Hangatnya Tradisi, Harumnya Kopi: Pesona Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Adat Kemiren
Minggu, 9 November 2025 | 16:50
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Ada aroma yang berbeda di udara Banyuwangi malam itu. Kopi hangat mengepul, tawa pecah di antara warga, dan ribuan orang berbaur di jalanan Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah. Tak ada sekat antara tuan rumah dan tamu, semuanya duduk bersama, menikmati momen yang sederhana tapi sarat makna.
Inilah Festival Ngopi Sepuluh Ewu, tradisi khas masyarakat Osing yang telah berlangsung sejak 2014 dan kini menjelma menjadi ikon budaya Banyuwangi.
“Momentum ini selain mengenalkan kopi Banyuwangi yang telah dikenal luas hingga ke luar negeri, juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat hadir di tengah ribuan pengunjung pada Sabtu, 8 November 2025, malam.
BACA JUGA
Desa Osing Kemiren Masuk Jaringan Wisata Dunia Versi UN Tourism
Festival Budaya Lereng Merapi 2025, Ribuan Warga Penuhi Hargobinangun
Magnet Budaya Suku Osing, Bikin Traveler Dunia Rela 'Blusukan' ke Desa Kemiren Setiap Tahun
Festival yang secara harfiah berarti minum kopi sepuluh ribu ini bukan sekadar ajang menikmati kopi gratis. Lebih dari itu, ia adalah bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai hidup masyarakat Osing, suguh, gupuh, lungguh yang menjadi panduan dalam menyambut tamu.
“Suguh berarti suguhan atau hidangan, gupuh artinya antusias dalam menerima tamu, dan lungguh berarti menyiapkan tempat sebaik-baiknya bagi setiap tamu yang datang,” ujar Kepala Desa Kemiren, M. Arifin.
“Ngopi sepuluh ewu ini adalah bentuk nyata dari filosofi itu. Kegiatan ini juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi warga, sekaligus menjaga warisan budaya,” sambungnya.
Dan benar saja, sepanjang jalan utama Desa Kemiren disulap menjadi warung kopi dadakan. Halaman rumah warga berubah jadi ruang temu, ada meja-meja kayu, tikar lesehan, dan aroma kopi robusta Banyuwangi yang menyeruak di udara malam.
Setiap tamu yang datang disambut dengan senyum ramah dan secangkir kopi yang disajikan dalam cangkir tanah liat tradisional, diwariskan turun-temurun. Kudapan lokal seperti kucur, tape ketan daun kemiri, hingga pisang goreng disuguhkan sebagai pelengkap, menciptakan harmoni rasa antara pahit kopi dan manis kebersamaan.
Desa yang Mendunia
Tak hanya dikenal karena kopinya, Desa Kemiren kini semakin mendunia. Tahun ini, desa adat tersebut meraih dua penghargaan bergengsi, The 5th ASEAN Homestay Award dan The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari United Nations Tourism (UN Tourism), pengakuan atas komitmen mereka menjaga warisan budaya sekaligus membuka diri bagi wisata dunia.
“Pemerintah daerah selalu mendukung untuk bisa menjaga budaya Banyuwangi secara bersama-sama,” lanjut Bupati Ipuk.
Dalam festival ini, Ipuk terlihat membaur, menikmati kopi bersama warga tanpa jarak, seolah menegaskan bahwa kopi bisa menyatukan siapa saja, dari pejabat hingga petani, dari wisatawan lokal hingga mancanegara.
Lebih dari Sekadar Minum Kopi
Suasana malam di Kemiren terasa begitu hangat. Lampu-lampu minyak menggantung di pinggir jalan, musik tradisional Osing mengalun pelan, dan setiap gelas kopi seolah menyimpan cerita.
Bagi warga setempat, acara ini bukan sekadar pesta tahunan, tapi simbol bagaimana kopi menjadi bahasa universal untuk menyapa dunia.
Bahkan, selebgram Winona Araminta ikut hadir bersama keluarganya. Ia membagikan momen kebersamaannya lewat media sosial, membuat banyak anak muda tertarik untuk datang dan merasakan sendiri pengalaman ngopi dalam suasana budaya yang otentik.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu kini tak hanya milik Banyuwangi, tapi telah menjadi magnet bagi para pelancong yang mencari pengalaman lokal yang autentik sebuah perjalanan rasa, budaya, dan kebersamaan dalam satu cangkir kopi.










