Usulan Timnas Italia Gantikan Iran di Piala Dunia 2026 Menuai Kecaman
Sabtu, 25 April 2026 | 18:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/FIGC
Polemik di luar lapangan mencuri perhatian menjelang Piala Dunia 2026. Kedutaan Besar Iran di Italia melontarkan kritik tajam setelah muncul laporan mengenai kemungkinan Timnas Italia menggantikan Iran di turnamen terbesar Sepak Bola Dunia itu.
Isu tersebut berkembang setelah adanya pernyataan dari utusan khusus Amerika Serikat untuk kemitraan global, Paolo Zampolli, yang disebut mengusulkan Italia sebagai pengganti Iran di tengah ketegangan geopolitik kedua negara.
Bagi Iran, gagasan itu bukan sekadar spekulasi olahraga, melainkan bentuk campur tangan politik terhadap kompetisi yang seharusnya ditentukan di lapangan.
BACA JUGA
FIFA Tegaskan Iran Tetap Tampil di Piala Dunia 2026, Tolak Skenario Alternatif
Italia Dekati Tiket Piala Dunia 2026, Ditantang Bosnia-Herzegovina di Final Playoff
16 Tim Eropa Berebut 4 Tiket Piala Dunia 2026, Italia Hadapi Jalan Terjal
"Sepak bola adalah milik rakyat, bukan politisi. Italia telah mencapai kejayaan di lapangan, bukan berkat keuntungan politik. Upaya untuk mengecualikan Iran dari Piala Dunia hanya menunjukkan 'kebangkrutan moral' Amerika Serikat, yang bahkan takut akan kehadiran 11 pemain muda Iran di lapangan," ujar Kedubes Iran.
Pernyataan tersebut menegaskan sikap Iran, partisipasi di Piala Dunia harus ditentukan melalui jalur kompetitif, bukan keputusan politik atau tekanan diplomatik.
Di sisi lain, dari Italia, respons bernada serupa juga muncul. Presiden Komite Olimpiade Italia Luciano Buonfiglio menyebut laporan soal penggantian Iran sebagai sesuatu yang menyinggung.
Ia menekankan tiket menuju Piala Dunia harus diperoleh lewat Hasil Pertandingan, bukan pemberian administratif.
Sikap itu mencerminkan sensitivitas Italia terhadap sejarah sepak bola mereka. Azzurri dikenal sebagai salah satu raksasa dunia dengan empat gelar Piala Dunia, namun dalam beberapa tahun terakhir justru menghadapi periode sulit.
Pada 31 Maret, Italia dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah kalah adu penalty di final playoff dari Bosnia dan Herzegovina. Hasil itu memperpanjang krisis salah satu negara paling bersejarah dalam sepak bola internasional.
Laporan Financial Times menyebut Presiden AS Donald Trump tengah menjalankan diplomasi sepak bola guna memperbaiki hubungan dengan salah satu sekutu utama NATO tersebut, setelah ketegangan terkait pangkalan militer dan kritik terhadap Paus Leo XIV.
Namun wacana menjadikan sepak bola sebagai alat diplomasi justru memicu reaksi keras. Bagi banyak pihak, Piala Dunia adalah panggung meritokrasi olahraga, tempat tiket diraih lewat performa, bukan negosiasi politik.
Iran menegaskan mereka tak akan diam menghadapi isu tersebut.
Dengan nada tegas, kedutaan mereka menempatkan persoalan ini sebagai pertarungan prinsip, apakah sepak bola tetap milik pemain dan suporter, atau menjadi arena kepentingan negara besar.
Sumber: Sputnik











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!