Melihat Rinjani dari Banyak Arah, Destinasi Non-Pendakian yang Mulai Mencuri Perhatian
Jumat, 14 November 2025 | 10:30
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Gunung Rinjani selalu memiliki cara tersendiri untuk memikat manusia. Setiap tahunnya, siluet gunung ini menjadi magnet bagi para pencari ruang, keheningan, dan petualangan. Hingga Oktober 2025, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat 72.528 pendaki telah melangkah menuju jalur-jalur yang membentang di tubuh gunung berapi aktif ini.
"Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani telah menyedot perhatian lokal maupun mancanegara dengan total kunjungan yang terus naik mencapai 72.528 orang pada destinasi wisata pendakian," kata Kepala Balai TNGR NTB Yarman di Mataram, Jumat, 14 November 2025.
Angka tersebut menegaskan satu hal bahwa Rinjani bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup yang terus mengundang rasa ingin tahu dan penghormatan dari para pelancong.
BACA JUGA
Tarif Naik Gunung Rinjani Naik, Pendakian Lebih Aman, Profesional dan Berkelanjutan
Gunung Rinjani Ditutup Sementara untuk Keselamatan Pendaki dan Pemulihan Ekosistem
Adventure Luxury Menjelajah Rinjani Hingga Himalaya dengan Sensasi Liar dan Mewah
Rinjani Lanskap yang Kembali Bernapas
Setelah sempat ditutup pada Februari 2025 akibat cuaca ekstrem, sejumlah destinasi non-pendakian di kaki Rinjani kembali dibuka, dan langsung disambut antusias. Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan itu mencatat 43.502 pengunjung, menandakan bahwa keindahan Rinjani tak hanya berada di jalur menuju puncak, melainkan tersebar dari lembah hingga perbukitan.
Beberapa di antaranya kini menjadi wajah baru dari ekowisata Lombok Timur:
- Tangkok Adeng, ruang hening yang menyuguhkan udara segar pedesaan
- Bornong Bike Park, destinasi bagi pecinta adrenalin dan permainan ritme medan
- Bukit Malang via Tombong Rebo, spot favorit yang menawarkan perspektif berbeda terhadap lanskap Rinjani
- Sebau di Desa Sapit, titik singgah yang menghadirkan panorama perbukitan nan lembut
- Savana Propok, hamparan luas yang berubah warna mengikuti musim
- Jalur sepeda Sembalun, yang kian populer sebagai arena berpetualang sekaligus menikmati horizon terbuka
"Jumlah pengunjung pada destinasi wisata non pendakian baik wisatawan lokal maupun mancanegara yakni 43.502 orang," katanya.
Kembalinya berbagai destinasi ini membuat Rinjani seolah bernapas lebih hidup, menghadirkan ruang alternatif bagi wisatawan yang sekadar ingin merayakan lanskap tanpa harus menembus jalur pendakian.
Musim Hujan: Babak Baru dalam Menapaki Rinjani
Namun keindahan selalu datang dengan catatannya. Memasuki musim penghujan, TNGR kembali mengingatkan setiap pendaki untuk lebih bijak membaca tanda-tanda alam.
"Hujan tiba, pendaki bijak bersiap dan tetap waspada saat melakukan pendakian di kawasan Gunung Rinjani," kata Yarman.
Rinjani di bawah hujan memiliki karakter berbeda. Kabut sering turun lebih cepat, jalur menjadi licin, dan vegetasi tampak lebih pekat. Alam membuka wajah lain yang lebih sunyi dan lebih jujur, namun juga menuntut kesiapan lebih.
"Rinjani tetap mempesona di bawah rinai hujan, tapi ingat, mendaki saat musim hujan butuh persiapan lebih dari sekadar tekad. Hujan bukan penghalang untuk mencintai alam, tapi pengingat untuk lebih bijak ketika beraktivitas di dalamnya."
"Hujan boleh turun, tapi jangan biarkan kewaspadaan ikut reda," katanya.
TNGR mengingatkan sejumlah persiapan penting bagi para pendaki:
- Memeriksa prakiraan cuaca dan status jalur sebelum keberangkatan
- Membawa perlengkapan antiair seperti jas hujan, cover bag, dry bag, dan sepatu yang memadai
- Menjaga suhu tubuh dengan jaket tebal, makanan tinggi kalori, dan termos air hangat
- Fokus pada kondisi jalur yang lebih licin dan rentan berubah akibat aliran air
"Fokus dan waspada pada jalur yang licin," katanya.
Hingga akhirnya, pesan paling mendasar tetap menjadi fondasi setiap perjalanan. Utamakan keselamatan, puncak bukan segalanya, pulang dengan selamat adalah segalanya, tetap waspada untuk keselamatan.
Rinjani sebagai Ruang Pertemuan Manusia dan Alam
Selama beberapa tahun terakhir, Rinjani tidak hanya menjadi tujuan pendakian, tetapi ruang dialog antara manusia dan alam. Pertumbuhan pengunjung baik pendaki maupun wisatawan non-pendakian mencerminkan bagaimana gunung ini terus menjadi simbol perjalanan batin, pencarian visual, hingga proses memahami kembali hubungan kita dengan lanskap.
Dari savana yang bergeser warna, lembah yang berembus pelan, hingga jalur-jalur batu yang menyimpan cerita ribuan langkah sebelumnya, Rinjani mengajari para pengunjung bahwa setiap perjalanan bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi menghargai proses di setiap undakan tanahnya.










