ID EN

8 Destinasi Populer di Dunia Ini Tak Disarankan Dikunjungi pada 2026

Rabu, 3 Desember 2025 | 16:00

Penulis: Arif S

Ilustrasi - Antartika
Ilustrasi - Antartika.
Sumber: Pixabay

Menjelang akhir tahun, banyak orang mulai menyusun rencana perjalanan dan memilih destinasi impian. Namun, sebelum memutuskan terbang ke belahan dunia mana pun, penting bagi wisatawan untuk menyadari sejumlah tempat disarankan tidak dikunjungi sementara waktu demi menjaga kelestarian alam dan keberlanjutan pariwisata global.

Situs panduan perjalanan internasional Fodor’s Travel merilis No List 2026, daftar berisi delapan destinasi yang disarankan untuk diberi jeda kunjungan. 

Daftar ini bukan larangan, melainkan ajakan reflektif agar wisatawan membantu memberi ruang bagi alam dan komunitas yang sedang tertekan overtourism.

Langkah ini bertujuan menjaga lingkungan, mendukung masyarakat lokal, serta memastikan destinasi yang kini rentan dapat pulih kembali. 

Pasalnya, ledakan kunjungan wisatawan tak terkendali dapat merusak ekosistem, mengganggu kenyamanan penduduk setempat, dan mengikis keindahan yang selama ini menjadi daya tarik para pelancong.

Berikut delapan destinasi dunia yang masuk ke dalam No List 2026:

1. Antartika: Benua Putih Terlalu Banyak Didatangi

Antartika adalah salah satu wilayah ekstrem yang selama ini memikat banyak penjelajah. Destinasi ini disarankan untuk dihindari.  

Dilansir Euronews, pada 1990-an jumlah kunjungan kurang dari 8.000 wisatawan per tahun. Namun menurut IAATO, kunjungan periode 2023–2024 melonjak menjadi lebih dari 124.000.

IAATO memang bertugas mengatur pariwisata, tetapi tidak memiliki kewenangan membatasi jumlah pengunjung. 

Kehadiran kapal-kapal non-anggota menambah tekanan pada ekosistem yang sudah rapuh. Karena itu, Antartika menjadi destinasi yang sebaiknya dibatasi demi menjaga kelestariannya.

2. Kepulauan Canary: Tercekik Overtourism dan Krisis Lingkungan

Kepulauan Canary di Spanyol menghadapi kemacetan lalu lintas, kenaikan harga hunian, dan kerusakan lingkungan. 

Sekitar 100 juta liter limbah tidak terolah dilaporkan mencemari pantai setiap harinya. Dominasi investor besar membuat masyarakat lokal kehilangan ruang hidup dan identitas budaya. Pulau yang indah ini kini berada di titik kritis.

3. Isola Sacra, Italia: Pesisir Terancam Proyek Besar

Pembangunan pelabuhan besar memicu risiko erosi, pencemaran, hingga kerusakan kawasan lindung. 

Infrastruktur yang belum memadai dapat memperparah polusi dan kemacetan dari kapal pesiar. Isola Sacra menghadapi tekanan besar dari industrialisasi pariwisata.

4. Meksiko: Ketika Gentrifikasi Menggerus Identitas Komunitas

Lonjakan wisatawan dan pekerja jarak jauh mengubah wajah kota di Meksiko. Penyewaan jangka pendek menyebabkan penggusuran penduduk lokal, kenaikan harga sewa, dan hilangnya identitas komunitas. 

Ketegangan sosial meningkat, membuat beberapa kawasan mulai dihindari.

5. Mombasa, Kenya: Krisis Lingkungan di Kota Pesisir

Mombasa kini menghadapi pencemaran pantai dan laut akibat pengelolaan limbah yang buruk. 

Kepadatan penduduk dan kemacetan mengganggu kenyamanan pengunjung. 

Kasus kejahatan terhadap wisatawan dan kurangnya data daya tampung menambah daftar kekhawatiran.

6. Montmartre, Paris: Ketika Keindahan Seni Terkikis Keramaian

Montmartre selama ini dikenal sebagai kampung seniman. Kini Montmartre menghadapi pariwisata berlebihan. 

Kemacetan, kenaikan harga properti, dan kerusakan budaya lokal membuat penduduk merasa kehilangan tempat tinggal layak. Kawasan ini berisiko kehilangan keasliannya.

7. Taman Nasional Glacier, AS: Gletser Kian Menyusut

Perubahan iklim mempercepat pencairan gletser di Taman Nasional Glacier, sementara fenomena “last chance tourism” justru membawa lebih banyak pengunjung. 

Kemacetan, polusi, dan gangguan habitat satwa memperburuk kondisi. Regulasi yang ada sejauh ini belum cukup untuk menjaga wilayah ini.

8. Wilayah Jungfrau, Swiss: Keindahan Alpen yang Terancam

Wilayah Jungfrau menghadapi tekanan dari pariwisata massal, perubahan iklim, serta krisis perumahan akibat maraknya penyewaan jangka pendek. 

Gletser ikonik terancam mencair, sementara suhu dan kepadatan pengunjung semakin menekan lingkungan dan masyarakat lokal.

Fodor’s berharap daftar ini membantu wisatawan mempertimbangkan destinasi alternatif yang lebih siap menerima kunjungan, serta berpartisipasi dalam upaya global menjaga keberlanjutan.

Karena pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang didatangi, tetapi juga jejak yang ditinggalkan.***