Lift Kaca di Nusa Penida: Antara Inovasi Wisata dan Komitmen Menjaga Alam Bali
Kamis, 30 Oktober 2025 | 17:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Bayangkan berdiri di atas tebing curam Nusa Penida, angin laut berhembus lembut, sementara di bawah sana terhampar birunya Pantai Kelingking yang memikat dunia. Tak lama lagi, pengalaman menakjubkan itu akan hadir dengan sensasi baru lift kaca setinggi 182 meter yang digadang-gadang menjadi salah satu fasilitas wisata paling ikonik di Bali bagian timur.
Namun, di balik inovasi yang memukau ini, pemerintah pusat dan daerah sedang memastikan satu hal penting, keindahan alam Nusa Penida harus tetap lestari.
Menjaga Keseimbangan Antara Wisata dan Alam
BACA JUGA
Ramai Wisatawan Mancanegara, Gerbang Handara Mendadak Jadi Spot Wajib di Bali
150 Desa Wisata di Sumatera Selatan Bakal Jadi Surga Baru Para Traveler
Olahraga dan Pariwisata Berpadu, Banyuwangi Buktikan Sport Tourism Bisa Dongkrak Ekonomi
Kementerian Pariwisata bersama Pemerintah Daerah Klungkung turut memantau perkembangan pembangunan lift kaca tersebut agar sesuai dengan regulasi dan prinsip keberlanjutan.
"Kemenpar akan turut mengawal proses pembangunan lift ini bersama Dinas Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung, dan pihak-pihak terkait untuk memastikan bahwa pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan menjaga serta memperhatikan kondisi lingkungan yang ada," ujar Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto.
Sejak tahap perencanaan pada 2023, pengawasan dilakukan secara ketat untuk menjamin pembangunan tetap memperhatikan aspek keselamatan, kebersihan, dan keberlanjutan lingkungan.
Daya Tarik Baru yang Membuat Penasaran
Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung menilai kehadiran lift kaca akan menjadi daya tarik baru yang mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Bayangkan saja, wisatawan bisa menikmati pemandangan laut dari dinding kaca sambil turun langsung ke bibir Pantai Kelingking yang selama ini hanya bisa dicapai dengan trekking curam.
Namun, di sisi lain, keaslian lanskap tebing dan pantai juga menjadi perhatian serius. Pemerintah menegaskan, setiap pengembangan destinasi harus tetap menjaga identitas budaya lokal dan keasrian alam agar tidak kehilangan pesona aslinya.
Membangun dengan Prinsip Hijau
Dalam arah kebijakannya, Kemenpar mengimbau agar pembangunan lift kaca menerapkan konstruksi hijau dan energi terbarukan.
"Kemenpar juga mengimbau pengembang lift untuk menerapkan standar konstruksi hijau selama proses konstruksi, dan ke depannya dapat memanfaatkan teknologi yang menggunakan sumber energi terbarukan supaya bisa meminimalisir dampak akan pemanasan global," kata Hariyanto.
Langkah ini sejalan dengan visi Pariwisata Berkelanjutan sebagaimana diatur dalam Permenparekraf Nomor 9 Tahun 2021, yang menekankan keseimbangan antara ekonomi, pelestarian alam, dan kenyamanan wisatawan.
Libatkan Warga Lokal, Jaga Kearifan Lokal
Tak hanya infrastruktur, pembangunan lift kaca ini juga akan melibatkan masyarakat lokal dalam operasional dan perencanaan.
“Seluruh aspek dalam pengembangan sektor pariwisata harus menerapkan prinsip berkelanjutan dan mengusung nilai-nilai budaya lokal agar tidak mengikis identitas budaya setempat,” tegas Hariyanto.
Dengan begitu, manfaat ekonomi dari pariwisata tidak hanya dirasakan oleh investor, tetapi juga warga sekitar.
Kunjungan Wisata Meningkat
Meski pembangunan masih berjalan, data menunjukkan jumlah wisatawan ke Nusa Penida meningkat.
“Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung, jumlah kunjungan wisatawan ke Nusa Penida meningkat dari 714.335 kunjungan pada tahun 2023 menjadi 1.108.791 kunjungan pada tahun 2024,” ungkap Hariyanto.
Prestasi global ikut memperkuat optimisme itu. Nusa Penida baru-baru ini dinobatkan sebagai Pantai Terbaik di Dunia versi Tripadvisor 2024 dan Trip Best 2025 Global Water Fun Attraction versi Trip.com.
“Dengan kunjungan wisatawan mencapai sekitar 3.000-6.000 per hari, Pemerintah Kabupaten Klungkung optimis target kunjungan wisatawan sebesar 1,5 juta dapat tercapai pada tahun 2025,” tambahnya.
Antara Kontroversi dan Harapan
Proyek lift kaca ini sempat menuai perdebatan di media sosial. Sebagian warga menilai struktur setinggi 182 meter dan jembatan sepanjang 64 meter tersebut menutupi panorama alami Pantai Kelingking.
Namun, jika pengawasan terus berjalan dan prinsip keberlanjutan benar-benar diterapkan, proyek ini berpotensi menjadi contoh harmoni antara inovasi pariwisata dan pelestarian alam.(Amtara)










