Festival Pinisi 2025: Saat Kopi dan Gula Aren Jadi Simbol Cinta Tanah Bulukumba
Rabu, 29 Oktober 2025 | 13:44
Penulis: Arif S

Sumber: Antara
Udara pagi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, terasa berbeda. Harumnya aroma kopi berpadu dengan gula aren menguar ke seluruh penjuru alun-alun Bulukumba. Bukan sembarang acara ngopi hari itu, ribuan orang berkumpul untuk menorehkan sejarah, pemecahan rekor MURI peserta terbanyak minum kopi dengan gula aren, sekaligus merayakan semangat kearifan lokal dalam Festival Pinisi 2025.
Tak tanggung-tanggung, belasan ribu peserta ikut ambil bagian dalam kegiatan yang awalnya hanya menargetkan 5.000 orang.
Dari masyarakat lokal, wisatawan domestik, hingga perantau yang datang dari berbagai daerah larut dalam satu keseruan. Menikmati kopi Bulukumba yang diseduh dengan gula aren murni sambil meneguhkan rasa cinta pada tanah sendiri.
BACA JUGA
South Kalimantan Tourism Islamic Fair 2025: Terobosan Baru Wisata Religi di Banjarmasin
Promosi Pariwisata Lewat Film, Cara Baru Menjual Keindahan Indonesia ke Dunia
Bukan Sekadar Naik Kereta Api, Ini Cara Baru Menikmati Liburan di Jawa Timur
“Semangat yang menegaskan bahwa Bulukumba bukan hanya daerah dengan laut yang indah dan tradisi maritim yang kuat, tetapi juga tanah yang subur, kaya hasil bumi, dan berdaya saing tinggi di bidang pertanian,” ujar Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf melalui keterangannya di Makassar, Rabu.
Festival Pinisi: Lebih dari Sekadar Pesta Laut
Bagi masyarakat Bulukumba, Festival Pinisi bukan hanya panggung budaya, tetapi juga cermin jati diri. Dari tahun ke tahun, festival ini menjadi magnet wisata, menampilkan pesona bahari, ekonomi kreatif, hingga kuliner lokal yang terus berkembang.
“Festival Pinisi telah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Bulukumba. Tahun demi tahun, festival ini terus berkembang, menampilkan pesona budaya, pariwisata, ekonomi kreatif,” kata Muchtar.
Namun, tahun ini terasa lebih istimewa. Di balik gelas-gelas kopi yang mengepul, tersimpan makna mendalam, penghargaan terhadap petani dan kearifan alam Bulukumba.
Kopi dan Gula Aren: Dua Rasa, Satu Cerita
Di balik keberhasilan rekor MURI ini, ada kisah sederhana namun bermakna. Dari pegunungan hijau di Bulukumba, para petani menanam kopi dan pohon aren dengan penuh kesabaran.
Dari tangan mereka lahir dua hasil bumi yang menjadi simbol kerja keras dan cinta terhadap tanah air.
“Dengan kegiatan ini, kita ingin menyampaikan pesan bahwa produk lokal Bulukumba adalah simbol kualitas, kerja keras, dan kecintaan terhadap tanah sendiri,” kata Andi Utta, sapaan akrabupati.
Pemecahan rekor MURI ini juga menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Bulukumba tetap teguh menjaga akar budayanya.
“Kita tidak kehilangan rasa bangga terhadap produk dan potensi daerah sendiri,” tegasnya
Kekuatan Gotong Royong dari Tanah Panrita Lopi
Keberhasilan ini tentu bukan kerja satu pihak. Pemerintah Kabupaten Bulukumba memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kerukunan Masyarakat Bulukumba (KM Bulukumba), komunitas kopi, pelaku UMKM, petani, dan ribuan warga yang berpartisipasi.
Tak hanya warga lokal, peserta juga datang dari berbagai kabupaten tetangga bahkan luar Sulawesi—membuktikan bahwa semangat Bulukumba menular jauh melampaui batas geografis.
“Rekor MURI ini diinisiasi Badan Khusus Perwakilan Kerukunan Masyarakat Bulukumba (BKP KM Bulukumba) Sulawesi Selatan, sebuah wadah kebersamaan yang menjadi jembatan antara masyarakat Bulukumba di perantauan dengan tanah kelahirannya,” jelas Hendra Pachri, Ketua BKP KM Bulukumba.
Baginya, KM Bulukumba bukan sekadar organisasi, tapi gerakan sosial yang menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong dan solidaritas.
“Di manapun masyarakat Bulukumba berada, baik di Makassar, di luar daerah, maupun di rantau lainnya, semangat Massikola tetap hidup, saling menguatkan dan membawa manfaat untuk kampung halaman,” tutup Hendra.
Dari Kopi ke Pariwisata Berkelanjutan
Lebih dari sekadar rekor, kegiatan minum kopi bersama ini menjadi simbol kebangkitan wisata lokal Bulukumba. Wisatawan yang datang tak hanya disuguhi panorama laut yang memukau, tetapi juga kehangatan budaya yang mengakar kuat.
Dengan harmoni antara laut, pegunungan, dan masyarakatnya, Bulukumba seakan mengajarkan satu hal bahwa wisata terbaik bukan hanya soal tempat, tapi tentang rasa bangga pada tanah sendiri.










