ID EN

Apakah Tuan Rumah Piala Dunia Untung Besar? Ini Fakta Ekonomi di Balik Kemewahan Turnamen

Kamis, 28 Mei 2026 | 11:32

Penulis: Arif S

Maskot Piala Dunia 2026
Maskot Piala Dunia 2026 Maple (Rusa Kanada), Zayu (Jaguar Meksiko) dan Clutch (Elang Amerika Serikat).
Sumber: Antara/FIFA.com

Piala Dunia selalu menghadirkan kemeriahan, gengsi, dan sorotan global. Namun di balik gemerlap turnamen Sepak Bola terbesar dunia itu, muncul satu pertanyaan apakah negara tuan rumah benar-benar mendapatkan keuntungan finansial besar dari penyelenggaraan Piala Dunia?

Faktanya, Piala Dunia merupakan salah satu ajang Olahraga termahal di dunia. Miliaran dolar Amerika Serikat harus dikeluarkan untuk membangun stadion, memperbaiki infrastruktur, memperluas Transportasi Publik, hingga mempercantik wajah kota demi menyambut jutaan pengunjung dari seluruh dunia.

Pertanyaan mengenai dampak ekonomi Piala Dunia pernah diteliti tiga ekonom, Jorge Viana, Antonio Barbosa, dan Breno Sampaio. Mereka menuangkan hasil riset dalam artikel ilmiah berjudul “Does the World Cup get the economic ball rolling? Evidence from a synthetic control approach”. Artikel itu dipublikasikan jurnal EconomiA pada September-Desember 2018.

Dalam penelitian yang menganalisis Piala Dunia dari 1978 hingga 2006 tersebut, ketiganya menyimpulkan turnamen sepak bola sejagat tidak memberikan efek signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita negara penyelenggara. 

Dengan kata lain, Piala Dunia tidak otomatis meningkatkan pendapatan rata-rata masyarakat negara tuan rumah.

Meski demikian, penelitian itu tidak memasukkan faktor citra negara maupun dampak Pariwisata jangka panjang yang kerap menjadi alasan utama sebuah negara bersedia menggelontorkan dana besar demi menjadi tuan rumah.

Contoh paling nyata terlihat pada penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar. Turnamen tersebut menjadi salah satu edisi termahal sepanjang sejarah. 

Menurut laporan International Monetary Fund, Qatar menginvestasikan sekitar 200 hingga 300 miliar dolar AS untuk memperbaiki tata kota dan membangun berbagai infrastruktur pendukung.

Dana besar itu digunakan untuk pengembangan hotel, stadion, sistem transportasi bawah tanah, jalur Kereta Api, pelabuhan, hingga bandar udara baru demi mendukung kelancaran turnamen.

Secara finansial jangka pendek, pemasukan Qatar dari Piala Dunia memang jauh lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan. 

Pendapatan bruto mereka diperkirakan hanya sekitar 1,6 hingga 2,4 miliar dolar AS atau setara 0,7-1,0 persen dari PDB Qatar tahun 2022. 

Sebagian besar pemasukan tersebut berasal dari sektor Pariwisata dan konsumsi para penggemar sepak bola yang datang selama turnamen berlangsung.

Namun, dampak jangka panjang mulai terlihat setelah turnamen selesai. Media ekonomi Inggris, The Banker, melaporkan Qatar mengalami lonjakan Kunjungan Wisatawan tertinggi dalam satu dekade setelah menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022.

Data menunjukkan jumlah kedatangan wisatawan pada Januari-Februari 2023 meningkat hingga 347 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. \

Selama Piala Dunia berlangsung pada November-Desember 2022 saja, Qatar menerima sekitar 3,4 juta penggemar sepak bola dari berbagai negara.

Firma konsultan asal Mesir, LOGIC, menilai situasi tersebut memberi keuntungan besar dari sisi citra internasional. 

Qatar kini dipandang sebagai destinasi global baru dengan infrastruktur modern dan daya tarik investasi yang meningkat.

Selain memperkuat sektor pariwisata, pembangunan infrastruktur baru juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap Qatar.

Situasi itu menunjukkan keuntungan menjadi Tuan Rumah Piala Dunia tidak selalu datang dalam bentuk profit instan. 

Dalam banyak kasus, manfaat terbesar justru hadir dalam jangka panjang melalui peningkatan citra negara, pertumbuhan pariwisata, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan setelah turnamen berakhir.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!