ID EN

Slamet Trail Run 2025, 1000 Runner Taklukkan Gunung Tertinggi di Jawa Tengah

Senin, 20 Oktober 2025 | 19:57

Penulis: Respaty Gilang

Ilustrasi maraton alam
Ilustrasi peserta Slamet Trail Run 2025.
Sumber: Freepik

Udara dingin pegunungan, aroma tanah basah, dan lintasan penuh tantangan menjadi saksi semangat 1.000 pelari dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara dalam Slamet Trail Run 2025. Digelar Minggu pagi 19 Oktober 2025, di kawasan wisata D’Las, Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, ajang ini bukan sekadar lomba lari tapi perayaan gaya hidup sehat, cinta alam, dan sport tourism yang semakin populer di Tanah Air.

Gunung Slamet, dengan puncaknya yang menjulang di ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl), jadi arena utama bagi para runner. Mereka menantang diri di tiga kategori 5K, 14K, dan 25K, menyusuri jalur berbatu dan berpasir yang legendaris di lereng gunung tertinggi di Jawa Tengah ini.

“Lima peserta lain dari luar negeri. Di antaranya dari Zimbabwe,” ungkap Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah, Muhamad Masrofi, saat konferensi pers di Hotel Owabong, Sabtu lalu. 

Menurutnya, 56 persen peserta berasal dari sekitar Jawa Tengah, sementara 32 persen datang dari luar provinsi — bukti bahwa event ini sukses menarik perhatian pelari lintas daerah dan negara.

Sport Tourism yang Bikin Ekonomi Bergerak

Event ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, yang ingin memperkuat ekosistem sport tourism di wilayahnya.

“Harapannya ini bisa jadi ajang trail run unggulan di Indonesia dan internasional. Kalau sukses, maka bisa dikembangkan dengan Lawu Trail Run, Sumbing Sindoro Trail Run, dan lainnya,” kata Masrofi.

Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, yang menilai sport tourism sebagai cara cepat menggerakkan ekonomi daerah.

“Yang cukup akseleratif mendatangkan wisatawan, salah satunya sport tourism,” ujarnya.

Menurutnya, Slamet Trail Run bukan cuma ajang olahraga, tapi juga magnet ekonomi baru. 

“Yang datang ini akan makan, menginap, berbelanja. Itu tentu saja akan menopang ekonomi di Jawa Tengah,” tambahnya.

Tak berlebihan, karena sepanjang akhir pekan, hotel dan penginapan di Purbalingga dilaporkan penuh. Restoran lokal pun ramai dikunjungi peserta dan pendukung acara.

Gunung Slamet, Medan Keras yang Dicintai Para Runner

Salah satu daya tarik utama event ini adalah karakter medan Gunung Slamet yang ekstrem. 

“Karakteristik di Gunung Slamet itu terkenal di atasnya banyak pasir dan batu. Ini bagian yang dipromosikan, karena para trail runners ini suka tantangan,” ujar Sumarno.

Rute Slamet Trail Run menawarkan variasi jalur dari hutan pinus, area bebatuan, hingga tanjakan terjal di kawasan dataran tinggi. Tak heran, banyak pelari menyebut lintasan ini “brutal tapi indah.”

Bagi para pencinta trail run, medan seperti ini bukan sekadar tantangan fisik, tapi juga pengalaman spiritual menguji stamina sekaligus memberi ketenangan batin saat berpacu di tengah alam bebas.

Event Perdana yang Langsung Dapat Apresiasi

Slamet Trail Run 2025 adalah event perdana di Kabupaten Purbalingga, namun sukses besar. Antusiasme masyarakat dan pemerintah daerah tinggi.

“Ini membanggakan bagi kami Pemkab dan masyarakat Purbalingga. Ini merupakan event bergengsi karena pesertanya seribu orang dari lintas pulau bahkan mancanegara,” kata Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Mukodam.

Ia menambahkan, kegiatan ini memiliki efek ekonomi luar biasa. 

“Hotel-hotel di Purbalingga naik drastis semua penuh. Mudah-mudahan akan mendongkrak kunjungan wisata di Purbalingga, tidak hanya tahun ini tapi juga ke depan,” ujarnya.

Sumarno menegaskan, ajang seperti Slamet Trail Run adalah cara baru untuk mempromosikan gaya hidup sehat sekaligus memperkenalkan keindahan alam Jawa Tengah.

“Trail run bukan sekadar olahraga, melalui event ini Pemprov Jateng ingin mempromosikan pola hidup sehat, dan menumbuhkan rasa kecintaan kepada alam,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu hal yang penting dalam keberhasilan event seperti ini adalah dukungan masyarakat di sepanjang rute. 

“Temen-temen di Purbalingga ini perlu perhatian bahwa event lari yang diharapkan para runner adalah masyarakat yang dilewati, dia welcome apa tidak, memberi semangat, ini membuat runner terkesan. Runner melewati daerah yang masyarakatnya ketus, cuek, ya gak akan balik lagi,” katanya sambil tertawa.

Kehadiran Runner Profesional dan Internasional

Ajang ini juga diikuti Rizki Dwi Kurniawan, atlet trail run Indonesia berpengalaman di kancah internasional, yang tampil di kategori 25K bersama Sekda Sumarno. Sementara empat mahasiswa asal Zimbabwe dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto turut berpartisipasi di kategori 5K dan 14K, menambah warna internasional di ajang ini.

Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan komunitas lari, Slamet Trail Run 2025 menjadi simbol kebangkitan sport tourism Jawa Tengah. Event ini bukan cuma soal siapa yang paling cepat mencapai garis finis, tapi tentang bagaimana olahraga, alam, dan semangat lokal bisa berlari seirama menuju masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.