Atraksi Cahaya di Goa Lowo, Strategi Trenggalek Hidupkan Kembali Wisata Alam Bersejarah
Rabu, 26 November 2025 | 16:00
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/HO - Instagram/@destinasiprovjatim
Di balik rimbun hutan Trenggalek, Goa Lowo berdiri sebagai salah satu ikon alam yang menyimpan jejak geologi berusia ribuan tahun. Namun di tengah kecantikan stalaktit dan stalagmit yang menjulang, destinasi ini justru mengalami penurunan minat wisatawan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek bersiap menjawab tantangan itu dengan sebuah pendekatan baru dengan menghadirkan atraksi cahaya di dalam wahana wisata alam. Konsep ini mencoba merangkul teknologi tanpa mengorbankan keaslian alam.
“Goa Lowo paling minim kunjungan dari tempat wisata lain. Padahal ini salah satu ikon Trenggalek,” ujar Pelaksana tugas Kepala Disparbud Trenggalek, Edi Santoso.
BACA JUGA
Kunjungan Turis Meningkat, Pariwisata Penopang Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi
Gunung Bromo Uji Sistem Tiket Online di Tengah Lonjakan Wisatawan
Reyog Baloon Carnival, Dari Tradisi Berisiko Jadi Magnet Wisata Aman
Data Disparbud menunjukkan tren mengkhawatirkan, 13 ribu wisatawan pada 2022, turun menjadi 10.539 pada 2023, dan kembali merosot menjadi 9.168 pada 2024.
Dalam lanskap wisata Indonesia yang semakin kompetitif, pendekatan baru dibutuhkan. Goa Lowo bukan hanya ruang alam tetapi juga ruang cerita yang menunggu untuk ditafsir ulang. Di sinilah gagasan atraksi cahaya, light attraction menjadi kunci.
Cahaya yang Membangkitkan Narasi Alam
Di berbagai belahan dunia, cahaya telah menjadi medium untuk menghidupkan ruang bawah tanah, memberikan fokus pada formasi batuan, menuntun pengunjung melalui lorong geologi, dan menciptakan suasana magis tanpa melanggar batas konservasi. Trenggalek ingin membangun pengalaman serupa.
Rencananya, atraksi cahaya di Goa Lowo tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi ditata berbasis teknologi dan dipadukan dengan konsep geopark.
Pendekatan ini sejalan dengan misi banyak taman geologi internasional yang menggunakan storytelling visual untuk mengenalkan proses geologi secara lebih memikat.
Namun transformasi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Tahap awal pengembangan akan dimulai dari kawasan luar goa.
“Kami mulai dari kawasan outdoor. Pengembangan area dalam perlu riset geologi terlebih dulu,” jelasnya.
Keamanan pengunjung dan stabilitas struktur goa menjadi pertimbangan utama sebelum memasukkan instalasi cahaya ke ruang alami yang sensitif itu.
Revitalisasi dari Pagi hingga Malam
Proyek revitalisasi melibatkan PT Assalam, mitra jejaring Jatim Park, yang telah berpengalaman menciptakan destinasi wisata edukatif dan tematik.
Area luar goa akan dilengkapi kafetaria, wahana permainan, hingga jalur kunjungan yang memungkinkan wisatawan menikmati suasana alam dengan lebih nyaman.
"Di masa depan, atraksi cahaya diproyeksikan menjadi magnet utama yang membuat Goa Lowo aktif dari pagi sampai malam,” sambung Edi.
Jika respons wisatawan positif, pintu kerja sama lanjutan dengan manajemen Jatim Park pusat akan dibuka.
Artinya, investasi lebih besar dan inovasi lebih luas bisa hadir di kawasan ini—mungkin menghadirkan immersive light show, pengalaman audio-visual geologi, atau tur malam bertema sains.
Membangun Kembali Identitas Wisata Trenggalek
Selain Goa Lowo, Disparbud juga menyiapkan pengembangan untuk Pasir Putih Simbaronce, Prigi 360, dan Hotel Prigi.
Namun semua langkah itu tampak bergantung pada satu pertanyaan besar: mampukah Goa Lowo kembali menjadi magnet wisata utama?
Goa Lowo tidak hanya tentang stalaktit yang membatu atau lorong yang memanjang. Ia adalah ruang yang memadukan rasa takjub, misteri, dan ketenangan alam.
Dengan pendekatan baru berbasis cahaya, Trenggalek berupaya menciptakan pengalaman yang bukan sekadar visual, tetapi juga emosional.(Antara)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!