Bogor - "Ini adalah pertarungan dua gaya yang sangat berbeda; Arsenal yang bermain pragmatis dengan pertahanan solid, harus menghadapi PSG yang tampil terbuka dengan serangan sayap dahsyat." Pernyataan tajam ini dilontarkan oleh pengamat sepak bola kawakan, Ronny Pangemanan, dalam episode terbaru Podcast Itsme.
Dipandu oleh host Gilang Respaty dan Yatna langsung dari studio mereka di Sentul, Bogor, diskusi memanas saat membedah laga Final Liga Champions musim ini yang mempertemukan Arsenal kontra Paris Saint-Germain (PSG).
Setelah 22 tahun menanti, Arsenal asuhan Mikel Arteta akhirnya sukses merengkuh kembali trofi Liga Inggris. Menariknya, bukan lewat filosofi permainan cantik tak berkesudahan yang membawa mereka ke takhta, melainkan pendekatan yang jauh lebih pragmatis.
BACA JUGA
Jelang Final Liga Champions: Luis Enrique Blak-blakan Bedah Kualitas Mikel Arteta
Taktik Dingin Kompany vs Sentuhan Enrique: Mengapa Raksasa Liga Champions Berguguran?
Arsenal Siapkan Parade Juara Liga Inggris, The Gunners Bidik Double Winners
Pengamat Erwin Fitriansyah menyoroti The Gunners yang kini tampil lebih efisien demi hasil akhir. "Menang satu-nol sudah cukup. Pertahanan mereka luar biasa musim ini, paling sedikit kebobolan, dan sangat mematikan di skema bola mati," ujar Erwin. Hadirnya David Raya dengan rekor clean sheet gemilangnya, serta tembok baja Saliba dan Gabriel Magalhaes, menjadi fondasi utama taktik Arteta.
Di kubu lawan, PSG melangkah ke Puskas Arena dengan status "pembantai" raksasa Eropa. Laju skuad asuhan Luis Enrique ke final sangat mengerikan setelah mereka sukses melibas Bayern Munchen, Liverpool, hingga Chelsea.
Erwin secara khusus menggarisbawahi ledakan lini serang Les Parisiens yang bertumpu pada Khvicha Kvaratskhelia dan Ousmane Dembele. "PSG membuktikan bisa menghancurkan tim dengan pertahanan terkuat sekalipun. Kvaratskhelia adalah otak serangan yang sangat berbahaya dari sisi flank," tegasnya.
Laga final pada 30 Mei 2026 ini akan menjadi ujian pamungkas. Apakah tembok London sanggup meredam eksplosivitas PSG yang musim ini menjadikan klub Inggris sebagai bulan-bulanan?
Erwin lebih condong mengunggulkan PSG berkat skill individu penyerangnya yang sulit dijinakkan mutlak. Sementara itu, Bung Ropan justru menjagokan Arsenal, yakin bahwa kedisiplinan taktis akan mematahkan mitos dan membawa Meriam London mencetak sejarah baru di Eropa.










