Rinjani Makin Populer, PNBP Capai Rp21,6 Miliar Tapi Sampah Naik Tajam
Senin, 17 November 2025 | 17:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Gunung Rinjani kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu magnet wisata alam terkuat di Indonesia. Hingga Oktober 2025, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp21,65 miliar, angka yang menunjukkan betapa kuatnya daya tarik gunung berketinggian 3.726 mdpl ini bagi para petualang dari seluruh dunia.
“Capaian PNBP ini menunjukkan tren positif,” kata Kepala Balai TNGR Yarman di Mataram, Senin, 17 November 2025.
Kenaikan pendapatan tersebut menegaskan bahwa wisata alam bukan hanya soal panorama indah, tapi juga memberi kontribusi signifikan bagi negara.
BACA JUGA
Kemenpar Promosikan Pariwisata Berkualitas Lewat Film Dokumenter Konservasi Penyu
Lanskap Gunung Gede Pangrango dan Dampak Nyata Daya Tarik Goalpara Tea Park
8 Destinasi Populer di Dunia Ini Tak Disarankan Dikunjungi pada 2026
"PNBP yang meningkat menjadi bukti bahwa pengelolaan wisata alam dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan dan kontribusi bagi pendapatan negara," lanjut Yarman.
Rinjani Surga Pendaki yang Kunjungan Tahunannya Terus Melonjak
Popularitas Rinjani sebagai ikon pendakian tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Hingga Oktober 2025, tercatat 72.528 pendaki telah menikmati jalur-jalur menantang seperti Senaru, Sembalun, dan Torean. Sementara itu, destinasi nonpendakian seperti air terjun, panorama geosite, dan area camping ramah keluarga menarik 43.502 pengunjung tambahan.
Angka ini bukan hanya menunjukkan tingginya minat traveler global, tapi juga menggambarkan bagaimana Rinjani kini bukan lagi sekadar tujuan pendakian hardcore. Banyak wisatawan datang hanya untuk menikmati sunrise, menjelajah air terjun, atau sekadar melarikan diri dari hiruk-pikuk kota.
“Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani telah menyedot perhatian lokal maupun mancanegara dengan total kunjungan yang terus naik mencapai 72.528 orang pada destinasi wisata pendakian,” ujar Yarman.
Di Balik Tingginya Kunjungan, Beban Pengelolaan Semakin Besar
Namun popularitas selalu membawa konsekuensi. Semakin banyak langkah kaki yang naik-turun Rinjani, semakin berat pula beban pengelola untuk menjaga keseimbangan alam.
Yarman mengingatkan bahwa meningkatnya kunjungan berarti meningkat pula tekanan terhadap lingkungan. Karenanya, konsep Go Rinjani Zero Waste kembali disorot sebagai solusi penting agar keindahan Rinjani tidak terkikis oleh tumpukan sampah.
Ia mengatakan semakin banyak pengunjung maka semakin besar beban pengelolaan.
Data TNGR menunjukkan total sampah dari aktivitas pendakian mencapai 28.410,64 kilogram, sementara sampah dari aktivitas non pendakian sebesar 989,22 kilogram. Jumlah yang cukup besar untuk kawasan konservasi yang seharusnya minim jejak manusia.
Menariknya, angka tersebut hanya mencakup sampah yang dibawa turun kembali, menandakan kesadaran wisatawan mulai membaik, meski masih perlu edukasi berkelanjutan.
"Data itu merupakan sampah yang dibawa turun kembali dari kawasan dan sebagian besar merupakan sampah anorganik," katanya.
Rinjani Bukan Sekadar Destinasi, Tapi Tanggung Jawab Bersama
Rinjani memikat karena keindahannya yang liar, dan kecantikan itu harus dijaga bersama. TNGR kembali mengimbau seluruh pengunjung untuk membawa turun sampahnya, mengikuti aturan pendakian, serta mendukung konsep wisata berkelanjutan.
"Dari Rinjani untuk Indonesia, mari terus dukung pariwisata berkelanjutan yang bukan hanya indah dipandang, tapi juga mensejahterakan dan menjaga alam," katanya.
Bagi para traveler muda, kisah Rinjani bukan sekadar perjalanan menuju puncak—ini tentang bagaimana jejak kita hari ini menentukan nasib landscape megah itu di masa depan.










