ID EN

Taste of Indonesia di Hangzhou, Ketika Kuliner Nusantara Menjadi Panggung Diplomasi Rasa

Sabtu, 22 November 2025 | 17:01

Penulis: Respaty Gilang

Koki Yuli Hariyanto dan pukis pandan di restoran hotel Le Meridien Hangzhou Binjiang.
Koki Yuli Hariyanto dan pukis pandan di restoran hotel Le Meridien Hangzhou Binjiang, Hangzhou, provinsi Zhejiang.
Sumber: Antaranews

Festival kuliner “Taste of Indonesia” di Le Meridien Hangzhou Binjiang, Zhejiang, China, bukan sekadar perayaan makanan Nusantara. Selama dua pekan penuh, hidangan khas Indonesia dimasak langsung oleh koki Tanah Air dan disajikan kepada tamu restoran hotel bintang lima. Ajang ini menjadi langkah nyata memperluas diplomasi budaya lewat kekayaan rasa Indonesia dengan dua negara besar Asia sebagai panggungnya.

Dalam pembukaan festival, Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, menekankan bahwa kuliner Indonesia menyembunyikan sejarah besar dalam rempahnya.

"Kita dapat belajar dari pengalaman kuliner mengenai Indonesia karena di Indonesia setiap pulau punya kekhasan bumbu sendiri," ujar Berlianto.

Ia juga mengingatkan bahwa rempah seperti lada, kayu manis, kapulaga, pala, dan cengkih telah menjadi komoditas utama dalam “jalur rempah” yang menghubungkan Asia hingga Eropa. Jalur itu, kata Berlianto, tidak hanya menjadi fondasi perdagangan global, tetapi juga pertukaran budaya antara Indonesia dan China.

Dengan harga 218 RMB (sekitar Rp518 ribu) untuk sesi “all you can eat”, pengunjung dapat menikmati hidangan autentik Indonesia dari 21 November hingga 7 Desember 2025, setiap Rabu hingga Minggu.

Ketika Rindu Rasa Indonesia Dihadapi Langsung di Dapur Hangzhou

General Manager Le Meridien Hangzhou Binjiang, Joey Jung, punya alasan sederhana mengapa acara ini digelar.

"Saya sangat suka makanan Indonesia tapi saya tidak dapat menemukan restoran Indonesia di sini," tuturnya.

"Jadi kami berpikir bagaimana kalau kita bawa saja chef dari Indonesia ke sini untuk memasak makanan Indonesia dan memperkenalkannya ke masyarakat di sini?"

Pria asal Korea Selatan itu mengaku jatuh cinta pada nasi goreng dan sate, dua ikon kuliner Indonesia yang dikenal dunia. Selera pedas masyarakat Korea membuat mereka mudah dekat dengan karakter bumbu Indonesia.

Chef Yuli Hariyanto, Sang Juru Rasa Nusantara di Hangzhou

Sosok di balik menu festival ini adalah Yuli Hariyanto, Executive Sous Chef JW Marriott Surabaya. Ia membawa konsep kurasi menu, memilih hidangan yang paling merepresentasikan keragaman Nusantara.

Gado-gado, ikan bumbu jimbaran, rendang, opor ayam, sate maranggi, dabu-dabu, hingga kolak pisang menjadi deretan menu yang disiapkan langsung olehnya.

"Saya sendiri yang membuat menunya, saya pilih yang memang ikonik dari Indonesia," ujar Yuli.

Yuli juga menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari program pertukaran chef yang rutin dilakukan grup Marriott. Ia bahkan membakar sate ayam secara langsung agar tetap segar saat disajikan.

Menariknya, tantangan terbesar bukan bumbu atau bahan sebab sebagian besar masih bisa ditemukan di Hangzhou tetapi soal tingkat kepedasan.

"Hanya memang di sini katanya kurang suka pedas, jadi untuk sambal saya kurangi pedasnya… masih menunggu respons dari pengunjung," ungkapnya.

Satu bahan yang wajib dibawa dari Indonesia? Terasi. Sisanya bisa dicari, meskipun membutuhkan tenaga ekstra karena masakan Indonesia biasanya memakan waktu lama.

Dari Dapur Multibahasa Hingga Transfer Ilmu

Meski terkendala bahasa, Yuli merasa terbantu oleh koki lokal. Ia menyebut adanya “kitchen language”—gestur universal yang berlaku di dapur mana pun.

Ia bahkan sudah menularkan beberapa resep kepada para chef lokal.

"Ya memang tujuan festival ini untuk mempopulerkan masakan Indonesia," tambahnya.

Satu hal yang belum hadir dalam festival ini adalah kopi Nusantara, sebuah peluang yang bisa digarap pada edisi berikutnya mengingat tren global terhadap single-origin coffee semakin tinggi.

Ini Adalah Branding Indonesia di Mata Dunia

Dalam konteks global, kuliner bukan hanya soal makanan—tapi identitas. Banyak negara maju menjadikan kuliner sebagai alat strategi budaya. Korea dengan K-Food, Jepang dengan washoku, hingga Thailand dengan Thai Select.

Indonesia mulai mengarah ke jalur serupa, dan festival seperti ini menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan kuliner Nusantara. Data dari World Tourism Organization menunjukkan bahwa 53% wisatawan global memilih destinasi berdasarkan pengalaman kuliner. Angka itu membuka peluang bahwa kuliner Indonesia bukan hanya daya tarik lokal, tetapi daya tarik pariwisata.

“Taste of Indonesia” di Hangzhou menjadi bukti bahwa makanan Indonesia dapat diterima di pasar internasional, terutama ketika disajikan dengan kualitas hotel bintang lima oleh chef profesional.

Indonesia tidak hanya hadir sebagai negara penghasil rempah tetapi sebagai pemilik karakter rasa yang dihormati dan dirayakan.