Promosi Pariwisata Lewat Film, Cara Baru Menjual Keindahan Indonesia ke Dunia
Jumat, 7 November 2025 | 11:33
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Fitra Ashari
Siapa bilang promosi pariwisata hanya bisa lewat baliho, media sosial, atau festival? Kini, film mulai dilirik sebagai “panggung berjalan” yang bisa memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan produk kreatif Indonesia ke mata dunia.
Ide ini datang dari Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, yang mendorong agar pemerintah lebih serius memanfaatkan film sebagai media promosi pariwisata dan ekonomi kreatif.
Film Sebagai Etalase Wisata Indonesia
BACA JUGA
City Tour Volkswagen, Cara Unik Kediri Promosikan Wisata
South Kalimantan Tourism Islamic Fair 2025: Terobosan Baru Wisata Religi di Banjarmasin
Film Baru Derby Romero Tampilkan Destinasi Prioritas Samosir dan Danau Toba
Dalam rapat dengar pendapat bersama perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif dan asosiasi perfilman di kompleks Parlemen RI, Jakarta, Kamis 6 November 2025, Lamhot menekankan bahwa film bisa menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan potensi wisata dan budaya Nusantara.
“Perfilman kita ini bisa inline dengan UMKM, inline dengan ekonomi kreatif,” ujar Lamhot.
Menurutnya, Indonesia bisa meniru cara negara lain dalam mengembangkan ekosistem perfilman yang kuat sekaligus berdaya promosi tinggi.
“Bagaimana Korea Selatan itu bisa menumbuhkan perfilmannya, dengan animasi seperti Jepang misalnya. Itu yang harus kita tumbuhkan,” katanya.
Lewat film, destinasi seperti Labuan Bajo, Danau Toba, atau Raja Ampat tak hanya muncul sebagai latar pemandangan indah, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang menyentuh hati penonton.
Kolaborasi Pemerintah dan Industri Film
Lamhot juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, rumah produksi, dan asosiasi perfilman dalam menghadirkan karya yang menampilkan keragaman budaya dan pariwisata Indonesia.
“Saya menginginkan, ini tidak semata-mata juga soal uang, tetapi bagaimana program pemerintah inline dengan kondisi ekosistem perfilman Indonesia. Itu yang mau kita capai,” katanya.
Artinya, dukungan pemerintah tak hanya soal pendanaan, tetapi juga kebijakan yang memudahkan produksi film di berbagai daerah. Dengan begitu, potensi wisata lokal bisa terekspos luas, sementara masyarakat di sekitar lokasi juga ikut merasakan dampak ekonominya.
Dampak Ekonomi: Dari Layar ke Lapangan
Tak bisa dimungkiri, industri perfilman juga punya nilai ekonomi besar. Lamhot menyebutkan, perputaran ekonomi di sektor ini mencapai Rp3,2 triliun pada 2024 dan diprediksi bisa tumbuh 10–15 persen per tahun.
Film yang mengambil lokasi syuting di daerah bukan hanya mempromosikan keindahan tempat tersebut, tapi juga menggerakkan perekonomian lokal. Mulai dari pekerja harian, penyedia katering, hingga pelaku UMKM bisa ikut kecipratan rezeki.
Anggota Komisi VII DPR Rahmawati juga menegaskan hal yang sama.
“Jangan sampai kita buatnya di luar negeri, buatlah di tempat kita sendiri, di Danau Toba misalnya, karena itu akan mensejahterakan lingkungan setempat, itu lebih bagus,” katanya.
Bayangkan, satu film dengan latar Danau Toba bukan hanya menjadi tontonan menarik, tapi juga promosi gratis bagi wisatawan untuk datang dan merasakan sendiri keindahannya.
Film Sebagai Wisata Emosional
Film punya kekuatan unik, bukan sekadar gambar bergerak, tapi juga pengalaman emosional. Saat penonton menyaksikan adegan matahari terbenam di pantai Bali atau ritual adat di Toraja, mereka tak hanya melihat keindahan—mereka merasa terhubung.
Inilah yang menjadikan film sebagai media promosi paling alami tanpa terasa, penonton ikut berwisata lewat layar. Ketika filmnya selesai, keinginan untuk datang langsung pun tumbuh dengan sendirinya.
Menuju Sinema Indonesia yang Promotif dan Produktif
Rapat Komisi VII DPR bersama Kementerian Ekonomi Kreatif juga membahas hal-hal penting lain, mulai dari akses penayangan film yang adil, masalah pembiayaan, hingga distribusi film. Semua ini bertujuan agar ekosistem perfilman Indonesia makin sehat dan berdaya saing.
Jika dikelola dengan baik, film bisa menjadi alat promosi yang lebih efektif dibanding iklan biasa. Ia bisa menjual pesona Indonesia tanpa terasa seperti menjual, melainkan mengundang dengan cerita.
Cahaya Kamera, Pesona Indonesia
Dari Danau Toba hingga Labuan Bajo, dari Toraja hingga Yogyakarta, Indonesia punya panggung alam yang tak ada habisnya. \
Yang dibutuhkan hanyalah kamera, naskah yang kuat, dan keberanian untuk menceritakan keindahan itu ke dunia.
Lewat film, Indonesia tak hanya jadi tempat wisata, tapi juga kisah yang hidup di hati penonton global.(Antara)










