Aceh Melejit! 20 Juta Kunjungan, Tegaskan Status Destinasi Favorit Wisata Alam dan Religi
Kamis, 26 Februari 2026 | 12:30
Penulis: Arif S

Sumber: Disbudpar Pemprov Aceh
Di ujung barat Indonesia, di mana Samudra Hindia bertemu daratan Sumatra, Aceh terus menegaskan sebagai ruang pertemuan alam, iman, dan tradisi. Tahun 2025 menjadi penanda provinsi ini mencatat sekitar 20,03 juta Perjalanan Wisata sepanjang Januari hingga Desember, melonjak signifikan dari 12,9 juta kunjungan pada tahun sebelumnya.
Angka tersebut bukan sekadar statistik tetapi mencerminkan denyut perjalanan menuju pantai indah, masjid bersejarah, hingga desa budaya yang menjaga ritus turun-temurun.
Dari total perjalanan itu, Wisatawan Nusantara (wisnus) mencapai 19.989.152 perjalanan, sementara Wisatawan Mancanegara (wisman) tercatat 46.325 perjalanan, sebuah tren positif yang memperlihatkan Aceh tetap terbuka bagi dunia.
BACA JUGA
Potensi Wisata Alam Puncak Genting Gayo Lues Menunggu Sentuhan Pemda
Diskon Tiket Pesawat Dongkrak Pariwisata Aceh, Libur Akhir Tahun Momentum Eksplorasi Tanah Rencong
Aceh Jadi Magnet Baru Traveler Premium Asia Tenggara
Puncak kunjungan terjadi pada April 2025, bertepatan dengan momentum libur panjang, dengan total 2.443.461 perjalanan.
Rata-rata, lebih dari satu juta orang bergerak menuju Aceh setiap bulan, mencari pengalaman yang tak selalu bisa ditemukan di destinasi lain di Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, menegaskan dominasi Wisatawan Domestik dalam pergerakan tersebut.
"Pergerakan wisatawan di Aceh masih didominasi Wisatawan Nusantara. Ini menunjukkan Aceh tetap menjadi tujuan perjalanan favorit, baik untuk wisata alam, religi, maupun budaya,” ujar Dedy di laman Disbudpar Pemprov Aceh.
Pernyataan itu terasa relevan ketika menyusuri ragam lanskap Aceh, dari ombak kelas dunia di pesisir barat, hutan hujan tropis menyelimuti dataran tinggi, hingga jejak Sejarah Islam yang membentuk identitas sosialnya.
Wisata Religi dan budaya berpadu dengan lanskap dramatis, menciptakan Pengalaman Perjalanan kontemplatif sekaligus eksploratif.
Namun perjalanan tak selalu mulus. Saat ini, Aceh tengah menghadapi bencana banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Beberapa destinasi di wilayah tengah dilaporkan terdampak.
“Beberapa Destinasi Wisata, terutama di daerah tengah, terdampak dan mengalami kerusakan,” katanya.
Meski demikian, optimisme tetap dijaga. Pemerintah daerah bersama pihak terkait tengah melakukan penanganan dan pemulihan, memastikan keamanan dan kesiapan destinasi sebelum kembali dibuka sepenuhnya bagi wisatawan.
“Kami berharap kondisi ini segera pulih. Pemerintah bersama pihak terkait terus melakukan penanganan dan pemulihan agar destinasi wisata bisa kembali dikunjungi dengan aman,” kata Dedy.
Ke depan, promosi dan penyelenggaraan event budaya akan diperkuat sebagai bagian dari strategi kebangkitan pariwisata pascabencana.
Festival, pertunjukan seni, dan agenda budaya diyakini mampu kembali menghidupkan ruang-ruang publik sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Dengan dukungan semua pihak dan masyarakat, kami optimistis sektor pariwisata Aceh dapat kembali tumbuh dan bergerak positif,” jelas Dedy.
Di Aceh, perjalanan bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang makna. Tentang bagaimana alam, tradisi dan spiritualitas terus memanggil orang untuk datang dan kembali.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!