ID EN

Hong Myung-bo Mundur, Akhir Tragis Sang Pahlawan di Tengah Krisis Sepak Bola Korea Selatan

Senin, 29 Juni 2026 | 10:28

Penulis: Rojes Saragih

Hong Myung-bo Mundur
Hong Myung-bo Mundur, Akhir Tragis Sang Pahlawan di Tengah Krisis Sepak Bola Korea Selatan
Sumber: ITSMe - ChatGPT AI

Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri sebagai pelatih tim nasional Korea Selatan pada Minggu (28/6), sehari setelah Taeguk Warriors dipastikan gagal lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Keputusan itu disampaikan di kamp latihan tim nasional Korea Selatan di Guadalajara, Meksiko, sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalan memenuhi target di panggung sepak bola terbesar dunia.

Bagi publik Korea Selatan, pengunduran diri Hong memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian pelatih. Ia merupakan salah satu legenda terbesar sepak bola Negeri Ginseng, kapten yang memimpin Korea Selatan meraih peringkat keempat pada Piala Dunia 2002, pencapaian terbaik sepanjang sejarah sepak bola negara tersebut. Lebih dari dua dekade kemudian, sosok yang dahulu dielu-elukan sebagai pahlawan nasional itu justru menutup pengabdiannya di tengah gelombang kritik dan kekecewaan.

Dalam pernyataannya, Hong lebih dahulu menyampaikan permohonan maaf kepada para pendukung sepak bola Korea Selatan sebelum mengumumkan keputusannya.

"Pertama-tama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada para penggemar dan pendukung sepak bola Korea Selatan. Hari ini saya mengundurkan diri dari tim nasional sepak bola," ujar pelatih berusia 57 tahun tersebut, dikutip Yonhap News Agency.

Hong mengungkapkan bahwa sejak menerima kepercayaan kembali menangani tim nasional pada 2024, ia selalu berusaha menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin. Selama dua tahun terakhir, setiap keputusan yang diambil, mulai dari pemilihan pemain hingga persiapan pertandingan, selalu didasarkan pada satu pertanyaan yang sama: apakah keputusan itu merupakan pilihan terbaik bagi sepak bola Korea Selatan.

Namun, upaya tersebut tidak mampu membawa Taeguk Warriors memenuhi ekspektasi. Korea Selatan datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu unggulan di Grup A bersama tuan rumah Meksiko, Republik Ceko, dan Afrika Selatan. Mereka membuka turnamen dengan kemenangan 2-1 atas Republik Ceko yang sempat membangkitkan optimisme. Akan tetapi, dua kekalahan beruntun 0-1 dari Meksiko dan Afrika Selatan membuat Son Heung-min dan rekan-rekannya hanya mengumpulkan tiga poin.

Perolehan itu masih memberi peluang lolos melalui jalur delapan tim peringkat ketiga terbaik. Namun, hasil pertandingan di grup lain tidak berpihak kepada Korea Selatan sehingga langkah mereka terhenti sebelum babak 32 besar dimulai.

Meski Hong memilih memikul seluruh tanggung jawab dengan mengundurkan diri, banyak pihak menilai persoalan sepak bola Korea Selatan tidak berhenti pada sosok pelatih. Penunjukannya untuk periode kedua pada 2024 sejak awal telah memunculkan kontroversi terkait proses pemilihan pelatih. Kegagalan di Piala Dunia 2026 pun semakin memperbesar tekanan terhadap Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola organisasi, sistem pembinaan, dan arah pengembangan tim nasional.

Pengunduran diri Hong menutup babak kedua pengabdiannya bersama Taeguk Warriors. Namun, bagi sepak bola Korea Selatan, pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai. Federasi kini dituntut tidak hanya mencari pelatih baru, tetapi juga membangun kembali kepercayaan publik dan memastikan kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi titik awal pembenahan sepak bola nasional.

Bagi Hong Myung-bo, perjalanan ini akan selalu menyisakan ironi. Ia akan dikenang sebagai kapten yang membawa Korea Selatan mencapai prestasi terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia, tetapi juga sebagai pelatih yang memilih mundur demi mempertanggungjawabkan kegagalan tim nasional. Dua babak karier yang berbeda, namun sama-sama lahir dari pengabdian penuh kepada sepak bola Korea Selatan.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!