ID EN

Festival Budaya Lereng Merapi 2025, Ribuan Warga Penuhi Hargobinangun

Sabtu, 22 November 2025 | 22:46

Penulis: Respaty Gilang

Festival Lereng Merapi
Ribuan orang ikuti Festival Budaya Lereng Merapi 2025.
Sumber: Antaranews

Gelora Hargobinangun, sebuah lapangan besar di kaki Gunung Merapi, berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu, 22 November 2025, pagi. Ribuan warga dari berbagai penjuru Sleman tumpah ruah untuk merayakan Festival Budaya Lereng Merapi 2025, sebuah perayaan tahunan yang semakin terasa seperti “pesta adat raksasa” milik masyarakat lereng gunung paling aktif di Indonesia.

Acara ini digelar untuk memperingati Hari Jadi (Adeging) ke-79 Kalurahan Hargobinangun, sekaligus menjadi panggung besar untuk menegaskan identitas budaya masyarakat yang hidup berdampingan dengan Merapi.

Ajang ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh daerah, termasuk Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Wakil Ketua DPRD Sleman Ani Martanti, serta sejumlah pemangku kepentingan yang turut memberikan dukungan.

Seribu Penari dan Panggung Budaya yang Hidup

Salah satu ikon utama festival tahun ini adalah penampilan seribu penari yang melibatkan warga dari anak-anak, remaja, hingga para sesepuh desa. Mereka menampilkan koreografi yang menggabungkan unsur tradisi Jawa dengan energi khas muda-mudi lereng Merapi membuat suasana panggung jadi meriah dan penuh warna.

Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, mengatakan bahwa tujuan festival ini bukan hanya merayakan usia desa, tetapi juga untuk memastikan budaya lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Kegiatan ini mengangkat tema 'Manunggalung Cipta, Rasa, lan Karya'," katanya.

Tema ini menggambarkan filosofi masyarakat lereng Merapi yang percaya pada keselarasan antara kreativitas, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berkarya meski tinggal di kawasan rawan bencana. Catatan sejarah mencatat bahwa Hargobinangun merupakan salah satu daerah yang dekat dengan zona bahaya erupsi Merapi, namun semangat warganya tetap kokoh.

Euforia Seribu Hidangan dan Prosesi Budaya

Festival ini bukan hanya soal tari. Panitia menyiapkan seribu nasi kucing gratis, seribu tumpeng, dan seribu jadah tempe makanan khas Sleman yang erat dengan kisah legenda Roro Jonggrang dan tradisi Mataraman.

Ada pula prosesi pelepasan seribu burung perkutut, sebagai simbol doa untuk keselamatan, ketenteraman, dan harapan baru bagi warga lereng Merapi. Perkutut sendiri sejak lama dikenal sebagai burung dengan nilai spiritual dan budaya yang tinggi di masyarakat Jawa.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bahkan ikut turun ke lapangan dan menari bersama warga. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar menjadi momentum kebersamaan.

Danang memberikan apresiasi besar kepada seluruh warga dan perangkat desa yang terlibat dalam penyelenggaraan festival.

"Ini bentuk kekompakan, kerukunan dan semangat gotong royong masyarakat, lurah, dan seluruh pamong Kalurahan Hargobinangun," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa festival ini memperkuat upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat sekitar Merapi.

"Ini juga wujud syukur kepada Tuhan diberikan dikaruniai keberkahan di lereng Merapi," katanya.

Festival yang Jadi Perekat Komunitas Lereng Merapi

Festival Budaya Lereng Merapi bukan hanya agenda seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkuat solidaritas warga yang hidup berdampingan dengan alam. Dengan ribuan orang meramaikan acara, festival ini kembali membuktikan bahwa budaya bukan hanya simbol, tetapi napas kehidupan masyarakat Merapi.

Di tengah modernisasi dan derasnya arus hiburan digital, festival semacam ini menjadi “ruang pulang” bagi warga—sebuah tempat untuk mengingat siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan budaya apa yang mesti mereka jaga bersama.