Borobudur Ngangeni: PENTAS Budaya yang Mengidupkan Rindu dan Menyapa Wisatawan
Rabu, 29 Oktober 2025 | 09:53
Penulis: Arif S

Sumber: Kementerian Pariwisata
Borobudur tak pernah kehabisan cara untuk membuat siapa pun rindu untuk kembali. Setelah pesona matahari terbit dan magis relief candi, kini giliran “PENTAS Borobudur: Ngangeni” yang akan memanggil hati para pencinta seni dan budaya untuk datang ke Magelang, 31 Oktober 2025 nanti.
Bertempat di Amphitheater Museum dan Kampung Seni Borobudur, acara ini akan berlangsung sejak sore hingga malam hari, mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB, menghadirkan kolaborasi apik antara musik, seni tradisi, dan ekspresi budaya lokal.
Wisata Budaya yang Menghangatkan Jiwa
BACA JUGA
Festival Cap Go Meh 2026, Strategi Memperkuat Singkawang Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Budaya
Wisatawan AS ke Bali Tembus 274 Ribu, Kedubes Ingin Perjalanan Lebih Mudah
Magnet Budaya Suku Osing, Bikin Traveler Dunia Rela 'Blusukan' ke Desa Kemiren Setiap Tahun
“Program ini juga menjadi wujud apresiasi dan fasilitasi bagi para pelaku seni dan budaya lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata berkelanjutan," ujar Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenpar Vinsensius Jemadu di Jakarta, Selasa.
Tak sekadar tontonan, “PENTAS Borobudur: Ngangeni” adalah perayaan hidupnya budaya di sekitar Candi Borobudur.
Vinsensius menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan atraksi pariwisata berbasis budaya dan tradisi, sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata di Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) Borobudur.
Kolaborasi Lintas Generasi di Panggung Ngangeni
Tak hanya menampilkan kesenian tradisional, event ini juga menjahit harmoni antara generasi lama dan baru. Di panggung “Ngangeni”, akan tampil Aftershine, Ngatmombilung, dan Sekar Rimba Nusantara. Nama-nama itu dikenal mampu membawa musik dengan nuansa etnik modern.
Menambah semarak suasana, akan ada pula penampilan dari sanggar-sanggar lokal seperti Sanggar Erlangga Koperasi Medang Kamulan dan Sanggar Museum Kampung Seni Borobudur.
Borobudur seolah menjadi ruang temu yang memperlihatkan betapa budaya tak pernah berhenti berkembang, dan seni selalu menemukan cara baru untuk memanggil kerinduan—*ngangeni*, seperti temanya.
Kampung Seni, Destinasi Baru yang Hidup
Menurut Vinsensius, pemilihan Kampung Seni Borobudur sebagai lokasi acara bentuk dukungan Kementerian Pariwisata terhadap destinasi wisata baru di kawasan Candi Borobudur.
Tempat ini kini menjadi magnet baru bagi wisatawan yang ingin melihat langsung denyut kehidupan budaya masyarakat Magelang.
Setiap ukiran, lagu, dan tarian di kampung ini menjadi jendela kecil menuju jiwa Borobudur yang sesungguhnya, damai, hangat, dan penuh makna.
Gratis dan Terbuka untuk Semua
“Melalui PENTAS Borobudur, kami ingin menghadirkan ruang ekspresi bagi seniman dan masyarakat lokal, sekaligus mengajak wisatawan untuk merasakan langsung kehangatan budaya yang hidup di sekitar Borobudur,” lanjut Vinsensius.
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Siapa pun dapat merasakan atmosfer budaya khas Borobudur, lengkap dengan iringan gamelan, lampu panggung, dan aroma kuliner lokal yang menggoda.
Menjadi Magnet Baru Pariwisata Berkelanjutan
Lebih dari sekadar hiburan, PENTAS Borobudur adalah langkah strategis untuk memperkuat citra Borobudur sebagai destinasi unggulan berbasis budaya dan ekonomi kreatif.
“Dengan begitu, kegiatan ini dapat meningkatkan daya tarik wisata, mendorong pergerakan wisatawan, mengangkat budaya dan kearifan lokal, mendukung UMKM serta pelaku ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat citra Borobudur sebagai destinasi unggulan berbasis budaya,” kata Vinsensius.
Borobudur, Tempat Rindu Selalu Kembali
Ada sesuatu yang ngangeni dari Borobudur, entah dari lantunan musiknya, hangatnya senyum masyarakat, atau cahaya sore yang jatuh di batu-batu candi.
Melalui panggung budaya ini, Borobudur bukan hanya destinasi, tapi tempat rindu yang hidup.(Antara)










