global Geopark.

Dalam presentasi tersebut, Miq Iqbal didampingi Sekretaris Bappeda NTB Baiq Yunita Puji Widiani, General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora Makdis Sari, serta General Manager Rinjani UNESCO Global Geopark Qwadru P. Wicaksono.

Pengalaman mengelola Rinjani UNESCO Global Geopark menjadi modal penting bagi NTB. Pemerintah daerah menegaskan mereka tidak memulai dari nol, melainkan melanjutkan praktik terbaik dalam pengelolaan geopark yang sudah diakui dunia.

Menurut Iqbal, Gunung Tambora merupakan “forgotten gem” atau permata yang terlupakan. Kawasan ini menyimpan kekayaan luar biasa, mulai dari geologi, sejarah, budaya, hingga biodiversitas yang belum sepenuhnya dikenal dunia.

Berbeda dengan Gunung Rinjani yang dikenal sebagai Destinasi Wisata pendakian, Tambora memiliki kisah global lebih dramatis. Letusan dahsyat pada tahun 1815 tercatat sebagai salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah modern manusia.

Letusan tersebut tidak hanya mengubah wajah Pulau Sumbawa, tetapi juga berdampak hingga Eropa, memicu fenomena iklim yang dikenal sebagai The Year Without Summer akibat sebaran abu vulkanik ke atmosfer bumi.

"Tambora bukan hanya tentang gunung api. Ia adalah bagian penting dari sejarah dunia," tegas Miq Iqbal.

Kawasan Geopark Tambora mencakup tiga wilayah budaya besar, yaitu Bima, Dompu, dan Sumbawa. Ketiganya menjadi bagian penting dalam penguatan konservasi berbasis masyarakat sekaligus pelestarian budaya lokal yang masih hidup hingga kini.

Dari sisi alam, Tambora berada di wilayah timur garis Wallace (Wallace Line), dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi. 

Sedikitnya 275 spesies telah teridentifikasi di kawasan ini, meskipun jumlah sebenarnya diyakini lebih besar dan sebagian berada dalam kondisi terancam akibat kerusakan hutan dan aktivitas ilegal.

"Karena itu konservasi menjadi hal yang sangat penting dalam pembangunan kawasan ini," terangnya.

Salah satu langkah nyata adalah penguatan perlindungan Teluk Saleh. Upaya ini tidak hanya penting bagi ekosistem laut, tetapi juga bagi keberlanjutan pariwisata berbasis alam di Sumbawa. Pemerintah NTB menegaskan pembangunan kawasan harus sejalan dengan pelestarian lingkungan.

"Konservasi bukan pelengkap pembangunan, tetapi fondasi utama pembangunan kawasan," tegasnya.

Sementara itu, General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora, Makdis Sari, menyebut Tambora memiliki nilai universal sebagai warisan geologi dunia yang sangat penting.

"Tambora bukan sekadar gunung berapi. Ia adalah arsip hidup dari peristiwa geologis yang mengubah sejarah manusia," katanya.

Jejak letusan 1815 hingga kini masih dapat ditelusuri melalui bukti ilmiah, geologi, dan budaya yang menjadikan kawasan ini penting bagi ilmu pengetahuan dunia sekaligus Destinasi Wisata edukasi berbasis alam.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!