ID EN

Sports Tourism, Mesin Baru Pariwisata Indonesia, dari Mandalika hingga Stadion Bersejarah

Senin, 8 Desember 2025 | 13:14

Penulis: Respaty Gilang

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Sumber: Antaranews

Indonesia selama ini dikenal lewat pesona pantai, gunung, dan budayanya. Tapi diam-diam, ada satu tren baru yang lagi menggeliat dan mulai mengubah cara orang menjelajahi negeri ini yang dikenal dengan istilah sports tourism. 

Tren ini bukan sekadar ikut lari 10K di kota lain atau sekadar nonton pertandingan. Sport tourism menjelma menjadi alasan orang bepergian, memperpanjang liburan, sampai membuka peluang ekonomi baru.

“Dalam ekosistem pariwisata terdapat banyak travel theme yang dapat dikembangkan, dan salah satu yang paling menjanjikan adalah sports tourism. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan segmen ini,” terangnya.

Gambaran besar ini ditegaskan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. 

Dalam siaran resminya, ia menegaskan bahwa olahraga kini bukan lagi aktivitas di stadion semata, melainkan magnet berperjalanan.

Momentum itu terlihat jelas saat berlangsungnya Indonesian Sports Summit 2025. Di acara tersebut, Widiyanti menyoroti bagaimana dunia internasional melihat olahraga sebagai alasan kuat untuk traveling. 

Tren ini bukan sekadar hipotesis. Expedia mencatat 44 persen wisatawan rela terbang ke luar negeri demi menghadiri event olahraga, dengan pengeluaran rata-rata 1.500 dolar AS per kunjungan.

Secara global, sports tourism bahkan memberi kontribusi besar. UN Tourism mencatat segmen ini menyumbang 10 persen dari total belanja wisata 2023, dan potensi itu diperkirakan makin meledak hingga 17,5 persen dalam beberapa tahun mendatang. Melihat angka ini, Indonesia sebenarnya tinggal memoles potensi yang sudah ada.

Destinasi Olahraga Sebagai Magnet Baru Wisata

Indonesia punya modal besar, stadion bersejarah, arena bergengsi, dan lokasi event yang tersebar dari kota besar hingga destinasi eksotis. Tantangannya tinggal bagaimana mengubahnya menjadi pengalaman wisata yang berkesan.

Widiyanti sendiri mencontohkan cara destinasi lain mengemas fasilitas olahraga menjadi atraksi. Anfield Stadium di Liverpool, misalnya, tidak hanya hidup saat hari pertandingan. Stadion itu membuka tur museum, tur ruang ganti, hingga pengalaman storytelling bagi penggemar sepak bola. Hasilnya luar biasa, hampir 400 ribu kunjungan sepanjang 2024, masuk top 10 persen destinasi dunia versi Tripadvisor, dan bahkan dinobatkan sebagai UK’s Best Landmark 2024.

Inspirasi seperti itu mulai dikejar Indonesia. Stadion Gelora Bandung Lautan Api kini sedang dibahas untuk dikembangkan dengan pendekatan serupa, melibatkan Pemerintah Kota Bandung, DPRD Jawa Barat, hingga World Bank. Jika terealisasi, traveler bisa punya “Anfield versi Bandung” destinasi yang bisa dikunjungi kapan pun, bukan hanya saat ada pertandingan.

Tren Gaya Hidup Bikin Sports Tourism Makin Relevan

Survei Nielsen 2025 menunjukkan 86 persen masyarakat kini proaktif menjaga kesehatan, jauh di atas rata-rata global 70 persen. Artinya, banyak orang yang aktif, bergerak, dan melakukan traveling untuk mendapatkan pengalaman sehat sekaligus menyenangkan.

“Potensi ini menciptakan pasar besar bagi penyelenggaraan event lari, bersepeda, triathlon, yoga, hingga festival wellness,” kata Widiyanti menegaskan.

Pocari Sweat Run Mandalika 2025 menjadi contoh paling mencolok. Event lari itu menarik lebih dari 9.000 peserta, dengan 70 persen di antaranya datang dari luar Lombok. Efek domino langsung terasa, okupansi hotel meningkat, restoran penuh, transportasi ramai, dan UMKM lokal ikut hidup. Total dampak ekonominya mencapai Rp85,5 miliar.

Bagi traveler, Mandalika saat itu berubah total. Bukan cuma jadi tempat untuk menikmati pantai dan bukit, tapi juga menjadi panggung aktivitas yang memadukan olahraga, hiburan, dan eksplorasi alam.

“Ke depan, yang ingin kami dorong adalah konsistensi. Event seperti ini harus berkelanjutan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan terus-menerus,” terang Widiyanti.

Bahkan, ia mendorong konsep pengalaman holistik, menggabungkan olahraga dengan konser, kuliner lokal, hingga festival budaya.

Lonjakan Wisatawan Jadi Sinyal Positif

Optimisme pemerintah bukan tanpa dasar. Tahun ini, pergerakan wisatawan domestik diperkirakan tumbuh 18,89 persen, sementara wisatawan mancanegara naik 10,13 persen. Dengan makin banyaknya event berkelas yang memikat minat traveler aktif, kontribusi pariwisata terhadap PDB diprediksi meningkat menjadi 3,96–4 persen.

Untuk mencapai itu, Widiyanti menyuarakan kolaborasi lebih kuat. Ia mendorong klub dan federasi olahraga agar naik kelas dalam penyelenggaraan event, membuka ruang bagi investor, dan memperkuat komunitas sebagai tulang punggung pariwisata olahraga.

Dengan kata lain, masa depan pariwisata Indonesia bukan hanya tentang melihat keindahan, tapi juga merasakannya lewat aktivitas yang membuat traveler terhubung lebih dekat dengan budaya, komunitas, dan energi sebuah destinasi.