ID EN

Konflik Iran Guncang Pariwisata Timur Tengah, Kerugian Rp9,7 Triliun per Hari

Senin, 18 Mei 2026 | 12:30

Penulis: Arif S

Wisata Timur Tengah
Ilustrasi - Danpak konflik Iran terhadap wisata Timur Tengah.
Sumber: Envato

Industri Pariwisata Timur Tengah mulai merasakan dampak besar dari konflik yang terus meningkat di Iran. Menurut laporan terbaru dari World Travel & Tourism Council (WTTC), sektor perjalanan dan wisata di kawasan tersebut kehilangan sedikitnya 600 juta dolar AS per hari atau sekitar Rp9,7 triliun dari pengeluaran wisatawan internasional.

Kerugian ini dipicu terganggunya penerbangan, menurunnya kepercayaan wisatawan, serta terhambatnya konektivitas antarnegara di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut mengakibatkan permintaan Perjalanan Wisata mengalami penurunan signifikan.

Timur Tengah memiliki peran penting dalam industri perjalanan global. Kawasan ini menyumbang sekitar 5 persen dari total kedatangan wisatawan internasional dunia dan menangani sekitar 14 persen lalu lintas transit internasional global.

Karena itu, setiap gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada industri Wisata Dunia. Efeknya dirasakan bandara, Maskapai Penerbangan, hotel, perusahaan penyewaan mobil hingga operator Kapal Pesiar.

Sejumlah pusat penerbangan utama di Timur Tengah seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Bahrain menjadi wilayah paling terdampak. Keempat hub penerbangan tersebut biasanya melayani sekitar 526 ribu penumpang setiap hari.

Namun, meningkatnya konflik membuat beberapa bandara mengalami penutupan sementara dan gangguan operasional. Kondisi ini menghambat konektivitas regional maupun internasional secara signifikan.

Analisis WTTC didasarkan pada proyeksi sebelum konflik terjadi. Pada 2026, Timur Tengah diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 207 miliar dolar AS dari belanja wisatawan internasional sepanjang tahun.

Karena besarnya nilai ekonomi tersebut, gangguan kecil dalam arus perjalanan saja sudah cukup untuk memicu dampak finansial besar bagi seluruh ekosistem pariwisata.

Meski menghadapi tantangan berat, WTTC menilai sektor perjalanan dan pariwisata tetap menjadi salah satu industri paling tangguh di dunia. 

Berdasarkan pengalaman dari berbagai krisis sebelumnya, sektor wisata dinilai mampu pulih relatif cepat jika pemerintah dan pelaku industri bergerak bersama.

Presiden dan CEO WTTC, Gloria Guevara, menegaskan sejarah menunjukkan sektor pariwisata dapat bangkit kembali hanya dalam waktu sekitar dua bulan setelah insiden keamanan, asalkan ada dukungan yang tepat dari pemerintah dan industri.

“Perjalanan dan pariwisata adalah salah satu sektor paling tangguh. Dampak dari pengeluaran wisatawan internasional di seluruh Timur Tengah sangat besar dan rata-rata mencapai sekitar 600 juta dolar AS per hari, tetapi sejarah menunjukkan bahwa sektor ini dapat pulih dengan cepat, terutama ketika pemerintah mendukung para pelancong melalui bantuan hotel atau proses pemulangan,” ujar Gloria dikutip dari wttc.org.

Ia menambahkan komunikasi yang jelas, koordinasi kuat antara sektor publik dan swasta, serta langkah-langkah memperkuat keamanan dan stabilitas menjadi faktor penting untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan.

WTTC yang mewakili sektor swasta global saat ini terus memantau perkembangan situasi dan menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah serta pelaku industri wisata untuk menjaga keselamatan wisatawan dan ketahanan sektor pariwisata dunia.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!