'Jetset Jog' Ketika Lari Menjadi Gaya Hidup Global Traveler
Rabu, 15 Oktober 2025 | 19:51
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Pagi baru saja merekah di tepi sungai Seine, Paris. Suara langkah sepatu beradu dengan batu jalanan tua, berpadu dengan embusan udara musim semi. Di antara para pelari yang menembus kabut ringan itu, banyak wajah asing turis dari berbagai negara yang memilih memulai hari bukan dari meja sarapan hotel, melainkan dari garis start maraton.
Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup sementara. Di tengah maraknya tren wellness travel, lari kini berubah menjadi ekspresi baru bagi para pejalan kelas dunia. Mereka bukan hanya pelari, tapi juga penjelajah. Mereka bukan hanya memburu waktu tercepat, tapi juga kenangan dari kota-kota yang mereka taklukkan dengan langkah.
Menurut laporan National Geographic tahun 2025, tren “running vacation” atau “race-cation” masuk dalam daftar aktivitas perjalanan yang tumbuh paling cepat di dunia. Pencarian daring terkait “workout holidays” melonjak hampir 50 persen hanya dalam setahun terakhir. Data ini diperkuat oleh laporan tahunan Strava Year in Sport 2024, yang mencatat kenaikan hingga 59 persen partisipasi di klub-klub lari global.
BACA JUGA
Jakarta Incar Status Kota Lari Asia Tenggara, Event Sport Tourism Diperkuat
Ribuan Pelari Mandalika Last Sunday Run Galang Donasi untuk Korban Banjir Sumatra
Sukses Gaet 3.000 Peserta, WMN Sun Sweat Party Buktikan Potensi Sportainment
“Bagi banyak pelari modern, ikut maraton di luar negeri bukan sekadar olahraga itu pernyataan identitas,” tulis laporan tersebut.
Dari New York hingga Tokyo, dari Cape Town hingga Bali, lari menjadi medium baru untuk mengenal dunia sekaligus diri sendiri.
Di Eropa, antusiasme serupa tergambar jelas. Traveldailynews.com mencatat bahwa pencarian warga Inggris untuk ikut Cape Town Marathon naik 353 persen dalam setahun, sementara Paris Marathon melonjak hampir 80 persen. Angka yang mencerminkan satu hal, pelari kini rela menempuh ribuan kilometer hanya untuk menjejakkan sepatu di rute impian.
Fenomena serupa juga terasa di Asia. China kini menjadi salah satu episentrum maraton dunia. Laporan China Road Running Events Blue Book 2023 mencatat ada 699 ajang lari jalan raya sepanjang tahun itu, dengan partisipasi jutaan pelari. Tak lagi hanya di kota besar seperti Beijing atau Shanghai, tetapi juga di kota menengah seperti Chengdu dan Xiamen yang menjadikan maraton sebagai magnet pariwisata baru.
Di sisi lain, event legendaris seperti London Marathon terus memecahkan rekor. Untuk edisi 2026, panitia menerima lebih dari 1,1 juta pendaftar dari berbagai negara, angka tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan lomba itu. Di Barcelona, sepertiga peserta Half Marathon 2023 adalah pelari internasional dari lebih dari 100 negara.
Gaya hidup ini kemudian melahirkan generasi baru yang kerap disebut “jetset jogger” mereka yang menjadikan sepatu lari dan paspor sebagai dua benda wajib dalam koper perjalanan. Lari bukan lagi kegiatan yang dipisahkan dari liburan, tetapi justru menjadi alasan utama untuk bepergian.
Kombinasi antara kesehatan, eksplorasi, dan pengalaman kultural membuat tren ini tumbuh eksponensial di kalangan profesional muda dan traveler kelas menengah atas. Banyak hotel dan agen perjalanan kini menawarkan paket khusus bagi pelari, lengkap dengan rute latihan, fasilitas recovery, hingga menu nutrisi pra-lomba.
Lari, dalam konteks ini, bukan hanya aktivitas fisik. Ia menjelma menjadi simbol keseimbangan antara tubuh dan jiwa, antara kecepatan dan ketenangan. Sebuah cara untuk menjelajahi dunia dengan ritme yang lebih personal dengan setiap langkah menjadi kisah.
Di Indonesia sendiri, geliat serupa mulai terasa. Maraton di Bali, Borobudur, dan Mandalika menjadi destinasi bagi pelari mancanegara yang mencari sensasi tropis. Lari di antara pura, sawah, atau garis pantai bukan hanya olahraga, tapi pengalaman spiritual tersendiri.
Dan seperti halnya perjalanan, setiap lari meninggalkan jejak bukan hanya di rute, tapi di hati mereka yang melakukannya. Jetset joggers tahu bahwa dunia terlalu luas untuk ditaklukkan hanya lewat peta. Karena kadang, cara terbaik untuk mengenal tempat baru adalah dengan berlari melaluinya.










