ID EN

Belitung - Napak Tilas Sang Laskar Pelangi

Selasa, 23 Desember 2025 | 20:35

Penulis: Rojes Saragih

Belitung - Napak tilas ini dimulai dari langkah kaki di Pantai Tanjung Tinggi, di mana batu-batu tua dan laut menyimpan bisik waktu. Angin berhembus pelan, membawa kita pulang ke masa kecil—saat mimpi masih sederhana dan harapan belum banyak bertanya.

Di hadapan Patung Dewi Kwan Im, kita belajar tentang hening, tentang keyakinan yang tumbuh, hidup, dan saling menjaga dalam diam. Perjalanan berlanjut ke Sekolah Replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi, tempat cita-cita pernah ditulis dengan tangan kecil di papan tua dan buku tipis.

Tawa anak-anak pecah saat kita berlari bersama mereka, tanpa beban, tanpa jarak. Sejujur itulah kebahagiaan. Saat bendera dihormat, kita terdiam. Inilah akar, inilah rumah, tempat kita belajar menjadi diri sendiri.

Dan di Waroeng Kopi Ake, secangkir kopi menutup perjalanan—hangat, jujur, seperti Belitung itu sendiri. Inilah Napak Tilas Laskar Pelangi, sebuah perjalanan rasa dan ingatan, untuk menemukan Belitung yang sesungguhnya.

Jejak Langkah di Pantai Tanjung Tinggi

Perjalanan ini bermula saat saya menjejaki Pasir Putih Pantai Tanjung Tinggi di Desa Ciput, Kecamatan Sijuk. Semenanjung ini diselimuti hening laut dan bebatuan granit yang menjadi ikon sekaligus lokasi syuting Film Laskar Pelangi yang membuatnya melejit di mata dunia. Dahulu, tempat ini pernah berjadi sebagai pelabuhan nelayan lokal. Kini, ia menyapa dengan hamparan pasir yang luas dan kisah kultural yang membisikkan tentang Belitung yang sebenarnya.

Ada rasa sayang dan penyesalan saat menyusuri pantai ini. Di balik sejarah dan keindahannya, angka pengunjung perlahan mulai menyusut. Pantai Tanjung Tinggi yang pernah ramai oleh langkah dan cerita, kini lebih sering disapa oleh hening. Seakan waktu berjalan lebih pelan, menunggu kembali mereka yang pernah jatuh cinta pada laut, batu, dan sejarah yang tak pernah benar-benar pergi.

Kedamaian di Vihara Dewi Kwan Im

Perjalanan berlanjut ke Patung Dewi Kwan Im yang terletak di kompleks Vihara Dewi Kwan Im, Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur. Lokasi religius dan budaya ini telah menjadi ikon spiritual Pulau Belitung sejak vihara ini didirikan pada tahun 1747, menjadi saksi perjalanan komunitas Tionghoa yang membentuk warna keberagaman di Belitung. Patung setinggi kurang lebih 12 meter itu menjadi simbol damai dan pengharapan, dengan pandangan luas ke Pantai Burung Mandi yang membingkai keheningan dari atas. Di sini, keindahan alam menyatu dengan kehidupan rohani, mengajak setiap langkah menuju pemahaman lebih dalam tentang rasa dan cerita yang membentang.

Vihara ini menjadi tempat ibadah yang didatangi umat dari berbagai daerah di Indonesia, datang dengan doa dan harapan masing-masing. Di tengah hening itu, para penjaga setia mengelola dan merawat tempat suci ini, menjaga ketertiban dan kedamaian agar setiap ibadah dapat berlangsung dengan tenang.

Melangkah ke Jantung Cerita: SD Replika dan Museum Kata

Kita kemudian melangkah ke SD Replika Muhammadiyah Laskar Pelangi yang terletak di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung. Sekolah kayu sederhana di atas bukit pasir ini adalah saksi bisu perjuangan anak-anak dalam novel fenomenal Andrea Hirata. Replika ini dibangun untuk menghidupkan kembali semangat belajar anak-anak penuh mimpi meski dengan keterbatasan. Di dalam kelasnya, perbincangan mengalir hangat, cerita-cerita kecil terdengar jujur seakan dinding kayu ikut menyimpan tawa dan harapan. Untuk merasakan kebersamaan yang lebih autentik, kami memilih bermain dan berlari di udara terbuka, merayakan suasana yang lebih hidup, seperti semangat anak-anak itu sendiri.

Tidak jauh dari sana, kami singgah di Museum Kata Andrea Hirata yang berada di Jalan Raya Laskar Pelangi. Museum sastra pertama di Indonesia ini didirikan oleh Andrea Hirata dan dibuka pada November 2012 untuk merawat mimpi dan inspirasi dari tanah Belitung. Di dalamnya, kata-kata hidup menyimpan cerita, perjalanan, dan jejak Laskar Pelangi yang telah menyapa dunia. Di sinilah kita diajak percaya, bahwa dari kampung kecil, mimpi bisa tumbuh besar dan menjalar jauh.

Penutup di Waroeng Kopi Ake

Sebelum menutup perjalanan, kami berhenti sejenak di Waroeng Kopi Ake. Kedai yang telah berdiri sejak awal tahun 1920-an ini terus bertahan melintasi zaman dari generasi ke generasi. Di tempat sederhana ini, kopi diracik bukan hanya dengan takaran, tapi dengan cerita dan kesabaran. Lewat obrolan singkat, kita bisa mendengar langsung bagaimana Waroeng Kopi Ake menjaga rasa, tradisi, dan kehangatan agar tetap hidup di tengah perubahan waktu. Secangkir kopi di sini menjadi penutup yang sempurna—hangat, jujur, dan mewakili keramahan Belitung yang sesungguhnya.

Dari pantai yang membisikkan sejarah, tempat suci yang meneduhkan, sekolah yang membangkitkan mimpi, museum yang mengabadikan kata, hingga secangkir kopi tradisional—setiap lokasi adalah sebuah fragmen. 

Saat disatukan dalam napak tilas ini, fragmen-fragmen itu merajut sebuah pemahaman yang utuh—bahwa Belitung bukan hanya sekadar tempat, melainkan sebuah perasaan yang hidup dalam ingatan, laut, batu, senyum anak-anak di sekolah Laskar Pelangi, dan warisan budayanya yang hangat.