ID EN

Festival Cap Go Meh 2026 Singkawang Jadi Destinasi Wisata Budaya dan Penggerak Ekonomi

Rabu, 11 Maret 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Perayaan budaya Cap Go Meh di Singkawang sukses menarik perhatian wisatawan lokal dan manca negara (ANTARA/Rendra Oxtora)
Antara/Rendra Oxtora
Sumber: Perayaan budaya Cap Go Meh di Singkawang

Di sudut pesisir Kalimantan Barat, Singkawang kembali bersinar setiap kali Festival Cap Go Meh tiba. Pada 2026, perayaan yang identik dengan lampion merah, parade budaya, dan tradisi Tionghoa ini menjadi motor penggerak ekonomi lokal, panggung Promosi Pariwisata, sekaligus katalis percepatan pembangunan daerah.

Di sepanjang jalan kota, ribuan lampion menggantung di atas arus manusia dari berbagai daerah. Denting musik tradisional, warna-warni kostum parade, dan aroma kuliner yang mengepul dari tenda-tenda festival menciptakan suasana Singkawang terasa seperti panggung budaya terbuka.

Bagi Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie, momentum Cap Go Meh bukan hanya perayaan identitas budaya, melainkan strategi membangun citra kota di panggung wisata nasional dan internasional.

"Dengan dukungan dari semua pihak, Kota Singkawang optimistis dapat terus berkembang sebagai kota yang harmonis, maju, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional," ujar Tjhai Chui Mie saat perayaan Cap Go Meh di Singkawang awal Maret.

Tahun ini, gaung festival terasa semakin luas dengan kehadiran sejumlah tokoh nasional dan internasional.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain, Menko Infrastruktur Agus Harimukti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, tokoh intelijen AM Hendropriyono, tokoh nasional Oesman Sapta Odang, dan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong. 

Kehadiran mereka mempertegas pengakuan, Cap Go Meh Singkawang telah menjelma menjadi agenda wisata budaya dengan daya tarik global.

Bagi Tito Karnavian, pengalaman menghadiri festival tersebut meninggalkan kesan mendalam, terutama terkait harmoni sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Singkawang.

"Saya sudah empat kali diundang menghadiri Festival Cap Go Meh di Singkawang, tetapi baru kali ini bisa menyaksikan secara langsung. Saya bangga melihat masyarakatnya sangat toleran," katanya.

Ia menambahkan perayaan itu memperlihatkan wajah keberagaman Indonesia yang hidup dalam keseharian masyarakat.

"Kondisi ini mencerminkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia," katanya.

Namun denyut festival tidak hanya terasa di panggung parade budaya. Di kawasan Jalan Sejahtera dan Jalan Niaga, tenda-tenda kuliner berjajar sepanjang jalan dalam Festival Kuliner yang digelar pada 28 Februari hingga 3 Maret. 

Aroma hidangan tradisional bercampur dengan riuh percakapan wisatawan yang berburu pengalaman rasa khas Singkawang.

Ketua Pelaksana Perayaan Bun Cin Thong menjelaskan, festival kuliner menjadi panggung penting bagi pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan lonjakan wisatawan.

“Festival Kuliner ini menghadirkan berbagai makanan khas Singkawang dengan harga terjangkau. Tujuannya untuk memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada pengunjung dari luar kota maupun mancanegara,” kata Bun Cin Thong.

Bagi pemerintah kota, integrasi antara budaya dan ekonomi menjadi strategi untuk menciptakan ekosistem Pariwisata Berkelanjutan

Perayaan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga membuka ruang transaksi ekonomi bagi masyarakat.

“Siapa pun yang datang ke Singkawang tidak perlu khawatir soal makanan. Selain restoran dan rumah makan yang sudah ada, pusat kuliner selama perayaan siap melayani pengunjung,” Tjhai Chui Mie.

Dampak ekonomi festival juga terasa hingga sektor perhotelan. Menjelang puncak Cap Go Meh 2026, hampir seluruh hotel di kota ini dipadati wisatawan. 

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang Mokhlis menyebutkan pemerintah daerah telah menyiapkan 47 hotel untuk menampung pengunjung selama rangkaian acara berlangsung.

"Momentum Cap Go Meh selalu berdampak pada peningkatan Kunjungan Wisatawan. Ini memberi efek positif bagi perputaran ekonomi masyarakat, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM," katanya.

Data beberapa tahun terakhir menunjukkan tren meningkat. Pada 2023 tingkat hunian hotel bahkan mencapai 100 persen.

Jumlah kunjungan wisatawan melonjak dari 300 ribu-an pada 2024 menjadi 700 ribu-an pada 2025.

Tahun ini, pemerintah kota memprediksi total kunjungan dapat menembus satu juta wisatawan.

Lonjakan tersebut menjadi penanda bagaimana sebuah festival budaya mampu menggerakkan roda ekonomi kota.(Antara)