Tren Wisata 2026: Wellness, Pegunungan dan Kuliner Lokal Kuasai Perjalanan Global
Kamis, 11 Desember 2025 | 12:30
Penulis: Arif S

Sumber: Pixabay
Di tengah perubahan gaya hidup global dan kebutuhan akan pengalaman lebih bermakna, cara orang berwisata pada 2026 diprediksi akan memasuki babak baru. Wisatawan akan memilih perjalanan yang mencerminkan minat pribadi dan ritme hidup mereka, bukan sekadar berburu destinasi viral di media sosial.
Hal itu berdasarkan laporan terbaru bertajuk "2026 Travel Trends" dari Skyscanner. Dikutip dari Hospitality Net, CEO Skyscanner Bryan Batista menegaskan masa depan pariwisata akan lebih personal dan terkurasi.
“Entah seseorang memilih perjalanan karena ingin menginap di hotel tertentu, mengikuti retret membaca, menambahkan rutinitas kecantikan ke jadwal perjalanan, atau bepergian bersama keluarga, kini perjalanan menjadi lebih terarah, bermakna, dan unik,” ujar Batista dalam laporan yang dikutip dari Breaking Travel News.
BACA JUGA
Penutupan Jalur Pendakian Semeru Diperpanjang, Wisata Bromo dan Ranu Regulo Tetap Buka
Slamet Trail Run 2025, 1000 Runner Taklukkan Gunung Tertinggi di Jawa Tengah
Tarif Naik Gunung Rinjani Naik, Pendakian Lebih Aman, Profesional dan Berkelanjutan
Temuan ini menunjukkan wisatawan global bergerak menuju perjalanan lebih intim, autentik, dan terkoneksi dengan kesejahteraan diri.
1. Glowmads: Kebangkitan Wisata Wellness dan Kecantikan
Skyscanner menemukan 27 persen wisatawan berencana menggabungkan aktivitas self-care dalam perjalanan mereka mulai dari spa, skin retreat, hingga ritual kecantikan khas lokal.
Tren ini mencerminkan wisata bukan lagi sekadar pelarian, tetapi sarana pemulihan tubuh dan mental.
Di balik angka itu, tumbuh dorongan untuk mencari destinasi yang menawarkan keseimbangan antara eksplorasi dan pemulihan.
2. Shelf Discovery: Supermarket sebagai Destinasi Kuliner Baru
Perubahan besar juga terjadi pada cara wisatawan berinteraksi dengan kuliner lokal. Sebanyak 43 persen traveller lebih memilih menjelajahi supermarket, pasar tradisional, dan kios makanan jalanan ketimbang restoran mewah.
Fenomena ini menandakan pencarian terhadap rasa lokal otentik, terjangkau, dan mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
3. Altitude Shift: Pelarian Menuju Pegunungan dan Alam Terbuka
Keinginan untuk keluar dari ritme kepadatan kota ikut mendorong lonjakan minat terhadap destinasi pegunungan.
Skyscanner mencatat peningkatan pencarian akomodasi dengan pemandangan gunung, sebagai bentuk pelarian ke udara sejuk dan ruang lebih luas untuk bernapas.
Pegunungan bukan lagi hanya sebagai tempat pendakian, tetapi ruang kontemplatif untuk mereset diri.
4. Perjalanan Berdasarkan Minat Pribadi
Tren lain yang menguat adalah perjalanan berbasis minat khusus, mulai dari bookbound travel bagi para penikmat literasi, solo travelling, hingga perjalanan lintas generasi merayakan kebersamaan keluarga besar.
Semua ini memperlihatkan bagaimana wisata menjadi medium untuk memelihara hubungan, baik dengan diri sendiri maupun orang lain.
IndustrI Pariwisata Menyambut Arah Baru Wisatawan
Perubahan pola perjalanan menjadi pesan kuat bagi industri pariwisata. Wisatawan tidak lagi puas dengan destinasi “instagramable”.
Mereka mencari pengalaman relevan secara emosional, sesuai gaya hidup, dan memiliki makna personal.
Mulai dari paket wellness hingga kelas memasak lokal, dari retret literasi hingga program eksplorasi alam, sektor pariwisata dituntut lebih fleksibel, spesifik, dan dekat dengan kebutuhan individual.
Tren 2026 menunjukkan perjalanan bukan lagi sekadar perpindahan lokasi, tetapi perjalanan batin lebih personal, sebuah pencarian diri di tengah dunia yang terus berubah.***










