Kemenpar Promosikan Pariwisata Berkualitas Lewat Film Dokumenter Konservasi Penyu
Selasa, 24 Februari 2026 | 12:22
Penulis: Arif S

Sumber: Kemenpar
Di tengah dorongan global menuju pariwisata berkualitas, Indonesia memilih jalur cerita. Bukan sekadar kampanye promosi, melainkan narasi visual. Melalui kolaborasi lintas sektor, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memanfaatkan film dokumenter sebagai medium untuk memperkuat citra pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Upaya ini diwujudkan melalui sinergi Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Kolaborasi tersebut mengangkat Konservasi Penyu di Pantai Goa Cemara, Kabupaten Bantul, serta restorasi mata air di Desa Sidodadi, Kabupaten Malang.
Keduanya merupakan bagian dari program Bakti Lingkungan yang dijalankan sebagai corporate shared value BCA di bawah payung Bakti BCA.
BACA JUGA
Indonesia Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Arab Saudi, Alasannya Mengejutkan
Bukan Sekadar Destinasi Eksotis, Menpar Widiyanti Ungkap Tren Wisata Paling Diminati Saat Ini
20 Pelaku Wisata Lokal Finalis WISH 2025 Pamer Inovasi di Hadapan Investor Besar
Ketika Konservasi Menjadi Cerita Wisata
Film dokumenter yang dihasilkan dari sinergi tersebut tidak sekadar menampilkan lanskap indah, tetapi menghadirkan cerita manusia di balik upaya pelestarian alam.
Di Bantul, kamera mengikuti aksi penyelamatan populasi penyu yang dilakukan Kelompok Konservasi Penyu (KKP) Mino Raharjo. Sebuah gerakan akar rumput merawat telur, menetaskan tukik, hingga melepasnya kembali ke laut.
Fajar Subekti selaku konservator KKP Mino Raharjo, mengatakan kegiatan konservasi tidak dapat dipisahkan dari pengembangan pariwisata yang berdampak baik terhadap Kelestarian Alam.
“Kami memastikan pariwisata harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, sehingga wisatawan yang datang ke Goa Cemara mempunyai pengalaman dan perenungan yang mendalam tentang kehidupan sesama yang harus terus dijaga,” ujar Fajar.
Di pantai yang dikenal sebagai destinasi mass tourism di Daerah Istimewa Yogyakarta itu, pelepasan tukik bukan hanya atraksi, melainkan medium refleksi.
Desa Wisata Patihan yang berdampingan dengan KKP Mino Raharjo menawarkan paket wisata pelepasan tukik sebagai sarana eduwisata. Tak sekaar pengalaman rekreatif, tetapi juga berdampak bagi lingkungan dan masa depan.
Gusti Kanjeng Ratu Bendara selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY menegaskan arah baru tersebut.
“Yogyakarta ini dan Goa Cemara yang terkenal sebagai wisata mass tourism tentu harapannya dengan adanya konservasi tukik yang lebih profesional ini, wisatawan tidak hanya mandi air, bermain pasir, dan menikmati pantai saja, tetapi juga bisa mengedukasi diri dengan konservasi tukik dan bagaimana pelestarian alam untuk kelestarian penyu-penyu kita di masa depan.” kata GKR Bendara.
Restorasi Mata Air dan Gotong Royong
Narasi serupa juga hadir dari lereng hijau Kecamatan Ngantang, Malang. Di Desa Sidodadi, program restorasi mata air menjadi fokus dokumenter kedua. Kegiatan ini merupakan bagian dari pilar Bakti Lingkungan dalam program Bakti BCA.
Melalui kemitraan dengan Gabungan Kelompok Tani Hutan (GAPOKTANHUT), Kelanawisata, Jejakin, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), serta warga desa, upaya pelestarian dikemas secara visual oleh Kelana Wisata, kanal Promosi Pariwisata BPOB.

Sumber: Kemenpar
Kamera menangkap proses gotong royong masyarakat desa dalam merestorasi sumber air, sekaligus menyampaikan pesan tentang peran vital air bersih bagi keberlanjutan hidup.
“Program revitalisasi mata air ini merupakan pengembangan program penanaman pohon yang telah dilakukan oleh Bakti BCA. Jadi di tahun ini kita menanam pohon tersebar di 3 lokasi, salah satunya di Desa Sidodadi ini sebesar 21.000. Kemudian kita berpikir bahwa selain dari dampak karbon, ekologi lainnya apa lagi yang bisa kita lakukan untuk masyarakat saudara-saudara kita di Desa Sidodadi,” kata Titi Yusnarti VP CSR BCA.
Bagi warga, air bukan sekadar sumber daya, melainkan denyut kehidupan.
“Ini yang memanfaatkan itu seluruh desa, jadi air ini setelah dibawa pulang dari DAM itu kan penuh, jadi kalo sumber yang digunakan ini kecil, pengguna sawah juga kebingungan, bukan hanya di Sidodadi aja, ada beberapa desa yang memanfaatkan sumber air yang ada disini,” kata Joko Purnomo, Ketua GAPOKTANHUT Desa Sidodadi.
Di balik data dan program, ada kisah personal seperti Suwadi, akrab disapa Mbah Di yang sejak 1987 menelusuri sumber air di kawasan tersebut.
“Ini cita-cita saya, supaya masyarakat anak cucu saya bisa minum air jernih, jadi saya nelusur sumber-sumber itu saya kumpulkan, lalu saya bawa pulang”, katanya.
Film sebagai Strategi Pariwisata Naik Kelas
Lewat film dokumenter, pesan tentang pelestarian lingkungan tidak lagi berhenti pada laporan program, melainkan menjadi narasi menyentuh emosi.
Penyampaian pesan ini menjadi sarana untuk mengkampanyekan pariwisata berkualitas, sekaligus mendukung Program Kemenpar dalam mewujudkan Gerakan Wisata Bersih dan Pariwisata Naik Kelas.
Dalam pendekatan ini, promosi destinasi tidak hanya menonjolkan panorama, tetapi juga konservasi, gotong royong, dan keberlanjutan.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!