ID EN

Fenomena Perjalanan Pergi Lebih Lama Saat Liburan, Ternyata Ada Alasan Ilmiahnya

Sabtu, 31 Januari 2026 | 23:52

Penulis: Arif S

Efek pergi pulang perjalanan wisata
Ilustrasi - Efek pergi pulang perjalanan wisata.
Sumber: Envato

Hampir setiap pelancong pernah merasakannya. Perjalanan menuju sebuah destinasi terasa panjang dan melelahkan, namun saat kembali pulang, rute yang sama justru terasa jauh lebih singkat. Fenomena ini bukan ilusi tetapi ada penjelasan ilmiah di baliknya.

Manusia memiliki perasaan subjektif terhadap waktu. Ini karena perasaan dipengaruhi lingkungan sekitar, suasana hati, dan kegiatan pada saat itu. Perasaan subjektif itu juga menciptakan efek perbedaan waktu perjalanan pulang-pergi.

Efek Perjalanan pulang-pergi ini lebih terasa ketika seseorang pergi ke tempat asing, tidak familiar, atau bahkan baru pertama kali dikunjungi. 

Ketika rasa penasaran bercampur dengan ketidakpastian, otak bekerja lebih aktif dalam memproses informasi di sekitar mulai dari rute, kondisi jalan, hingga kekhawatiran soal waktu tempuh.

Dilansir The Washington Post, menurut beberapa psikolog salah satu penyebabnya, karena efek perjalanan pulang-pergi berkaitan dengan sikap seseorang dalam memperhatikan waktu.

Ketika orang lebih memperhatikan tiap menit waktu, akan terasa lama. Sama halnya ketika buru-buru, atau terjebak macet. Dalam situasi seperti ini, perhatian orang terfokus pada waktu yang terus bergerak, bukan pada perjalanan itu sendiri.

Biasanya pada kondisi seperti ini seseorang akan lebih sering memeriksa jam tangan sambil merasa cemas karena waktu terkesan sangat lambat. 

Sebaliknya, ketika pulang dan tekanan berkurang, perjalanan terasa lebih ringan dan cepat.

Begitupun sebaliknya, ketika terdistraksi dengan sesuatu yang lebih menarik atau asyik menikmati momen tanpa terburu-buru, waktu terasa cepat berlalu. 

Teori ini kemudian mengarahkan pemahaman bahwa situasi yang sedang berlangsung bisa memengaruhi persepsi terhadap waktu. 

Waktu terasa lebih cepat ataupun lebih lambat, tergantung pada apa yang dilakukan dan bagaimana perhatian teralihkan.

Selain itu ada alasan lain mengenai efek perjalanan pulang-pergi, yaitu seberapa familiarnya dengan tujuan. Selama menuju tempat yang belum pernah dikunjungi, perjalanan akan terasa lebih lama tetapi rasanya lebih cepat ketika pulang.

Hal ini bisa jadi karena ketika berangkat, belum mengenali jalanan tersebut. Sedangkan ketika pulang, sudah mulai hafal dengan rute dan jalanan. Efek ini kurang terasa ketika pergi ke tempat yang sering didatangi.

Sejumlah penjelasan tersebut tidak serta merta menjelaskan efek perjalanan pulang-pergi secara keseluruhan. Salah satu artikel ilmiah untuk rujukan teori ini, adalah "The Return Trip Effect: Why the Return Trip Often Seems to Take Less Time".

Dalam artikel tersebut, penulis mengatakan respondennya yang sering melakukan perjalanan melewati rute sama, memiliki ekspektasi akurat tentang waktu tempuh.