Tarif Naik Gunung Rinjani Naik, Pendakian Lebih Aman, Profesional dan Berkelanjutan
Minggu, 2 November 2025 | 11:08
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Kemenpar
Kabut tipis menari di lereng Sembalun ketika matahari perlahan menyingkap wajah Gunung Rinjani. Barisan pendaki tampak menyusuri jalur setapak menuju Pelawangan, tempat langit bertemu danau, tempat di mana manusia sering merasa kecil di hadapan semesta.
Gunung setinggi 3.726 meter di Lombok ini tak hanya memanjakan mata, tapi juga menguji fisik, mental, dan kini, kesiapan kita menghadapi perubahan besar dalam tata kelola wisata alam. Mulai 3 November 2025, tarif masuk kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) resmi naik.
Langkah ini bukan sekadar soal angka, tapi bagian dari upaya menjadikan Rinjani lebih aman, lebih profesional, dan lebih berkelanjutan.
BACA JUGA
Melihat Rinjani dari Banyak Arah, Destinasi Non-Pendakian yang Mulai Mencuri Perhatian
Gunung Rinjani Ditutup Sementara untuk Keselamatan Pendaki dan Pemulihan Ekosistem
Tren Wisata 2026: Wellness, Pegunungan dan Kuliner Lokal Kuasai Perjalanan Global
Kebijakan baru ini lahir dari Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 17 Tahun 2025, yang mengatur kelas tarif wisata alam di seluruh Indonesia. Bagi pendaki lokal, harga tiket kini berkisar antara Rp20.000 hingga Rp75.000 per hari, sementara turis mancanegara dikenai biaya Rp150.000 hingga Rp250.000 per hari.
Tak heran, keputusan ini menuai beragam tanggapan. Ada yang menilai terlalu mahal, ada juga yang melihatnya sebagai wajar jika dibarengi dengan peningkatan layanan dan keselamatan. Karena sejatinya, Rinjani bukan cuma tempat pelarian dari rutinitas namun juga kawasan konservasi yang menuntut rasa hormat.
Setiap langkah di jalur pendakian menyentuh ekosistem sensitif. Sebuah kesalahan kecil bisa berdampak besar, baik pada alam maupun keselamatan manusia. Kenaikan tarif diharapkan bisa menjadi kompensasi atas perbaikan sistem—mulai dari jalur, fasilitas, hingga pelatihan pemandu.
Setelah insiden tragis pada pertengahan 2025 yang melibatkan pendaki asal Brasil, pemerintah bergerak cepat memperkuat keamanan. Jalur curam seperti Sembalun, Torean, dan Pelawangan dibenahi, tangga batu dibuat lebih stabil, tali pengaman dan besi ditambah di titik-titik ekstrem.
Bagi pendaki yang pernah menaklukkan Rinjani, perubahan ini bukan kosmetik. Ini adalah bentuk tanggung jawab negara hadir untuk menjaga agar petualangan tetap punya batas aman.
Rinjani Lebih Aman, Tapi Tetap Liar
Setiap tahun, ribuan orang datang untuk merasakan magisnya Rinjani. Data Balai TNGR menunjukkan lebih dari 36.500 pendaki telah menapaki gunung ini hingga pertengahan 2025, dan lebih dari separuhnya adalah wisatawan asing.
Popularitas ini adalah peluang ekonomi besar, tapi juga tantangan serius. Kecelakaan, pendaki hilang, hingga kasus hipotermia masih kerap terjadi. Karena itu, pemerintah meluncurkan SOP Pendakian Rinjani 2025, yang mengatur ulang seluruh standar keselamatan.
Kini setiap pendaki wajib memiliki surat keterangan sehat, mengikuti safety briefing, dan bagi pemula, wajib didampingi pemandu bersertifikat. Rasio satu pemandu untuk lima pendaki diberlakukan ketat, sementara porter diwajibkan membawa perlengkapan standar darurat.
Pendaki di bawah usia 17 tahun tak bisa lagi naik sembarangan, harus ada izin orang tua dan pendamping khusus.
Di sisi lain, 371 pemandu dan porter lokal tengah mengikuti program sertifikasi nasional. Mereka bukan sekadar pengantar ke puncak, tapi juga penjaga nyawa. Dalam banyak insiden, para porterlah yang pertama menolong pendaki sebelum tim SAR datang. Karena itu, pelatihan Bersama Basarnas kini digelar rutin, menjadi bentuk investasi manusia yang tak kalah penting dari investasi infrastruktur.
Dengan sistem baru ini, Rinjani diharapkan bukan hanya indah dipandang, tapi juga aman dijelajahi, sebuah destinasi adventure travel berstandar internasional.
Teknologi, Konservasi, dan Spirit Lokal
Kenaikan tarif ini bukan akhir cerita, tapi awal dari transformasi digital dalam pengelolaan Rinjani. Pemerintah memperkenalkan aplikasi eRinjani, platform daring untuk reservasi, kuota, dan pembayaran tiket.
Sistem digital ini menekan praktik pendakian ilegal sekaligus menjaga kapasitas pengunjung agar tak melebihi daya dukung alam. Wisata non-pendakian seperti Air Terjun Jeruk Manis dan Otak Kokok Joben juga ikut menerapkan sistem tiket digital.
Tak hanya itu, jalur baru Aik Berik di Lombok Tengah kini dibuka, membuka akses wisata lebih luas dan pemerataan ekonomi bagi warga sekitar. Masyarakat lokal dilibatkan sebagai pemandu, porter, dan penyedia logistik, membuat Rinjani bukan hanya milik pemerintah, tapi milik bersama.
Di Sembalun, pemerintah desa juga menerapkan aturan wajib istirahat dan pemeriksaan kesehatan sebelum pendakian. Aturan sederhana, tapi krusial, terutama bagi wisatawan asing yang belum terbiasa dengan perbedaan ketinggian dan suhu ekstrem.
Langkah-langkah ini menegaskan bahwa pariwisata masa depan bukan cuma soal eksplorasi, tapi soal konservasi dan edukasi.
Gunung yang Mendidik
Rinjani bukan taman bermain, melainkan laboratorium alam. Di sini, setiap pendaki belajar tentang batas tubuh, disiplin, dan harmoni dengan alam. Nilai-nilai ini selaras dengan filosofi masyarakat Sasak, yang memandang Rinjani sebagai ruang sakral tempat manusia menghormati leluhur.
“Gunung ini bukan hanya indah, tapi juga beradab,” begitu ungkapan banyak warga lokal.
Idealnya, setiap rupiah dari tarif baru kembali ke gunung, untuk perawatan jalur, pengelolaan sampah, pelatihan porter, hingga riset mitigasi bencana. Transparansi dana dan pelibatan komunitas pendaki perlu dijaga agar kepercayaan publik tumbuh.
Karena menjaga Rinjani bukan tugas satu lembaga, melainkan tanggung jawab kolektif antara pemerintah, warga, dan para pencinta alam.
Mendaki Rinjani berarti belajar rendah hati di hadapan semesta. Tujuan mendaki Rinjani yang sesungguhnya bukan hanya perjalanan menuju puncak, tapi perjalanan menuju kesadaran bahwa alam tak perlu ditaklukkan, cukup dihormati.










