Reyog Baloon Carnival, Dari Tradisi Berisiko Jadi Magnet Wisata Aman
Selasa, 31 Maret 2026 | 13:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/HO - Prastyo
Langit Ponorogo yang biasanya lengang, berubah menjadi kanvas raksasa, dihiasi puluhan balon udara berwarna-warni. Tradisi lama ini dikemas sebagai tontonan aman dan bernilai wisata bertajuk Reyog Baloon Carnival (RBC) 2026.
Festival di sirkuit motocross Kecamatan Jenangan ini adalah upaya mengubah kebiasaan menerbangkan balon udara liar menjadi kegiatan bertanggung jawab.
“Festival ini kami gelar untuk mewadahi hobi masyarakat menerbangkan balon udara secara aman dan terkontrol,” ujar Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo.
BACA JUGA
Mengenal Tradisi Labuhan Sarangan yang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Kampung Kayutangan, Magnet Wisata Kota Malang Bantu Capai Target 3,4 Juta Kunjungan
Rahasia Telaga Sarangan Jadi Magnet Wisata Jawa Timur Sepanjang 2025
Berbeda dari praktik lama, setiap balon dalam festival ini tidak dilepaskan bebas ke angkasa.
“Balon tidak dilepas bebas, tetapi diikat sehingga aman. Ini berbeda dengan balon ilegal yang berisiko jatuh di permukiman atau jaringan listrik,” katanya.
Pendekatan ini menghadirkan pengalaman unik bagi pengunjung. Mereka bisa menyaksikan balon dari dekat, mengamati detail desain, bahkan merasakan atmosfer festival tanpa kekhawatiran akan risiko yang selama ini melekat pada tradisi balon udara liar.
Sebanyak 44 peserta dari berbagai wilayah turut ambil bagian, dengan membawa interpretasi visual berbeda, mulai dari bentuk klasik hingga kreasi lebih eksperimental.
Kreativitas menjadi elemen penting, di mana panitia tidak hanya menilai kemampuan menerbangkan balon, tetapi juga keunikan desain yang ditampilkan.
“Ke depan akan kami tingkatkan menjadi event lokal hingga nasional,” kata AKBP Andin.
Dukungan pemerintah daerah memperkuat posisi festival ini sebagai embrio Destinasi Wisata baru di Jawa Timur.
Pelaksana Tugas Bupati Ponorogo, Lisdyarita, melihat potensi besar di balik langit penuh warna tersebut.
Bukan hanya sebagai hiburan musiman, tetapi juga sebagai strategi mengelola tradisi agar tetap relevan di era modern.
“Kegiatan ini akan kami agendakan setiap tahun sebagai upaya menekan balon udara liar sekaligus menjadi daya tarik wisata,” pungkasnya.










