bali – Ubud selalu punya cara untuk menyembuhkan. Nama kawasan ini sendiri berakar dari kata ubad yang berarti obat—sebuah warisan spiritualitas yang terus berdenyut sejak abad ke-8. Selama ini, kita mengenal Ubud sebagai hamparan sawah berundak yang teduh, hutan tropis yang hening, dan tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat.
Namun, keheningan bukanlah satu-satunya bahasa yang dimiliki Ubud.
Di balik lanskap yang tampak diam itu, tersembunyi sisi lain yang jauh lebih liar. Kontur tanah Ubud, khususnya di kawasan Payangan, adalah mahakarya alam yang bergelombang. Lembah-lembah curamnya diapit oleh pepohonan rapat, menyembunyikan urat-urat sungai kecil dan tanah liat yang siap menantang siapa saja.
BACA JUGA
Tips Liburan Nyaman di Bali Saat Libur Nyepi dan Idul Fitri Maret 2026
Ini Alasan Bali Masih Jadi Surga Wellness di Indonesia
Ramai Wisatawan Mancanegara, Gerbang Handara Mendadak Jadi Spot Wajib di Bali
Di sinilah, tepat pada penghujung April 2026, tim ITSME travel series memutuskan untuk mencari bentuk Healing yang sama sekali berbeda: sebuah terapi adrenalin di atas roda ATV. Di saat udara Bali sedang dinaungi peralihan cuaca yang dinamis, keputusan membelah lumpur menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk melepaskan penat.
Menembus Batas di Dadi Bali Adventure
Petualangan kali ini membawa Raisha dan Dila, dari ITSME travel series, ke Dadi Bali Adventure. Dikenal memiliki salah satu trek terpanjang dan paling variatif di Bali, jalur di sini bukan sekadar rute buatan, melainkan adaptasi dari liarnya alam Payangan.
Bagi mereka yang belum familiar, All-Terrain Vehicle (ATV) adalah kendaraan roda empat penakluk Medan ekstrem. Mesin ini dirancang untuk menelan lumpur, merayap di atas bebatuan, dan membelah genangan air.
Di awal perjalanan, semuanya mungkin masih terasa aman. Suara mesin menderu memecah keheningan hutan, berpadu dengan udara sejuk khas dataran tinggi Bali. Namun, kontur alam Ubud tidak membiarkan pengunjungnya bersantai terlalu lama. Jalur sempit yang membelah tebing, dipadukan dengan tanah licin sisa genangan air, menjadi ujian pertama.
Jatuh, Bangkit, dan 'Nyungsep' yang Bikin Nagih
Mengendarai ATV bukan sekadar perkara menarik tuas gas dan menekan rem. Di Medan seperti Payangan, insting dan keseimbangan adalah segalanya.
Ada kalanya roda berputar liar melawan pekatnya lumpur, sementara tubuh harus condong menahan gravitasi di turunan curam. Bahkan, di tengah intensitas trek yang menuntut fokus penuh tersebut, Raisha dan Dila pun sempat merasakan sensasi nyungsep dan tersangkut di tengah jalur.
"Haduuuuh, saya dan Dila sempat bener-bener nyangkut nih, ITS People! Tapi biarpun ada momen gagal dan baju jadi kotor semua, justru tipe jatuh kayak gini loh yang bikin nagih," seru Raisha sambil tertawa lepas di atas kemudi ATV-nya.
Di situlah letak magisnya. Baju yang kotor oleh cipratan tanah liat dan momen-momen kehilangan keseimbangan justru melahirkan tawa. Ini adalah tipe kegagalan yang memompa hormon endorfin.
Perjalanan semakin dalam saat trek membawa kami melewati terowongan, menyisir tepian sungai dengan arus yang terus mengalir, hingga disambut oleh sebuah patung gorila ikonik—sebuah centerpiece surealis yang berdiri kokoh di tengah rimbunnya hutan.
Obat Terbaik untuk Jiwa
Setelah tangan terasa kebas menahan tarikan gas yang berat, beristirahat sejenak di tengah trek memberikan prespektif baru. Di sela-sela napas yang memburu, pemandangan khas Ubud kembali mengambil alih. Hijau, tak terbatas, dan sangat kontras dengan aksi agresif yang baru saja kami lakukan.
Pada akhirnya, perjalanan ATV di Ubud di akhir April ini menyisakan satu catatan penting bagi penonton dan pembaca setia. Di tempat yang dielu-elukan sebagai simbol ketenangan dunia, kita justru bisa menemukan diri kita yang paling hidup saat dihadapkan pada tantangan.
"ITS People, dari petualangan ini ada satu poin yang bisa saya petik. Di tempat yang dikenal sebagai simbol ketenangan ini, kita justru menemukan sisi lain yang penuh tantangan. Jadi, Ubud bukan cuma tentang Healing yang tenang, tapi tentang bagaimana kita berani keluar dari zona nyaman dan menikmati prosesnya," tutur Dila menyimpulkan perjalanan mereka hari itu.
Ubud membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar tentang Healing yang diam. Kadang, obat terbaik untuk jiwa yang jenuh adalah keberanian untuk membiarkan diri kotor, basah, lelah, dan merayakan setiap putaran rodanya.










