Kunjungan Turis Meningkat, Pariwisata Penopang Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi
Jumat, 10 April 2026 | 14:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/HO-Pemkab Banyuwangi
Di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi bukan lagi sekadar titik persinggahan menuju bali. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini menjelma menjadi Destinasi Wisata dengan identitas kuat.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi menunjukkan arah tersebut semakin nyata. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 5,65 persen, angka yang mencerminkan dinamika positif di berbagai sektor.
"Pada 2025 perekonomian Banyuwangi tumbuh dengan baik yang ditopang pertumbuhan semua sektor usaha," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Banyuwangi Abdus Salam di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.
BACA JUGA
Olahraga dan Pariwisata Berpadu, Banyuwangi Buktikan Sport Tourism Bisa Dongkrak Ekonomi
Durian Merah Banyuwangi Resmi Jadi Produk Indikasi Geografis, Ikon Wisata Kuliner Jatim
Menelusuri Ijen Golden Route: Jejak Wisata Alam, Kuliner dan Budaya di Kaki Gunung Ijen
Namun di ANTARA sektor-sektor tersebut, Pariwisata tampil sebagai denyut paling kuat. Pertumbuhannya mencapai 8,64 persen, menjadikannya sektor dengan laju tertinggi sepanjang tahun itu.
Abdus menjelaskan lonjakan tersebut tidak lepas dari meningkatnya jumlah Kunjungan Wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Di Banyuwangi, perjalanan bukan sekadar aktivitas, melainkan pengalaman yang menghubungkan manusia dengan alam dan komunitas lokal.
"Selanjutnya sektor jasa transportasi naik 8,4 persen, karena adanya peningkatan mobilitas pada berbagai moda transportasi baik Kereta Api, bus dan pesawat," katanya.
Meningkatnya mobilitas ini membuka akses lebih luas ke destinasi Banyuwangi, mulai dari pantai berpasir putih hingga pegunungan berkabut.
Setiap perjalanan menjadi bagian dari ekosistem saling terhubung, memperkuat peran Pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi.
Meski demikian, Banyuwangi tidak meninggalkan akar ekonominya. Sektor pertanian tetap menjadi fondasi penting, berdampingan dengan perdagangan dan konstruksi yang menopang pertumbuhan secara struktural.
"Secara struktural, pertanian di Banyuwangi masih menjadi penyumbang ekonomi tertinggi pertumbuhannya 4,36 persen dari tahun lalu, salah satu indikasinya produksi gabah kering giling mengalami kenaikan 15,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Abdus.
Keseimbangan ANTARA tradisi dan inovasi inilah yang membuat Banyuwangi unik. Pariwisata tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama sektor lain.
Investasi pun mengikuti arah tersebut. Baik penanaman modal asing maupun dalam negeri menunjukkan peningkatan, memperkuat infrastruktur dan layanan yang menunjang pengalaman wisata.
"Di tahun 2025 tidak ada sektor lapangan pekerjaan yang mengalami kontraksi di Banyuwangi, semuanya tumbuh," kata Abdus.










