ID EN

Magnet Budaya Suku Osing, Bikin Traveler Dunia Rela 'Blusukan' ke Desa Kemiren Setiap Tahun

Senin, 2 Februari 2026 | 14:05

Penulis: Respaty Gilang

Desa Kamiren
Gapura masuk Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Sumber: Antaranews

Banyuwangi tak hanya memiliki Kawah Ijen atau Pulau Merah, sebagai Destinasi Wisata yang wajib di kunjungi. Geser sedikit ke Kecamatan Glagah, di sana terdapat Desa Wisata Adat Osing Kemiren, sebuah "kapsul waktu" yang pada tahun 2025 lalu dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Dunia oleh UN Tourism (PBB).

Bukan cuma soal angka kunjungan yang mencapai 4.000 orang per tahun, tapi Kemiren adalah tentang bagaimana sebuah tradisi bisa bertahan di tengah gempuran modernisasi.

Kemiren bukan desa wisata "plastik" yang dibuat hanya untuk foto. Di sini, budaya adalah napas sehari-hari. Mulai dari kopi tradisi hingga ritual Mepe Kasur, semuanya punya filosofi. Kebangkitan pasca-pandemi pun jadi misi besar warga setempat.

Ketua Pokdarwis Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Moh Edy Saputro, menceritakan ambisi besar mereka:

"Sebelum pandemi, kunjungan di Desa Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu orang, itu terjadi pada 2019. Namun, setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam Pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu," paparnya.

Bagi para penggemar slow traveler, Kemiren adalah surga. Bayangkan, bangun pagi di salah satu dari 40 homestay lokal yang merupakan rumah adat asli Suku Osing. 

Terdapat sekitar 22 UMKM Kuliner dan kerajinan, serta 18 sanggar kesenian yang aktif menjaga ritme kehidupan adat Osing tetap berdenyut.

"Adanya wisata juga membuat sanggar kesenian tetap hidup, dan di Desa Kemiren, sanggar kesenian berjumlah 18, semuanya adalah sanggar yang melestarikan kebudayaan adat Suku Osing," tambah Edy.