ID EN

Potensi Wisata Alam Puncak Genting Gayo Lues Menunggu Sentuhan Pemda

Selasa, 3 Februari 2026 | 16:30

Penulis: Arif S

Foto udara Puncak Genting, Kabupaten Gayo Lues, Aceh
Foto udara penginapan, rumah makan dan fasilitas untuk berfoto di Puncak Genting, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.
Sumber: Antara Foto/Raisan Al Farisi

Dari ketinggian Puncak Genting, perbukitan Gayo Lues tak pernah benar-benar kehilangan pesonanya. Di tengah jejak banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025, kawasan ini tetap menyimpan potensi Wisata Alam yang perlahan kembali bernapas.

Puncak Genting menjadi salah satu Destinasi Alam, menawarkan panorama perbukitan khas pedalaman Aceh. 

Berjarak sekitar 16 kilometer dari Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues, kawasan ini berada cukup dekat untuk dijangkau wisatawan lokal yang mencari pelarian singkat dari rutinitas kota.

Pemilik Genting AMD, Asmaini, menyebut lokasi yang ia rintis bersama keluarganya itu memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan.

“Kalau menurut saya, potensi wisatanya di sini besar karena pengunjung peminatnya besar. Cuman di kami ini, ya, saya tidak tahu di tempat yang lain, tapi di tempat saya ini belum ada fasilitas dibantu Pemda,” ujarnya.

Di atas bukit, Asmaini menyediakan sejumlah wahana sederhana untuk berfoto, pondok kecil untuk beristirahat sambil makan dan minum, serta rencana pengembangan pondok wisata atau homestay. 

Konsepnya tetap berpijak pada lanskap alam, memberi ruang bagi wisatawan untuk menikmati perbukitan tanpa distraksi berlebihan.

Sebelum bencana hidrometeorologi melanda wilayah ini, arus wisatawan cukup menjanjikan. Pada akhir pekan dan hari Libur Nasional, jumlah pengunjung bisa mencapai 200 orang, dengan rata-rata omzet sekitar Rp5 juta per pekan. Namun setelah bencana, denyut wisata di Puncak Genting nyaris terhenti.

Meski demikian, Puncak Genting tidak benar-benar ditinggalkan. Asmaini tetap membuka lokasi wisata tersebut, bahkan menjadikannya ruang singgah kemanusiaan di masa darurat. Pada awal pascabencana, ia menyediakan kopi Gratis bagi para relawan yang melintas.

“Biar ada orang mampir, orang yang capek, yang enggak ada dana, bisa ngopi gratis di sini,” katanya.

Bagi Asmaini, Puncak Genting bukan sekadar usaha keluarga, melainkan aset wisata alam yang dapat tumbuh bersama masyarakat dan pemerintah daerah. 

Ia berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, terutama dalam bentuk pelatihan pengelolaan destinasi dan kerja sama pengembangan wisata.

“Kalau misalnya kita buka ini Pariwisata benar-benar. Kita buat kolam renangnya. Kita buat yang bagusnya. Bisa kerja sama kita sama pemda, kan PAD-nya (pendapat asli daerah) bisa puluhan juta,” harapnya.***