Perjalanan Lintas Generasi Jadi Gaya Baru Liburan Keluarga Modern
Rabu, 20 Mei 2026 | 15:30
Penulis: Arif S

Sumber: Envato
Liburan Keluarga kini bukan lagi sekadar perjalanan biasa, melainkan ruang untuk merajut kembali waktu bersama lintas generasi. Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia, Pauline Suharno, mengungkapkan tren Perjalanan Wisata masyarakat Indonesia saat ini semakin bergeser ke arah kelompok kecil dan lebih personal.
Pola perjalanan besar menggunakan bus rombongan perlahan mulai ditinggalkan, digantikan konsep multi-generation trip, menghadirkan pengalaman lebih intim dan fleksibel.
“Masyarakat sekarang lebih suka bepergian dalam kelompok kecil, bukan lagi dalam jumlah besar seperti zaman dulu yang berbus-bus. Dan banyak sekali yang multi-generation traveler, jadi orang tua, kakek-nenek, anaknya, cucunya, karena mereka lebih menghargai waktu bersama,” ujar Pauline di Jakarta, Senin.
BACA JUGA
Siapa Partner Liburan Ideal? Jawaban Penelitian Ini Bikin Banyak Orang Terkejut
Microcation: Tren Liburan Singkat yang Lagi Digandrungi Anak Muda
BBWI Travel Fair x BINA 2026 Tawarkan Konsep Liburan Edukatif untuk Keluarga
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan lintas generasi berkembang menjadi tren global.
Banyak keluarga kini menjadikan perjalanan sebagai bentuk investasi emosional, bukan sekadar Agenda Wisata.
Pauline menjelaskan tren tersebut mulai menguat sejak masa pandemi, ketika keluarga merasa perlu kembali membangun kedekatan setelah lama terpisah pembatasan sosial.
Dalam banyak kasus, perjalanan keluarga juga didukung secara finansial generasi yang lebih mapan, seperti orang tua atau kakek-nenek.
Perubahan pola perjalanan itu turut memengaruhi gaya liburan. Jika dulu wisata identik dengan jadwal padat dan kunjungan maraton dari satu tempat ke tempat lain, kini wisatawan justru mencari ritme lebih lambat dan nyaman untuk semua usia.
“Yang tua udah enggak bisa jalan sampai malam, anak-anak juga mungkin bangunnya agak siang santai. Karena buat mereka berlibur bukan lagi seperti dulu yang bangun jam 6, jam 7 makan pagi, jam 8 sudah keluar hotel, buru-buru balik hotel lagi setelah makan malam. Udah enggak seperti itu, tapi lebih ke experiencing (pengalaman) sendiri,” katanya.
Di era digital, perjalanan keluarga semakin dipermudah teknologi. Wisatawan lebih mandiri berkat kehadiran aplikasi transportasi online, navigasi digital, hingga sistem pembayaran elektronik, menjadikan perjalanan terasa seamless.
Destinasi seperti Singapura dan Malaysia menjadi contoh bagaimana Wisatawan Indonesia kini lebih percaya diri bepergian tanpa bantuan penuh agen perjalanan.
Transportasi Publik yang efisien, akses informasi digital, dan kemudahan bahasa membuat perjalanan menjadi lebih praktis bahkan bagi keluarga besar lintas usia.
Namun, menurut Pauline, agen perjalanan tetap memiliki ruang penting, terutama untuk destinasi yang memiliki tantangan bahasa dan sistem pembayaran berbeda.
Negara seperti China masih menjadi pasar potensial bagi travel agent Indonesia karena wisatawan membutuhkan bantuan dalam navigasi lokal maupun transaksi.
“Jadi kami menjual paket-paket wisata di mana mengalami kesulitan bahasa, masih dibutuhkan jasa travel agent untuk menjalankan suatu perjalanan paket wisata. Contoh ke China, problem bahasa mau bayar enggak ngerti caranya. Nah itu pasar besar buat travel agent Indonesia,” jelasnya.
Di balik perubahan tren ini, satu hal tetap menjadi inti perjalanan, kebutuhan manusia untuk berbagi pengalaman bersama orang terdekat.
Dari perjalanan santai di kota modern hingga liburan keluarga di destinasi budaya, wisata lintas generasi menjadi cara baru memperlambat waktu di tengah dunia yang terus bergerak cepat.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!