ID EN

Deretan Pelatih yang Kehilangan Jabatan karena Piala Dunia 2026

Kamis, 2 Juli 2026 | 17:30

Penulis: Arif S

Ronald Koeman
Pelatih Timnas Belanda di Piala Dunia 2026 Ronald Koeman.
Sumber: wikimedia commons

Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para pemain untuk membuktikan kualitasnya, tetapi juga menjadi ujian paling berat bagi para pelatih. Ketika target tidak tercapai, kursi pelatih menjadi taruhan. Bahkan sebelum turnamen berakhir, sudah ada sejumlah juru taktik memilih mundur atau diganti.

Nama besar seperti Ronald Koeman (Belanda), Marcelo Bielsa (Uruguay), Sebastian Beccacece (Ekuador), hingga Hong Myung-bo (Korea Selatan) menjadi bagian dari daftar pelatih yang mengakhiri masa baktinya usai perjalanan mengecewakan di Piala Dunia 2026.

Mereka mengikuti jejak Steve Clarke (Skotlandia), Miroslav Koubek (Republik Ceko), dan Sabri Lamouchi (Tunisia), yang lebih dulu meninggalkan kursi kepelatihan.

Setiap pelatih memiliki cerita berbeda. Ada yang datang ke turnamen dengan ekspektasi tinggi setelah sukses membawa negaranya lolos dari babak kualifikasi, namun semuanya berubah hanya dalam hitungan pekan di panggung terbesar sepak bola dunia.

Marcelo Bielsa menjadi salah satu nama paling disorot setelah Uruguay gagal total di fase grup. Tim juara dunia dua kali itu bahkan tidak mampu meraih satu kemenangan pun sepanjang penyisihan.

"Bagi saya, perpisahan ini terasa sangat menyakitkan karena besarnya harapan yang saya miliki saat memulai proyek ini, (tetapi) saya tidak dapat menjustifikasi posisi akhir yang kami raih," ujar pelatih asal Argentina itu.

Nasib serupa dialami Sebastian Beccacece. Pelatih berusia 45 tahun itu memutuskan mengakhiri kontraknya setelah Ekuador tersingkir di babak 32 besar usai kalah dari salah satu tuan rumah, Meksiko.

Padahal, sebelum Piala Dunia dimulai, Beccacece sukses membawa Ekuador finis sebagai runner-up kualifikasi zona Amerika Selatan sekaligus mencatatkan rekor 19 pertandingan tanpa kekalahan.

"Kontrak saya berakhir tepat setelah Piala Dunia selesai, dan mengingat kami gagal memenuhi target yang kami janjikan, langkah terbaik adalah melepaskan jabatan," katanya.

Pelatih Korea Selatan Hong Myung-bo mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan Taeguk Warriors melangkah ke babak gugur.

"Saya gagal memberikan hasil yang diharapkan publik," kata mantan pemain bertahan itu. 

Sementara itu, Ronald Koeman mengakhiri masa jabatannya setelah Belanda tersingkir secara dramatis melalui adu penalti melawan Maroko pada babak 32 besar. 

Hasil itu menjadi eliminasi tercepat Belanda dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.

Steve Clarke juga memilih mundur meski baru menandatangani kontrak empat tahun hanya sebulan sebelum turnamen dimulai. Selama tujuh tahun memimpin Skotlandia, Clarke mengakhiri penantian panjang negaranya tampil di Piala Dunia sejak 1998 dan dua kali membawa tim lolos ke putaran final Piala Eropa.

Di sisi lain, Miroslav Koubek mengambil keputusan serupa setelah Republik Ceko finis sebagai juru kunci grup. Pelatih veteran itu merasa bertanggung jawab penuh atas kegagalan timnya.

Sabri Lamouchi bahkan menjadi korban pertama di Piala Dunia 2026. Tunisia memecat pelatih asal Prancis setelah kekalahan telak 1-5 dari Swedia pada laga pembuka, menjadikannya salah satu dari sedikit pelatih yang kehilangan pekerjaan saat turnamen masih berlangsung.

Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah Piala Dunia. Sebelumnya, Henryk Kasperczak saat menangani Tunisia dan Cha Bum-kun bersama Korea Selatan juga dipecat di tengah turnamen Piala Dunia 1998. Bahkan Spanyol sempat membuat kejutan dengan memecat Julen Lopetegui hanya dua hari sebelum Piala Dunia 2018 dimulai.

Piala Dunia memang menjadi panggung paling bergengsi dalam sepak bola, tetapi juga menjadi tempat paling kejam bagi seorang pelatih.*** 

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!